Arsip Bulanan: April 2012

My “me” Time

Being alone is just a simple way to let bored go | @si_ucrit

And here I am. Di sebuah tempat yang tdak bisa disebut dengan kafe di jalan A.P Pettarani, Makassar. Hanya ada segelintir orang di sini, memang tempat ini tidak terlalu ramai pengunjung pada siang hari seperti ini.

I’m alone, but I’m not lonely. Saya sedang bersama semua hal yang ada di pikiran saya–kuliah, kerjaan, keluarga, teman-teman, dia, dan banyak hal–yang sebenarnya ingin saya ungkapkan degan tulisan.

Sometimes, being alone makes me feel comfort. Seperti saat ini. Dengan sekotak pisang nugget rasa cokelat putih dan A thousand years nya Christina Perri yang entah sudah berapa kali ter-repeat dari laptop saya, saya seperti bisa berpikir tentang banyak hal.

Mungkin, bagi sebagin orang, sendirian itu tidak menyenangkan. Alasannya beragam. Mulai dari merasa asing di tengah keramaian, merasa canggung menjadi pusat perhatian banyak orang karena berjalan seorang diri, dan alasan-alasan lain yang beragam. Dalam kehidupan sehari-hari di tempat saya menetap sekarang, kondisi seperti ini diistilahkan dengan solkar atau solo karir. saya juga tidak tahu asal muasal istilah yang cukup happening ini, yang jelas, istilah ini sering sekali terlontar dari teman-teman yang melihat ada seseorang yang beraktivitas sendirian, meskipun kebanyakan konteksnya bercanda.

Bagi saya, pergi sendirian ke suatu tempat dan melakukan sesuatu sendirian itu seperti refreshing. Kadang-kadang saya merasa bosan pergi ke mana-mana berramai-ramai. Tapi bukan berarti teman-teman saya membosankan. Saya hanya merasa, terkadang butuh waktu untuk sendirian saja, seperti saat ini. Melakukan hal-hal yang saya suka, mendengarkan musik yang saya suka, menuliskan apa yang ada di benak saya–karena menulis itu menyembuhkan. Dan itu membuat saya nyaman untuk sementara–sebelum saya kembali ke rutinitas semula.

Tidak perlu menunggu hingga weekend tiba untuk melakukan hal ini. Karena ketika saya merasa penat dengan rutinitas yang ada, saya tahu harus bagaimana.

*tempat ini mengingatkan saya pada kafe milik seorang teman yang dulu sering saya singgahi ketika saya ingin sendirian. Saya rindu Hot Chocolate yang tidak terlalu panas, dan saya rindu dia.

Iklan

Who Am I

Who am I to miss you when you’re apart? Who am I to make you stay with me even just a while? Who am I to love you? Who am I to have a goodnight kiss every night? Who am I to chase you? Who am I to have your “good morning, dear” text every morning? Who am I to miss your hug? Who am I to stare at your warm eyes? Who am I to miss your cute smile? Who am I to give a kiss on your cheek? Who am I to stand by you on your special day? Who am I to become your priority? Who am I to be jealous when you’re with her?

Apa Kabar Dia

Apa kabar dia yang dulu kamu sebut sebagai “miracle”?
Dia yang begitu kamu sayangi
Hingga selalu kulihat binar bahagia itu di matamu ketika kamu berkisah tentangnya
Dia yang tak ada di hari ulang tahunmu yang ke dua puluh
Hingga kamu merasa hari itu tak lengkap meskipun orang-orang terdekatmu ada di sana

Apa kabar dia yang dulu selalu kamu sapa lewat telepon genggam?
Dia yang tak jarang uring-uringan ketika satu malam saja kamu tidak menghubunginya
Dia yang membuatmu rela menempuh jarak ratusan kilometer untuk berjumpa dengannya ketika musim libur

Apa kabar dia yang dulu menjadi inspirasimu ketika belajar photoshop dan coreldraw?
Dia yang kamu utak-atik fotonya dengan berbagai efek yang telah kamu kuasai hingga membuatnya terlihat lebih menarik di matamu
Dia yang foto-fotonya kamu simpan pada sebuah album khusus pada akun jejaring sosialmu

Apa kabar dia yang dulu kamu puja dengan sejuta kata?
Yang setia kamu tunggu meski pada akhirnya jaraklah yang menjadi kambing hitam atas perpisahan kalian
Tapi dia juga yang sedikit banyak telah membakar semangatmu untuk meraih mimpi-mimpi yang mulai kamu rangkai

Lalu apa kabarmu?
Masihkah kamu menyimpan dia di hatimu?

Makassar, in the middle of April

Tentang Dia yang juga Mencintaimu

Dia mungil
Bahkan lebih mungil dari aku
Dia manis dengan dua gigi gingsulnya
Dia selalu terlihat ceria
Dan dia juga mencintai kamu, sama seperti aku

Dia mulai suka menulis
Diam-diam aku menjadi “silent reader”nya
Yah, sama seperti aku, dia juga menulis tentang kamu
Tentang bagaimana kamu tetap terlihat manis di matanya ketika kamu baru bangun tidur
Tentang bagaimana dia diam-diam mengagumi kamu dari balik tirai jendela kamarnya

Aku tidak mengenalnya
Mungkin juga dia tidak mengenalku
Aku hanya beberapa kali bertemu dengannya ketika kamu datang padaku bersama dia–tanpa ada perkenalan

