Simply Post About Honesty, Bravery, And Hypocrite

234112SDCMana yang lebih baik : Jujur tapi hancur, atau membohongi hati nurani (yang kemudian menjadi ‘muna’) dengan alasan yang sangat klise : takut kehilangan pekerjaan.

Aku, lebih memilih untuk berkata jujur ketika MY BB menanyakan padaku via YM karena beliau sedang berada di luar kota (bahkan mungkin ke semua karyawan yang sedang bertugas jaga siang itu) tentang kinerja MY MG (yang kurang lebih baru 3 bulan ini menjabat – kenaikan pangkat dari ADM) demi peningkatan kualitas perusahaan. MY BB meminta agar kami mengutarakan jawaban yang jujur dan meminta kami agar tidak takut dalam mengutarakan jawaban karena ini hanya sebagai bahan evaluasi (kurasa ini taktik agar kami tidak takut menjawab pertanyaannya). Aku yang mulanya ragu2 (mempertimbangkan akibat yang akan terjadi jika aku terlalu jujur), akhirnya mengutarakan jawaban yang amat jujur setelah beliau mengulang petanyaannya beberapa kali. Aku berani bertaruh bahwa cuma aku lah yang memberikan jawaban yang cukup kontroversial seperti itu.

Saat ini beritanya mungkin sudah menyebar di kalangan karyawan bahkan sampai di unit lain. Aku tau banyak diantara teman kerja yang kurang suka padaku dan men-stempel aku “suka membantah”, padahal hanya membela diri (tak bisa kah mereka membedakannya?). Hanya ada segelintir orang yang mengartikan sikapku ini sebagi sesuatu yang positif. Namun apapun pendapat mereka tentang aku, itu hak mereka, yang melihat buku hanya dari sampulnya, atau handphone dari casing-nya..

Yang jelas, tak ada kebencian sedikitpun yang tersirat untuk MY MG seperti dugaan kebanyakan orang. Aku justru salut padanya yang begitu tegas dan tegar, di usia yang semuda itu. Loyalitas, dedikasi dan perjuangannya untuk perusahaan sangatlah besar. Operasional 6 cabang perusahaan ada ditangannya. Aku bahkan pernah begitu simpatik padanya ketika dia menangis setelah dimarahi MY BB dan lari ke unit tempatku bekerja untuk menyembunyikan air matanya. Aku yang sesama wanita mungkin tidak akan sanggup menghadapi itu dan pastilah aku akan mengundurkan diri saat itu juga. Tapi dia tetap bertahan. Hebat, bukan?

Tapi diluar itu semua, setiap orang, aku, dia, atau anda yang membaca postingan ini, pasti mempunyai kekurangan. Dan salahkah aku yang mengatakan bahwa kekurangan dia adalah “kadang berlebihan”?

Aku pernah begitu terkejut ketika seorang teman mengatakan dengan lugas seperti ini : “mana pernah saya suka sama dia? Saya dari dulu tidak suka sama dia (MY MG)“. Hanya saja karena posisi kami yang paling rendah di perusahaan, dan takut kehilangan pekerjaan, maka dipendamnya saja uneg-unegnya itu… “membohongi hati nurani”, batinku.

Well, aku siap jika akhirnya harus mengahadap MY BB untuk dimintai keterangan, aku siap jika akhirnya SP 2 melayang ke wajahku, aku siap jika akhirnya harus kehilangan pekerjaan ku, hanya karena sebuah penuturan lugas… Adilkah???

Satu pemikiran pada “Simply Post About Honesty, Bravery, And Hypocrite

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s