Arsip Bulanan: November 2011

Satu Malam Lagi Bersamanya

Teringat masa kecilku

Hampir setiap malam di ruang tamu

Ayah berdansa bersama ibu

Dan kemudian berdansa denganku

 

Dia akan mengangkat tubuhku kemudian diajaknya aku berputar-putar

Hingga aku tertidur dalam gendongannya

Dalam tidurku bisa kurasakan betapa kokoh lengannya ketika menggendongku meniti tangga satu per satu menuju kamarku di lantai dua

 

Aku yang masih sangat polos waktu itu

Aku yang merasa sangat dicintai kala itu

 

Tuhan, jika aku punya satu kesempatan lagi dalam hidupku

Maka tak akan kusiakan kesempatan itu

Aku hanya ingin mengulang kenangan bersama ayah

Ketika kami berdansa di malam yang hampir mencapai puncak

Maka aku akan memilih satu lagu yang tak kan pernah berakhir

Ya, aku tak ingin tarian ini berakhir

Sungguh tak ingin

 

Tuhan, tidak kah kau lihat air mata ibuku?

Air mata kerinduan

Air mata kehilangan

Air mata pilu

Tangisan pilu yang tak sengaja kudengar dari balik pintu itu

Betapa dia ingin satu-satunya orang yang dicintainya kembali

Betapa dia ingin berdansa dengan ayah kembali

 

Seketika itu pula aku berdoa Berdoa pada-Mu

Berdoa untuknya, melebihi doa untuk diriku sendiri

 

Inilah yang selalu kuimpikan, Tuhan

Dalam setiap lelap tidurku

Kuinginkan satu malam lagi bersamanya

Berdansa kembali dengan ayah di tuang tamu itu

Hanya satu malam lagi bersamanya

Dengan lagu yang tak kan pernah berakhir

Dengan tarian yang tak akan pernah berakhir

 

*ditulis untuk #11projects11days di @nulisbuku, walaupun tidak masuk karena terlambat ngirimnya

Tentang Rasa Syukur

“Kamu menuntut sesorang menjadi apa yang kamu mau, tapi kamu memaksa dia untuk menerima kamu apa adanya. It’s just not fair at all” | seorang mantan

Dalam sebuah tete a tete via telepon, seorang mantan kekasih saya berkata seperti itu. Kalimat itu seolah menampol saya. Membuat saya sadar betapa saya begitu egois dalam banyak hal.

Saya terlalu asik dengan keegoisan saya hingga saya tidak peduli apakah orang-orang yang pernah singgah dalam hati saya merasa nyaman akan keberadaan saya. Yang saya pikirkan hanyalah, saya menginginkan sosok yang sempurna di mata saya. Tanpa memikirkan apakah dia nyaman dengan saya atau tidak.

Yang selalu saya katakan adalah

“Inilah aku apa adanya. Kalo kamu sayang sama aku, pasti kamu bisa nerima aku apa adanya.”

Sounds familiar?

Di sinilah letak ketidakseimbangan itu. Saya meminta seseorang menerima saya apa adanya, tapi saya tidak bisa menerima dia apa adanya. Mungkin inilah penyebab kisah cinta saya dengan berbagai tipe manusia gampang sekali kandas. Tidak ada take and give. Yang ada hanyalah saya terus menerus menerima, tanpa berusaha memberi. Yang ada hanyalah saya terus menerus ingin dimengerti, tanpa pernah mau mengerti. Mungkin ini juga penyebab sampai sekarang saya masih belum menemukan seorang tambatan hati.

Saya sadar, bahwa ada banyak hal yang harus berubah dalam diri saya. Apalagi yang menyangkut soal hati. Saya tidak mungkin terus menerus bersikap seperti anak SMP yang masih ingin mencoba bagaimana rasanya menjalin hubungan dengan si A dan seminggu kemudian dengan si B, mengingat usia saya yang sudah dua puluh sekian, usia gadis yang -di kampung halaman saya- sudah pantas menikah.