Tapi aku tahu dia kuat
Dia tegar
Bahkan ketika kamu memintanya untuk pergi
Dia pergi tanpa menoleh lagi
Dia tak ingin kamu melihat luka hatinya
Dia sedang berusaha menyembunyikan air matanya
Dia berusaha melupakan kamu, menghapus kamu dari hatinya
Seharusnya aku bisa belajar dari dia
Belajar untuk pergi dari hidupmu

Aku tahu dia kecewa
Dia bahkan terluka
Saat kamu bahkan tak ingin lagi mendengar namanya disebut oleh siapapun, termasuk olehku

Tapi dia baik-baik saja
Dia tak pernah merengek untuk bisa melihatmu lagi
Dia tetap ingat hari ulang tahunmu
Meskipun dia tidak bisa memberikan apa-apa untukmu
Dia tetap berdoa untuk kebaikanmu
Untuk setiap mimpi yang ingin kamu wujudkan
Untuk setiap kebahagiaan yang ingin kamu jemput
Dan dia tetap merindukan kamu, sama seperti aku

Dia tak ingin apa-apa lagi
Dia hanya ingin kamu memaafkannya

Flashback

The raindrop. The afternoon. Umbrellas. Vanilla twilight. The lights off. Candles. Our short trips. Slippery sidewalks. Intersections. The coast. The building ruins. Camera. Sketchbooks. Pencils. Brushes. Grasses. The coffee shop. Angels and Airwaves. My hot chocolate. Your coke. Clasmild. French fries. Sweets. Pisang epe. Novels. Cupcakes. You. Your smile. Your magic tricks. Your silly jokes. Our laugh.

Selamat Ulang Tahun, Kamu

“Yup, selesai!” Ucapku riang setelah menyelesaikan goresan sketsaku kali ini. sketsa wajah seorang sahabat yang kucinta dengan diam-diam tiga tahun belakangan.

Ini adalah pertama kalinya aku membuat sketsa wajah. Tapi aku cukup puas dengan hasil sketsa yang kubuat hanya dengan waktu semalaman ini.

Hari ini dia berulang tahun yang ke dua puluh tiga. Yang artinya, hari ini umur kami sama-sama dua puluh tiga. Dia tidak akan bisa lagi mengolokku dengan panggilan “orang tua” sampai tujuh bulan ke depan hanya karena aku terlahir lebih dulu dari dia.

Aku sudah menyiapkan kejutan spesial untuknya. Kubuatkan pancake kesukaannya dengan siraman madu di atasnya, tak lupa kutambahkan kalimat “selamat tambah tua” pada pinggiran piring.

Sejak tadi malam aku sudah tidak bisa tidur. Setengah mati aku menahan jemari untuk tidak mengirimkan sms ucapan selamat ulang tahun seperti tahun-tahun sebelumnya. Aku tahu, dia pasti sedang tertawa riang bersama teman-temannya yang selalu menghadiahkan surprise party tepat pada dini hari. Sebenarnya aku juga ingin berada di sana, di tengah teman-temannya yang mengetuk pintunya tengah malam, kemudian bersama-sama menyanyikan lagu “happy birthday”, lalu entah siapa yang memulai, mereka akan saling mengoleskan krim pada kue tart itu pada wajahnya sekenanya.

***

Aku berdiri di depan pagar kostnya dengan perasaan campur aduk. Bukan karena ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di sini, tapi aku juga sibuk membayangkan reaksinya jika tiba-tiba aku berdiri di depan pintu kamarnya. Ini akan menjadi surprise untuknya.

Aku mengenakan pakaian yang lain dari biasanya, eksklusif di hari ulang tahunnya. Rok pendek selutut warna khaki, tank top hitam yang dipadu dengan luaran brokat yang juga berwarna khaki, dan terakhir sepatu flat hitam. Tak lupa rambut ikal panjangku kuikat di samping membuat penampilanku yang biasanya berantakan menjadi agak manis sore ini.

Aku nekat membuka pagar itu dengan perasaan tak menentu. Aku sudah berniat dalam hati, akan mengungkapkan perasaanku padanya yang kupendam selama tiga tahun ini, tentang bagaimana dia ada di hatiku bukan sekedar sebagai sahabat, tetapi sebagai orang yang selalu kurindukan dalam hati. Apapun resikonya, aku seharusnya sudah siap.

Kuketuk sebanyak tiga kali pintu berwarna coklet itu. jantungku berdegub lebih cepat, jauh dari ukuran normal. Tak lama, pintu terbuka. Wajah orang yang amat kusayang ini muncul. Keningnya berkerut, ada rona kaget di sana.

“surprise..!!!” kataku riang dengan senyum termanis yang pernah kupunya. Sambil menyodorkan kotak berisi pancake kesukaannya.

Dia terlihat gugup ketika menerima kotak pemberianku, seperti sedang menyembunyikan sesuatu.

“boleh masuk? Aku pengen ngomong sesuatu sama kamu” lanjutku karena dia masih terpaku di ambang pintu.

“mmm.. eh..” dia terlihat semakin gugup.

“siapa, sayang..?” Tanya seorang wanita yang tiba-tiba saja bergelayut manja di lengannya.

Jantungku seakan berhenti berdetak. Apa-apaan ini? senyumku pun perlahan menghilang dan wajahku jadi ikut-ikutan tegang.

“ehm.. iya, boleh. Masuk aja, katanya mau ngomong sesuatu. Pasti penting, ya? jawabnya masih dalam keadaan gugup.

“ng.. nggak kok, nggak penting. Cuma mau bilang, selamat ulang tahun, kamu”. Kataku dengan senyum yang kupaksakan.

Aku bergegas pergi tanpa memberikan sketsa wajah yang kubuat untuknya, dengan membawa tiga titik Kristal bening di sudut mata.