Lihat Lebih Dekat

Gelap !

Kesan pertama yang kutangkap ketika kuinjakkan sepatuku yang sudah bau tanah secara harfiah maupun kiasan di Kota Daeng ini tahun 2008 lalu, ketika keluar dari Pelabuhan Soekarno-Hatta. Yang terlintas di otakku saat itu adalah “serem banget ini kota, masa gak ada lampu jalannya…”. Saat itu kami sedang melintasi jalan Urip Sumiharjo [nama jalan ini baru kuketahui beberapa bulan setelah tinggal di sini] menuju Jalan Perintis Kemerdekaan. Dan tidak ada yang bisa kulihat selain gedung Graha Pena-nya Makassar, itu pun gak terang-terang amat. Jangankan lampu jalan, tiang lampunya aja belom ada!

Dua tahun aku tinggal di kota ini, coba tebak perubahan apa yang paling signifikan? Here it goes…. RUKO. Berjajar indah di kiri-kanan jalan poros. Berwarna-warni. Contoh yang paling dekat saja, di depan kontrakanku. Dulu, di depan sana hanya terbentang lahan kosong-kusut-suram. Tapi sekarang, sederet rumah toko berwarna biru, sebiru langit, berbaris indah di sana. Memantulkan desing berisik kendaraan bermotor hingga sampai ke dalam kamar!

ruko

Ruko di Jalan Perintis Kemerdekaan KM 12 [keramaian di foto itu bukan karena adanya kecelakaan, tapi pada saat foto ini diambil, di sudut sana ada yang jualan jamu sambil sulap-sulapan gitu… πŸ˜€ ]. Ini baru setengah dari kompleks ruko yang sebenarnya.

Ruko di Jalan Perintis Kemerdekaan KM 8 [depan carrefour tamalanrea]

Perubahan lainnya adalah kemacetan. Bukan berkurang, tapi justru bertambah parah. Dulu, jalan poros yang menghubungkan Bandara Internasional Hasanuddin dengan Makassar kota [aku menganalogikannya sebagai jalan Ahmad Yani di Surabaya] masih merupakan jalan dua arah, yang ketika jam berangkat dan pulang kantor macetnya naudzubillah. faktor pendukung kemacetan ini antara lain sopir pete-pete [baca : angkot] yang berlomba-lomba menggaet penumpang dengan gas pol-rem pol yang sangat membahayakan keselamatan pengendara kendaraan bermotor lainnya. TAPI, sopir angkot di sini memiliki stok kesabaran yang luar biasa dalam menunggu penumpang.

Bayangin aja, pernah suatu pagi, aku sedang sangat terburu-buru mengejar kuliah jam pertama. begitu sampai di sebuah gang dekat STMIK Dipanegara, sopir angkot ini berhenti [berikut angkot dan penumpang di dalamnya, tentu saja]. Aku sibuk celingak-celinguk melihat sekeliling jalan. “ga ada calon penumpang, ngapain nih sopir berhenti gak jelas gini?” tanyaku dalam hati. Mulai panik. Sepuluh menit lagi mata kuliah jam pertama dimulai. Dan masih membutuhkan waktu paling cepat lima belas menit untuk sampai di kampus hijau, UMI [tentu saja kalo gak macet atau kelamaan nunggu penumpang].

30 detik-an lewat dikiiiit.. mataku menangkap sesosok gadis seusiaku [sepertinya], dan kelihatannya anak kuliahan juga, baru saja turun dari becak di mulut gang. Dia segera menyeberang. [Tapi emang dasar ini jam sibuk, nyebrangnya otomatis agak susah]. Ooh, rupanya ini dia calon penumpang yang ditunggu abang sopir angkot. Sang sopir dengan setianya menunggu, tapi si penumpang udah ngulet-ngulet panik. Asli, dalam hati aku nebak itu cewek gak bakalan naik angkot ini. Beberapa menit yang bagaikan berjam-jam berlalu sudah, si cewek udah berhasil nyebrang di kedua ruas jalan. Dan… Taaraaaaaaa……. itu cewek beneran gak naik! Dia ternyata naik angkot 07, bukan angkot jurusan makassar mall yang aku tumpangi. And you know what, abang sopirnya tanpa penyesalan-kegondokan-kekesalan sama sekali memacu kembali angkotnya. Kalem!