Kemudian saya mulai meraba dan kemudian menyadari, bahwa ternyata selama ini saya kurang bersyukur. Saya kurang bersyukur atas apa yang saya miliki. Hingga ketika saya menjalin hubungan dengan seseorang, setiap hal kecil yang kurang saya suka, selalu menjadi nilai minus di mata saya. Padahal, semua orang pasti tahu akan pepatah “tak ada gading yang tak retak” maupun “nobody’s perfect”.

Lalu pada suatu malam yang lain, suatu perbincangan lewat udara dengan mantan kekasih saya. Di tengah pembicaraan kami, dia bercerita, bahwa dia pernah membaca sebuah buku yang isinya kira-kira begini :

Ada seorang guru dan seorang murid yang sedang menempuh perjalanan bersama-sama. Si murid meminta kepada gurunya: “Guru, ajarkan aku tentang kehidupan.”

Kemudian Sang Guru tersenyum dan berkata : “Jika kamu ingin tau apa itu hidup, berjalanlah lurus melewati jalan ini. Tetapi sepanjang kamu berjalan, jangan pernah kamu menoleh ke belakang, dan bawakan aku setangkai bunga yang menurutmu paling indah dan paling menarik hatimu. Aku akan menunggumu di sana.” Jawab sang guru sambil menunjuk sebuah gubuk yang terletak beberapa kilometer dari tempat mereka berpijak.

Kemudian murid itu pun berjalan dan mengikuti instruksi yang diberikan gurunya.

Tetapi sesampainya di tempat gurunya menunggu, Sang guru kaget dan bertanya: “Kenapa tidak ada satu bunga pun yang kau bawakan untukku? Apakah sepanjang perjalananmu tadi, tidak ada bunga yang menarik hatimu?”

Kemudian murid itu menjawab : “Sebenarnya ada. Ada banyak bunga yang indah, bahkan menarik hatiku. Tetapi setiap saya hampir memetiknya, saya mengurungkannya karena saya berharap  akan menemukan bunga yang lebih indah lagi di langkah saya selanjutnya. Sampai akhirnya saya sampai di gubuk ini dan tidak membawa setangkai bungapun..”

Setelah dia menyelesaikan ceritanya, seketika ulu hati saya seakan tertohok. Betapa saya selama ini telah menjadi orang yang tidak bersyukur atas apa yang saya miliki.

Tuhan itu adil. Setiap orang pasti memliki kekurangan dan kelebihan. Tentang bagaimana cara kita menyikapi setiap kekurangan yang ada pada pasangan kita, itu tergantung dari diri kita. Jika kita tidak bisa memiliki apa yang kita inginkan, kenapa kita tidak berusaha bersyukur atas apa yang telah kita dapatkan?

“We come to love not by finding a perfect person, but by learning to see an imperfect person perfectly” | unknown

Simple Things

simple love

Simple Goodbye can make us cry. Simple Joke can make us laugh. Simple Care can make us fall in love | @TheLoveStories

Cinta itu sederhana. Sesederhana perkenalan kita. Sesederhana pertemuan demi pertemuan kita.
Kamu tahu, betapa hal yang meskipun sangat sederhana darimu bisa sangat berarti untukku. Setiap senyum yang kamu tebarkan disaat kamu membuka kaca helm standar mu. Setiap trik ‘sulap koin’ yang kamu pamerkan ketika kita bosan menunggu sesuatu. Setiap kerling matamu di akhir kalimat yang sengaja kamu gantung untuk membuatku penasaran. Setiap pesan singkatmu yang meskipun isinya cuma “ok” namun membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menghapusnya. Setiap ejekan-ejekanmu yang kemudian kubalas dengan cubitan mesra di pinggangmu. Setiap gelak tawa yang kamu hadirkan di antara senyap yang kadang menyelinap..

Ternyata jatuh cinta padamu hanya sesederhana itu.