Arsip Bulanan: Juni 2012

Yang Masih Membekas Untuk Kalian

Dear, My bestest

Rasanya baru kemarin sore saya mengenal kalian. Ketika tiba-tiba saya harus pindah sekolah, tinggal satu kos dengan kalian, beradaptasi dengan lingkungan baru saat itu.

Rasanya baru kemarin sore saya belajar bersama kalian, duduk-duduk di teras rumah kos kita sambil mencuri-curi pandang pada cowok manis anak tetangga depan rumah.

Rasanya baru kemarin sore saya berangkat ke sekolah bersama kalian, tentunya dengan keterburu-buruan karena saya selalu terlambat bangun dan mendapat giliran mandi paling akhir di antara kalian.

Rasanya baru kemarin kita pulang sekolah sama-sama, saling menunggu karena kita berada di kelas yang berbeda. Kemudian kita berlomba-lomba menebak kira-kira menu makanan apa yang dimasak oleh induk semang kita.

Rasanya baru kemarin sore kita merayakan kelulusan SMA kita, meninggalkan kebiasaan-kebiasaan labil kita pada masa itu, dan mulai merencanakan kelanjutan hidup jangka panjang kita.

Rasanya baru kemarin sore tetapi ternyata telah ada begitu banyak proses yang telah kita lalui dengan jalan kita masing-masing yang tentunya tak selalu mulus.. Menjalani hidup sebagai mahasiswa, hingga tahun lalu, saya sangat iri sekaligus termotivasi untuk segera meraih gelar Sarjana Sastra ketika melihat foto ini…

Dita Septy Wardana Kusumawati, S.Si

Dan kini, yang lebih menakjubkan adalah ketika gelar dua orang dari kalian sudah berubah menjadi seorang istri.. Benar-benar rasanya seperti baru mengenal kalian sejak kemarin sore. Dita, Devi, Nia. Betapa saya merindukan kebersamaan kita..

***

Beberapa hari lalu,  perasaan saya tiba-tiba dilingkupi rasa haru, ketika sebuah  foto masuk ke chatroom whatsapp saya, dan ternyata isinya ini..

Devi Agustina Kuswanti, Amd dan Suami

You look so beautiful Dev.. Meskipun tanpa make up pun kamu sudah cantik. Tapi kecantikanmu ini bertambah berkali kali lipat karena kamu terlihat sangat bahagia. Be a great wife, Dev.. Meskipun saya tidak bisa hadir di pernikahanmu karena jarak yang terbentang antara kita *halah*, tapi do’a saya selalu ada untuk kebaikanmu.

Pernikahanmu ini mengingatkan saya akan satu hal; kalian ingat kan ketika suatu sore kita berangan-angan membayangkan seperti apa suami kita di masa depan? Dan yang lebih menggelikan adalah ketika kita membayangkan bagaimana cara kita menyambut suami kita ketika pulang kerja. Jadi, bagaimana kamu meyambut suamimu ketika dia pulang kerja, Dev?

P.S : Saya mewek pas nulis ini, jadi kalian juga harus mewek pas baca ini :p. Love ya all 🙂

Iklan

Biru, Jatuh Hati

“C’mon, Rey..” rajuknya setengah memaksaku bangun di minggu pagi yang cerah ini.

“Apaan sih, Nes.. Loe tau nggak sih ini masih jam delapan pagi dan hari minggu pula!” jawabku kesal dan memberikan penekanan pada kata “hari minggu”

“Iya trus kenapa kalo hari minggu? Kan minggu lalu lo udah janji mau nemenin gue ke Pangandaran

“Iya tapi kan nggak harus hari ini juga..”

“emang kenapa kalo hari ini?” tanyanya cuek dan nggak mau tahu.

“gue masih ngantuk banget, cape juga. Just so you know aja ya, sehari semalem gue nemenin Nina belanja ke Mall lengkap dengan nyalon dan segala macamnya”

“Ya siapa suruh pacaran sama shopaholic macam Nina gitu”

“Trus menurut lo, gue harus pacaran sama pantaiholic macam Lo gitu?” aku balik bertanya.

