Arsip Bulanan: Agustus 2011

#kamu

berawal dari main hashtag #kamu di twitter…

#kamu  itu inspirasi tanpa batas di setiap puisi amatirku

#kamu adalah nasabah dalam tabungan rinduku

#kamu itu salah satu kepingan puzzle hidupku

#kamu adalah pemeran utama dalam setiap imajiku

#kamu itu selalu tak terduga

#kamu adalah sesuatu yang sangat jauh hingga tak tersentuh

#kamu itu siluet di setiap senja yang kunikmati di jendela kamarku

#kamu itu seseorang yang nantinya akan kuhadiahi doorprize dari tabungan rinduku

#kamu itu seperti jerawat, tiba-tiba datang tapi gak ilang2

#kamu itu selalu membuatku ingin boker setiap kali melihatmu

#kamu itu.. siapa kamu? siapa aku? kamu dimana? aku dimana??

*ternyata amnesia*

Unspoken Words

Duduk termenung di bawah kerlip bintang yang terhampar di langit makassar. Kuacuhkan dingin yang menyelinap ke pori-pori. Dari balkon rumahku, hingar bingar kendaraan sepanjang tamalanrea raya terdengar. Kulirik layar ponselku. 22.55 wita.
“Kamu pasti datang”. Ucapku lirih menyemangati diri.
Meski dua jam kumenunggu namun tak ada tanda-tanda kedatanganmu. Satu hal yang membuatku bertahan adalah sms terakhirmu “tunggu aku” yang kubaca sekali lagi. Masih ada seutas harap disana..

23.15 wita.

Deru suara motormu yang sangat kukenal terdengar. Ah, akhirnya kamu datang. Aku tersenyum lega. Masih di balkon rumahku, kudengar tapak-tapak sendal jepitmu meniti tangga, dan samar-samar kudengar perbincanganmu dengan abangku yang mengantarkanmu ke lantai dua. Maaf, sengaja aku tak menyambutmu di depan pintu. Aku terlalu sibuk menenangkan diri, berusaha sebisa mungkin mengembalikan detak jantung ke ukuran normal. Tapi rasanya aku tak punya cukup waktu untuk itu. Karena tiba-tiba kamu sudah berdiri di hadapanku, dengan senyum khas yang selalu kurindukan.
“Kamu makin gemuk aja”. Itu sapaan pertamamu.
Aku bahkan tak bisa lagi mengingat kapan tepatnya terakhir kali kita bertatap muka.
“Kamu..”. Terlalu banyak yang ingin kuungkap, namun hanya kata itu yang terucap.
“Akhirnya kamu datang juga..” lanjutku singkat.
“Maaf membuatmu menunggu, tiba2 aku harus kerumah pacarku”.

Duerr!
Kenapa tiba2 ada guntur di tengah langit yang cerah begini? Dan anehnya guntur itu hanya menghantam kepalaku. Aku menghela napas panjang. Gelisah mulai menjalari kalbuku.
“it’s okay.. I know you so well. . Itu kalimat yang keluar dari mulutku. Hanya tak ingin kamu menangkap adanya semburat luka di sana.

Lalu demi melihat senyum yang menghias wajahmu, mendengar kamu memanggilku dengan panggilan ‘dodol’ seperti dulu, semua berubah menjadi cerita suka cita. Tak henti kuterkikik geli melihat ekspresimu berusaha menghabiskan puding produk gagal buatanku.

Aku dan kamu. Di bawah kerlip bintang dan hingar bingar kota makassar. Diam2 aku mencatat satu lagi kenangan indah yang tercipta bersamamu. Meskipun selalu ada pertanyaan yang mengganjal di sudut hati. Atas nama apakah kedekatan kita selama ini?

dan..
“Aku sayang kamu”
hampir saja kalimat keramat itu terucap dari mulutku ketika kulepas kepergianmu di pelataran parkir rumahku, tengah malam kala itu

 

Makassar, 1 juli 2011