Arsip Bulanan: Desember 2011

Siput Oh Siput

Ini bukan tentang hewan yang ke mana-mana membawa serta rumahnya. Bukan juga tentang jaringan lambat yang orang-orang menyebutnya sebagai jaringan siput. Tapi ini tentang seorang cowok, yang beberapa bulan belakangan sering kuperhatikan gerak-geriknya. Seorang cowok yang kemudian [dari seorang teman yang juga naksir sama dia] saya ketahui bernama M. Rivaldhi Agano. Pada saat itu dia berstatus mahasiswa fakultas ekonomi jurusan akuntansi tahun 2009.

Lelaki bertubuh tinggi, tegap, berkulit putih dan berwajah agak ke-korea-an itu selalu memarkirkan yamaha vixion merahnya di parkiran fakultas sastra karena parkiran fakultas ekonomi yang selalu penuh. Karena kebiasaan saya yang hampir setiap hari setelah kuliah selalu duduk-duduk terlebih dahulu di parkiran, hampir setiap hari saya melihatnya meski hanya sekilas, dua kilas dan tiga kilas. Tapi itu cukup membuat mata saya ‘fresh’ karena di fakultas sastra sendiri, di mata saya tidak ada sosok lelaki yang ‘good-looking’. Parahnya, ternyata bukan cuma saya sendiri yang ‘naksir’ sama dia, tapi ada beberapa teman dekat saya yang juga mengaguminya. Maka tradisi nongkrong di parkiran menunggu dia pulang pun setiap hari kami lakukan. What a freak.. 🙂

Cowok yang tergolong pemalu ini pun sepertinya tahu gelagat kami yang sengaja menunggu dia pulang. Maka setiap dia melihat kami nongkrong di parkiran, dia sepertinya sengaja berlama-lama ngobrol dengan teman-temannya dan tidak segera mengambil motornya. Itu membuat kami semakin geregetan.

Pernah suatu hari saya sengaja memindahkan motor saya untuk parkir di samping motornya yang kebetulan kosong. Kemudian iseng saya tulis di akun twitter saya, isinya begini : “meskipun raga kita tak berdekatan, setidaknya motor kita parkir berdekatan”

Beberapa bulan lalu salah seorang teman saya nekat mengirimkan friend request di akun facebooknya. Ya berkat dia juga kami jadi tahu info-info terbaru tentang dia. Dan berita duka yang terakhir kami dengar adalah : dia pindah kampus. Hmm, kini tak ada lagi ‘pemandangan indah’ di parkiran.

Tapi naksir hanyalah sebatas naksir. Tidak ada niatan mengejarnya sebagai pacar. Karena dia terlalu high quality untuk kami yang ordinary, bisa-bisa banyak yang nikung 🙂

*ditulis dalam rangka meramaikan hashtag #cumanaksirunite

Iklan

Losing You

i miss the old us

Semua orang berpotensi untuk berubah, bahkan orang terdekat sekalipun. Entah itu perubahan positif maupun negatif. Dan ‘berubah’nya kamu kali ini benar-benar membuat saya shock. Bagaimana tidak, kita baru saja ber’temu kangen’ selama kurang lebih 60 menit via telepon, membicarakan apa-apa yang terjadi selama beberapa tahun perpisahan kita, menceritakan bahwa selama ini kamu masih menyimpan foto-foto kita berdua di laptopmu–dan itu membuat saya terharu, betapa jarak dan waktu tidak membuat persahabatan kita lekang–seperti juga saya yang masih menyimpan foto berdua kita dalam sebuah bingkai yang terpajang di kamar tidurku.

Kemudian beberapa hari setelahnya kamu tiba-tiba berubah. kamu seperti menjelma menjadi orang lain, orang yang sama sekali tidak saya kenal. panggilan dan pesan singkat saya mulai terabaikan–tanpa saya tahu sedikitpun alasannya.

Apapun alasan kamu menghindari saya, saya hanya ingin kamu tahu bahwa saya merasa kehilangan. Saya sudah kehilangan kamu selama beberapa tahun. Dan sekarang, di saat saya menemukan kamu kembali, di saat saya ingin kembali berbagi cerita bersama kamu, saya kembali kehilangan. Dan kali ini sangat menyakitkan.

Dan apapun alasan kamu menghindari saya, setidaknya bicara jujur tentang hal yang membuat kamu tidak nyaman akan kehadiran saya akan terkesan lebih manusiawi dibandingkan dengan diam dan terus menghindar. Setidaknya, ketika saya benar-benar harus kehilangan kamu, saya tahu dimana letak kesalahan saya.

Kamu, jika suatu saat kamu membaca tulisan ini, saya ingin kamu tahu bahwa saya merindukan kamu, merindukan kebersamaan kita di masa lalu, merindukan hal-hal yang selalu kita bagi bersama. I miss how close we used to be. Saya ingin membagi kebahagiaan saya dengan kamu. Saya ingin kamu tahu, bahwa gadis yang dulu selalu kamu jaga ini, sekarang telah memutuskan untuk melabuhkan pilihan pada satu hati. Bahwa gadis yang dulu pernah menangis di bahu kamu ini, kini telah menemukan bahu untuk bersandar.

