Kalah

Dan sekali lagi saya harus kalah.
Pada perasaan absurd yang ternyata tak mudah diterjemahkan oleh indera.

Dan sekali lagi saya harus kalah.
Pada situasi yang seakan tak berpihak pada saya, sama sekali.
Sekalipun saya begitu ingin lari. Kemudian sembunyi.

Lalu apa bedanya?
Menikmati kekalahan itu menyelinap perlahan dalam rasa pahit. Rasa sakit. Rasa nyeri tak berujung.

Dan adakah tempat untuk sembunyi?
Untuk sekedar menunjukkan pada orang-orang di luar sana bahwa saya baik-baik saja setelah ditinggalkan bersama luka yang masih menganga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s