#Goodbye November

November 2009

Jika aku harus memilih satu kata untuk mendeskripsikan kamu, maka aku akan mengucapkan satu kata : hitam. Bukan karena warna kulitmu hitam, tapi entahlah, sepertinya hanya hitamlah warna yang kamu ijinkan untuk menempel pada tubuhmu. Setidaknya, itulah kesan pertama yang aku tangkap dari awal perkenalan kita–yang ternyata tetap berlanjut hingga beberapa lama.

Kamu keren. Kamu memang keren dan selalu keren, dengan kaos hitam dan tas pinggang yang juga berwarna hitam yang selalu kamu pakai kemanapun–ke kampus, ke rumahku tengah malam kala itu, ke tempat kita biasa makan malam—selama kamu merasa nyaman dengan itu.

November 2010

Kamu keren, ketika kudapati kamu sedang merokok di balkon kamarmu, membelakangi jalan raya dan tak mempedulikan aktifitas di bawah sana. Kamu hanya berkonsentrasi pada sebatang rokok mild yang kamu hisap perlahan–dan dalam. Seakan tak peduli bahwa benda mungil itu telah menggerogoti setiap rongga parumu perlahan..

Aku sedikit bersyukur kala itu kamu berdiri membelakangi jalan raya yang lengang karena saat itu malam memang sudah hampir mencapai puncaknya. Sebab kalau tidak, kamu pasti akan mengenali aku–yang sedang memperhatikan setiap gesture-mu dari seberang jalan itu.

November 2011

Ini adalah november ketiga sejak perkenalan kita. Dan kamu terlihat semakin keren–ketika sedang serius membidik pemandangan di pantai favorit kita dengan kamera DSLR yang tergantung di lehermu. Menambah aura maskulin–yang kamu tak tahu—semakin membuatku merasa nyaman berada di dekatmu.

Kamu keren ketika mengerlingkan sebelah matamu sebagai pengganti “see you” setelah kuucapkan “thanks” ketika turun dari boncengan motormu setiap kamu mengantarku pulang. Semua hal-hal sederhana itu seolah menjadi penting dan berkesan karena bukan hanya ada ‘aku’ atau ‘kamu’ sebagai subjek, tapi ‘kita’.

Namun November kali ini adalah November yang berbeda dari dua November sebelumnya. Bagaimana tidak. Aku yang dengan segala kebodohanku telah mengubah November yang seharusnya indah ini menjadi November yang teramat sakit, seperti halnya aku telah mengubah persahabatan kita yang seharusnya indah dan baik-baik saja menjadi hancur seperti ini hanya karena sebuah perasaan sentimentil dan absurd—yang disebut cinta.

Pagi terakhir di bulan November ini, apa yang sedang kamu pikirkan? Ketika kamu bersandar di jendela kamarmu tanpa memakai baju–dengan muka kusut khas baru bangun itu. Apakah kamu sedang bersyukur atas setiap udara yang masih bisa kamu hirup sampai detik ini? Atau kamu sedang teringat akan mimpi buruk–atau bahkan mimpi indah–yang kamu alami semalaman tadi? Ataukah kamu sedang memikirkan apa yang tak sengaja terucap dari mulutku sepekan lalu?

“Aku sayang sama kamu. Bukan sekedar sebagai sahabat, tapi sebagai perempuan yang mencintai laki-laki. Salahkah?” Kalimat yang tak seharusnya kuucapkan, yang meskipun membuatku merasa lega tetapi ada imbas yang ternyata di luar dugaan.

Berkali-kali aku merutuki diri sendiri yang begitu bodohnya telah mengungkapkan padamu dengan gamblang bahwa aku memiliki rasa. Berkali-kali aku merutuki diri sendiri yang entah kenapa tak seperti dua November sebelumnya—yang bisa menahan cemburu yang menggerogoti kalbu ketika kamu bercerita tentang betapa bahagianya kamu ketika dia memeluk mesra pinggangmu dalam perjalanan kalian.

Aku pun menyadari, dengan diammu itu berarti bahwa aku telah kehilangan kamu, kehilangan november-november yang penuh kenangan tentang kita. Tiga November yang hancur hanya karena satu hari saja di November tahun ini. Dan kurasa, tak akan ada November-november berikutnya yang akan kita habiskan dengan menikmati hujan sambil berteduh di kedai kopi yang buka dua puluh empat jam itu.

Akhirnya, harus kurelakn kamu pergi—seperti perginya bulan November tahun ini.

Goodbye november. Goodbye, You.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s