Mengikuti Arus Mimpi

Ingin jadi polwan!! Dengan mantap kujawab pertanyaan Ibu Guru ketika Beliau menanyakan aku ingin jadi apa kalau sudah besar nanti. Tapi itu duluuuu… waktu masih duduk di bangku imut sebuah Taman Kanak-Kanak.

Aku sendiri sudah lupa kenapa waktu itu aku ingin jadi polwan. Biasanya, anak- anak ingin menjadi seperti tokoh idolanya. Tapi setelah kuingat-ingat lagi, film kartun or acara anak-anak yang lagi booming pada masa itu [sailormoon, wedding peace, doraemon, satria baja hitam dengan belalang tempurnya, ultraman, power ranger, de ka ka] gak ada tokoh polwan sama sekali. Tapi mungkin juga sih.. tokoh-tokoh tersebut kan hero-hero gitu.. Nah, berhubung kita tinggal di Indonesia yang gak ada power ranger-nya, jadi aku bercita-cita menjadi polwan biar bisa jadi hero *maksa*

But now.. everything’s changing. Aku juga sudah lupa kapan aku mulai melupakan cita-cita menjadi polwan itu. Yang jelas, bukan karena tinggi badanku yang tidak memenuhi syarat, tapi mungkin memang benar itu cuma cita-cita konyol seoang anak TK… And now.. jika ada yang bertanya apa cita-citaku, aku masih saja bingung harus menjawab apa. Kebimbangan ini ada hubungannya juga dengan : “kenapa aku memilih jurusan sastra inggris?”

Honestly, banyak komentar ktitis yang dengan gamblang diungkapkan padaku seperti :

“kuliah di sastra inggris? mau jadi apa? ujung-ujungnya jadi penerjemah, editor, atau paling banter jadi guide, itu kalo muka mendukung loh ya…”

Ada juga yang seperti ini :

“anak sastra kerjaannya nulis melulu ya….”

Oke, I don’t wanna be a hypocrite one. I choosed English Department because I’m not good in Exact subject such as Math, Chemist, and of course Physic. I’m also not good in social subject such as History, Psicology, Economy. I choosed this subject just because I like it, eventhough I’m not good enough in speaking. Jadi, apa salahnya aku memilih jurusan yang memang aku suka dan bisa? Bukankah itu lebih baik daripada memilih jurusan yang tidak disukai dan dikuasai, tapi hanya karena jurusan tersebut cukup bonafit di sebuah universitas? Yang terjadi berikutnya adalah menyesal dan ingin pindah jurusan. Bukankah itu malah sia-sia? Wasting time, wasting money, wasting energy.

Oke, lupakan masalah itu. yang lebih penting untuk dipikirkan adalah : jadi apa aku setelah lulus nanti? Memang, banyak orang mengira lulusan sastra inggris ujung-ujungnya jadi penerjemah, editor, guide, atau ngajar di sejumlah english course. Tapi apa salahnya jika kita memiliki profesi seperti itu? Apakah jiak kita menjadi seorang penerjemah, kita tidak dianggap sukses? Apakah persepsi sukses kebanyakan orang itu adalah : duduk di kursi direktur, yang kerjanya cuma menandatangani bertumpuk-tumpuk kontrak kerja, kemana-mana diantar sopir dengan mobil keluaraan terbaru, jadwal meeting dengan klien yang bejibun, sampai melupakan keluarga.. Atau seperti ini, mengenakan jas putih, keluar masuk ruang operasi, sampai ketika sakit pun bisa mengobati diri sendiri.. atau, yang lagi ngetren sekarang adalah berebut kursi di Senayan, dan jika sudah duduk nyaman disana lupa akan janji-janji manis pada rakyat.. Itukah persepsi sukses manusia jaman sekarang?

Honestly, I really don’t know what I wanna be. Aku cuma menjalani hidupku sekarang apa adanya. Kalaupun nanti aku menjadi penerjemah, penulis, atau apa. Aku hanya ingin agar aku nyaman menjalaninya.

Dan, jika sekarang ada yang bertanya apa mimpiku. dengan bangga aku akan menjawab : “Sederhana saja. Berkantor di rumah, menyelesaikan novel yang sedang kutulis sambil tetap bisa mengasuh anak-anakku, dan tentunya tetap bisa mengantar suamiku berangkat kerja, juga selalu bisa menyambutnya ketika dia pulang.

Sounds simple ?

Iklan

2 pemikiran pada “Mengikuti Arus Mimpi

  1. jalani aja…tiap orang punya peran sendiri2

    ada yg bilang gini,”behind a great man,there’s always a greater woman”. kalo mbak punya mimpi simpel seperti itu,berarti mbak sdh siap u/ jadi greater woman behind a great man 🙂

  2. saya sangat setuju dengan mu kawan,bahwa memilih sesuatu yang kamu sukai dan kuasai jauh lebih baik ketimbang memilih sesuatu yg sama sekali tak disenangi dan dikuasai.Tp ketahuilah kawan bahwasanya menjadi sukses bukan berawal dari mimpi tp tekad.tekad mu yg membawa mu kpd kesuksesan bukan mimpi.ini dunia nyata bukan dunia mimpi atau dongeng bahkan sinetron.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s