“Harusnya sih gitu.. hahaha” ujarnya percaya diri. “Udah ah, mandi gih. Lima menit lo nggak selesai mandi juga, gue dobrak tuh pintu kamar mandi” dia memaksa sambil melemparkan handuk tepat di muka ku.

“iya..iya nenek lampir” kataku sambil menyeret kakiku ke kamar mandi.

***

Pantai Pangandaran hari ini terlihat ramai. Aku duduk bersila pada batang pohon yang tumbang, memandang jauh ke laut biru. Ines menghilang entah ke mana, dia memang selalu lincah dalam banyak hal. Kucoba menikmati birunya laut yang dipadu dengan gumpalan awan putih yang membentuk kombinasi sempurna. Dan di tempat ini, sunset dan sunrise bisa terlihat di posisi yang sama.

Sebenarnya aku kurang nyaman pergi ke tempat seramai ini. kalau bukan karena sahabatku yang kalo udah ada maunya harus diturutin ini, pasti sekarang aku masih tergolek pasrah di tempat tidur akibat keliling Mall dengan Nina pacarku yang… Ah, tunggu. kenapa selalu ada perbedaan ketika sedang bersama Nina dan ketika bersama Ines?

Bersama Nina semuanya terasa monoton. membosankan. dari satu mall ke mall yang lain. dari satu butik ke butik yang lain. tapi dengan Ines, semuanya terasa berwarna, penuh kejutan. Kadang dia tiba-tiba dia membangunkanku dengan rengekan khasnya yang awalnya membuatku jengkel tapi ternyata dia membayarnya dengan rhapsody yang tak pernah kudapat dari Nina selama satu setengah tahun hubungan kami.

Seperti pagi ini, rengekan khas Ines membuatku tak bisa menolak. Karena aku tahu, akan ada kejutan yang dia berikan padaku di sini. Di pantai pangandaran ini. Dan benar saja, ketika anganku sibuk membandingkan sifat dua gadis ini, tiba-tiba Ines mengejutkanku.

“Rey!!! Bengong sih? Ngelamun jorok lu pasti!

“bawel lu” jawabku jutek.

“Ke sana yuk Rey” katanya sambil menunjuk ke satu arah dimana ada orang ramai berkerumun.

“males ah, ramai gitu di sana” jawabku ogah-ogahan

“Ayolah, Rey..” See? dia mulai melancarkan jurus rengek andalannya.

Dan sekali lagi, betapa aku tak bisa menolak permintaan sahabatku sejak SMP ini. Dan memang, Ines selalu punya cara untuk memeberiku kejutan.

“taraaaaaa… loe pasti suka ini, Rey” katanya bangga sambil tersenyum manis. Ternyata hari ini ada Pangandaran Kite Festival dan Ines sengaja memaksaku untuk melihatnya.

“wow.. this is great, Nes.. Loe tau banget dari dulu gue suka main layang-layang..”

“sengaja, sekalian nostalgia masa kecil kita. And you know what? Gue udah daftarin nama loe buat ikut festival dan gue juga udah bikinin loe layangannya. hebat kan gue? haha” ujarnya percaya diri

“Really? I love this much, Nes..”

Dan entah kenekatan dari mana  kemudian kukecup ringan pipinya. seketika wajahnya bersemu merah. sepertinya aku jatuh cinta pada sahabatku ini. Ah,bukan. bukan lagi sepertinya. tapi memang, aku telah lama jatuh hati padanya. jauh sebelum aku mengenal Nina. Bahkan jauh sebelum aku tahu apa itu cinta.

Layang-layang kami beradu Di cakrawala Pangandaran. milikku berbentuk elang dan layang-layang Ines berbentuk capung–hewan favoritnya. dan dua-duanya berwarna biru. Sebiru laut pangandaran. Sebiru cintaku yang tak pernah berani kuungkapkan pada Ines sejak sekian lama.