Kamu, jika suatu saat kamu membaca tulisan ini, sesakit apapun hal yang saya rasakan sekarang, saya ingin kamu tahu bahwa selalu terbersit sebait doa untuk kebaikan kamu.

Many people come and go in my life. But there’s always a special space in my heart with you in it, and no one can replace. You, my best friend ever.

#Goodbye November

November 2009

Jika aku harus memilih satu kata untuk mendeskripsikan kamu, maka aku akan mengucapkan satu kata : hitam. Bukan karena warna kulitmu hitam, tapi entahlah, sepertinya hanya hitamlah warna yang kamu ijinkan untuk menempel pada tubuhmu. Setidaknya, itulah kesan pertama yang aku tangkap dari awal perkenalan kita–yang ternyata tetap berlanjut hingga beberapa lama.

Kamu keren. Kamu memang keren dan selalu keren, dengan kaos hitam dan tas pinggang yang juga berwarna hitam yang selalu kamu pakai kemanapun–ke kampus, ke rumahku tengah malam kala itu, ke tempat kita biasa makan malam—selama kamu merasa nyaman dengan itu.

November 2010

Kamu keren, ketika kudapati kamu sedang merokok di balkon kamarmu, membelakangi jalan raya dan tak mempedulikan aktifitas di bawah sana. Kamu hanya berkonsentrasi pada sebatang rokok mild yang kamu hisap perlahan–dan dalam. Seakan tak peduli bahwa benda mungil itu telah menggerogoti setiap rongga parumu perlahan..

Aku sedikit bersyukur kala itu kamu berdiri membelakangi jalan raya yang lengang karena saat itu malam memang sudah hampir mencapai puncaknya. Sebab kalau tidak, kamu pasti akan mengenali aku–yang sedang memperhatikan setiap gesture-mu dari seberang jalan itu.

November 2011

Ini adalah november ketiga sejak perkenalan kita. Dan kamu terlihat semakin keren–ketika sedang serius membidik pemandangan di pantai favorit kita dengan kamera DSLR yang tergantung di lehermu. Menambah aura maskulin–yang kamu tak tahu—semakin membuatku merasa nyaman berada di dekatmu.

Kamu keren ketika mengerlingkan sebelah matamu sebagai pengganti “see you” setelah kuucapkan “thanks” ketika turun dari boncengan motormu setiap kamu mengantarku pulang. Semua hal-hal sederhana itu seolah menjadi penting dan berkesan karena bukan hanya ada ‘aku’ atau ‘kamu’ sebagai subjek, tapi ‘kita’.

Namun November kali ini adalah November yang berbeda dari dua November sebelumnya. Bagaimana tidak. Aku yang dengan segala kebodohanku telah mengubah November yang seharusnya indah ini menjadi November yang teramat sakit, seperti halnya aku telah mengubah persahabatan kita yang seharusnya indah dan baik-baik saja menjadi hancur seperti ini hanya karena sebuah perasaan sentimentil dan absurd—yang disebut cinta.

Pagi terakhir di bulan November ini, apa yang sedang kamu pikirkan? Ketika kamu bersandar di jendela kamarmu tanpa memakai baju–dengan muka kusut khas baru bangun itu. Apakah kamu sedang bersyukur atas setiap udara yang masih bisa kamu hirup sampai detik ini? Atau kamu sedang teringat akan mimpi buruk–atau bahkan mimpi indah–yang kamu alami semalaman tadi? Ataukah kamu sedang memikirkan apa yang tak sengaja terucap dari mulutku sepekan lalu?

“Aku sayang sama kamu. Bukan sekedar sebagai sahabat, tapi sebagai perempuan yang mencintai laki-laki. Salahkah?” Kalimat yang tak seharusnya kuucapkan, yang meskipun membuatku merasa lega tetapi ada imbas yang ternyata di luar dugaan.

Berkali-kali aku merutuki diri sendiri yang begitu bodohnya telah mengungkapkan padamu dengan gamblang bahwa aku memiliki rasa. Berkali-kali aku merutuki diri sendiri yang entah kenapa tak seperti dua November sebelumnya—yang bisa menahan cemburu yang menggerogoti kalbu ketika kamu bercerita tentang betapa bahagianya kamu ketika dia memeluk mesra pinggangmu dalam perjalanan kalian.

Aku pun menyadari, dengan diammu itu berarti bahwa aku telah kehilangan kamu, kehilangan november-november yang penuh kenangan tentang kita. Tiga November yang hancur hanya karena satu hari saja di November tahun ini. Dan kurasa, tak akan ada November-november berikutnya yang akan kita habiskan dengan menikmati hujan sambil berteduh di kedai kopi yang buka dua puluh empat jam itu.

Akhirnya, harus kurelakn kamu pergi—seperti perginya bulan November tahun ini.

Goodbye november. Goodbye, You.