Another case, masih soal kemacetan. Aku selalu mengeluhkan kekacauan di Pintu 1 Unhas setiap aku melintasinya. Pintu 1 Unhas itu merupakan pertigaan yang cukup ramai. But there’s no traffic light.Sebenarnya, beberapa bulan lalu di sana sudah dipasang traffic light. Tapi, beberapa waktu lalu ketika marak terjadi demonstrasi 100 hari pemerintahan SBY, massa menghancurkan traffic light yang masih sangat baru itu. Hasilnya, mengagumkan! Jika dilihat dari arah Daya yang medannya sedikiiiiit agak tinggi, semua kendaraan tumplek blek di situ, berebut ingin maju. Dan warna biru [warna angkot di makassar, biasa juga disebut semut biru] mendominasi kekacauan itu, karena jumlahnya yang overload.

Keganjalan hati yang lain adalah tentang pengendara motor. Mungkinkah mereka terobsesi pada Valentino Rossi, Dani Pedrosa, Jorge Lorenzo, atau entah siapa pembalap yang lain sehingga mereka seenaknya sendiri menganggap seolah-olah jalan raya ini adalah sebuah sirkuit Moto GP? Cara berkendara mereka yang suka meliuk-liuk, memacu motor dengan kecepatan tinggi dan baru ngerem mendadak kalo ada mobil di depannya itu sangat sangat dan sangat membahayakan keselamatan diri sendiri dan bahkan pengendara lainnya. Apalagi di malam hari, dengan suara knalpot yang meraung-raung, tanpa lampu sorot lagi. Selain karena gelap, faktor tersebut juga lah yang membuatku malas berkendara di malam hari.

Beberapa bulan belakangan, seiring dengan pelebaran jalan di jalan Perintis Kemerdekaan, telah dipasang juga lampu jalan beserta tiangnya, Tapi… tidak semua lampu menyala di malam hari. Paling-paling nyalanya selang seling. 1 lampu nyala, 3 lampu gak nyala. di urutan lampu ke 5 baru nyalalagi. begitu seterusnya..

Aah.. masih banyak hal yang membuatku kurang nyaman dan perlu adaptasi di kota ini. But I have to respect this place and everything in it, because my parents look for livelihood in this city. And I my self, of course, get education in the biggest private universty in this city..

Satu hal yang menurutku sangat menarik dari kota ini adalah rumah adatnya. Sangat eksotik. Rumah panggung yang dibangun dari kayu.

Rumah Adat Makassar, @beteng Somba Opu

Rumah Adat Gowa, @Benteng Somba Opu

C’mon, keep on moving, Makassar bisa tonji!!

5 pemikiran pada “Lihat Lebih Dekat

  1. I just learned about your internet site a few days ago and I have been checking it out regularly. You have a wide range of good informative stuff on the site and i also really like the kind of your website at the same time. Keep up the great work!

  2. I just learned about your internet site a few days ago and I have been checking it out regularly. You have a wide range of good informative stuff on the site and i also really like the kind of your website at the same time. Keep up the great work!

  3. yah begitulah makassar ini.udah tua tp belum berkembang.orang-orang yang diatas hanya menjanjikan “dengan mereka makassar bakal maju seperti kota-kota besar(bisa jadi seperti NCY)”tapi nyatanya mereka tak bekerja maksimal untuk Kota Anging Mamiri Tercinta.tapi saya bangga dengan kebudayaannya,cotonya,dan dialeknya yang sederhana dan okkots.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s