Arsip Bulanan: Agustus 2013

Hikmah di Balik Skripsi

Ini dia tahap paling akhir dari menjadi mahasiswa tingkat akhir: SKRIPSI. Udah kebayang dong gimana ruwetnya proses yang satu ini? Mulai dari pengajuan judul, blablablabla sampai ritual kejar-kejaran sama DosPem (Dosen Pembimbing)

Yak, hari ini saya ujian skripsi, atau istilah yang dipake mahasiswa di Makassar adalah “Ujian Meja”. Saya juga nggak tau asal muasalnya istilah ini. Padahal kan semua ujian itu pake meja ye?

Saya beneran nggak nyangka bisa ikutan ujian hari ini karena kemarin-kemarinnya udah hopeless banget secara tiap mau konsultasi selalu ada halangan. Mulai dari Dospem 1 yang lagi di Jakarta dan Dospem 2 yang… Ah, Sudahlah. Saking hopelessnya sampai-sampai saya bernadzar “kalau saya bisa ikut ujian tanggal 29 Agustus, saya bakal nraktir Afni dan Shyba karaokean di Diva (tapi 1 jam aja, yang 1 jamnya pake free pass 😀 ) dan juga bersihin lantai 2 rumah saya. Ini agak berat pemirsaaaa.

Dan Alhamdulillah, saya beneran bisa ikut ujian. Walaupun tanpa persiapan karena mental dan fisik udah keburu down akibat “kejar-kejaran sama Dospem”. Dan seperti biasa, yang terjadi menjelang ujian adalah perut tiba-tiba kontraksi. Mules iya, krucuk-krucuk karena belom sarapan iya, pengen boker juga iya. Akhirnya saya curhat via WhatsApp sama Dita, temen saya dari SMA. Katanya, pas dia dulu ujian skripsi, dia baca ayat kursi sambil bayangin wajah dosen pengujinya. Plus banyak-banyak baca Al-fatihah.

Saya pun percaya dan segera mencobanya. Dan ternyata it Works! Ujian saya berjalan lancar-selancarnya. Kayak sms-smsnya cowok yang lagi pedekate gitu. It floowwsss… Pertanyaan-pertanyaan penguji terjawab dengan lumayan lancar walaupun ada kesalahan grammar di sana-sini. Kagok juga sih karena udah lama nggak ngomong pake bahasa bule di depan umum. At least, saya sangat puas dengan ujian tadi, ketika tiba saatnya yudisium dan saya dapat nilai A untuk skripsi, dan LULUS DENGAN PUJIAN. Pokoknya, never enough to say Alhamdulillah for today.

Dan berhubung saya sempat pesimis bakalan dapat nilai A (karena untuk seminar proposal dulu saya cuma dapat nilai B), saya bernadzar lagi “Saya bakalan puasa selama 2 hari kalau saya dapat nilai A di ujian skripsi). Semoga bisa segera melaksanakannya 🙂

Karena ini adalah pengalaman ujian skripsi yang pertama, so harus diabadikan dong.

IMG_7241Muka panik pas nunggu giliran diuji

IMG_7248Ketika diuji oleh penguji 1 yang sekaligus pembimbing 1

IMG_7290Foto bersama para Dosen Penguji setelah ujian

IMG_7319Muka sumringah abis yudisium

IMG_7304Bersama Highlight 09

Dan ternyata di balik semua keruwetan itu, ada satu hal yang saya rasakan, ada hikmah di balik semua itu, yaitu: SKRIPSI ITU BISA MENDEKATKAN YANG JAUH.

Maksudnya, yang selama ini kuliah gabungnya cuma sama teman yang itu-itu aja, sekarang semua itu nggak berlaku. Contohnya, baru-baru ini saya lagi stres gara-gara DosPem 1 saya lagi di Jakarta sedangkan ujian skrispi tinggal menghitung hari, dan di kampus saya ketemu sama teman yang DosPemnya adalah orang yang sama. Kami sama-sama galau. Sama-sama Risau. Dan saya masih butuh untuk masuk ke perpustakaan universitas untuk nyari referensi tambahan. Dan berhubung kartu perpustakaan saya udah kadaluarsa dari entah semester berapa, dan juga kartu yang belom diperpanjang masa aktifnya nggak bisa dipake masuk perpus, tiba-tiba sebuah ide cemerlang muncul di otak saya yang tiba-tiba canggih kalo lagi kepepet ini. Langsung aja saya main pinjem kartu perpustakaannya temen saya yang lugu ini. Dan dia dengan mudah meng-iya-kan.

Bukan itu saja, esok harinya, berhubung DosPem 1 tak kunjung tiba di Makassar, Beliau mengalihkan tugas konsultasi skripsi ke asistennya. Otak saya yang tadinya buntu dan pasrah kalau-kalau nggak bisa ikut ujian bulan ini tiba-tiba jadi fresh-se-fresh-fresh-nya. Pokoknya bakalan saya datangin di manapun rumahnya sang AsDos ini berada. Daaaannn, lagi-lagi saya mentok sama teman yang kartu perpusnya saya pinjam tadi. Kita janjian di kampus buat barengan ke rumahnya Asdos bo.. Dan berhubung dia nggak punya helm (penyakitnya mahasiswa yang nggak punya motor dan (biasanya) jomblo), saya rela bawain dia helm jauh-jau dari rumah. Dan tentu saja perjalanan ke sananya saya boncengin dia. Padahal nih, tiap harinya, boro-boro barengan, ngobrol aja jarang. Palingan say hai ba bi bu doang di kelas. Bukannya angkuh, tapi kayaknya saya terlalu asik dengan dunia maya -_-

Dan sesuatu yang bernama skripsi inilah yang menyatukan kami, menyadarkan kami untuk saling membantu ketika Dospem berada di negri antah-berantah atau ketika di-PHP-in sama Dospem.

So, guys.. remember all the day we spent in our last four years, and remember this day, when we fight to get this Bachelor Degree.

Oke, satu tahap sudah terlewati. Mulai besok saya sudah menjadi ‘pengangguran’ walaupun belum resmi. Then, are you ready for the next annoying question : “MAU KERJA DI MANA?” ?

KKN (Kuliah Kerja Nyantai) – 4

Yak, postingan ini adalah lanjutan dari postingan yang kemarin-kemarin (Part 1, 2 dan 3), dan ini adalah bagian terakhir dari kisah KKN saya yang mengharu biru. *halah*

***

Hari berganti hari, kami masih menjalani rutinitas KKN seperti biasa. Datang, duduk, ngerjain sesuatu yang nggak penting-penting amat, ngegosip, nyicil ngerjain skripsi, nyicil ngetik laporan KKN juga, ngetwit (as always), stalking, main line pop, nyuri-nyuri pandang ke Mas Bos (yang ternyata lama-lama diliat dia nggak cupu-cupu amat kok).

Generally, nothing’s different. Cuma yang bikin agak berbeda, jam ngantor kami yang dibikin “spesial”. Jadi kita ngantornya bukan jam 8 pagi, karena itu udah terlalu mainstream. Kita ngantornya setelah jam makan siang dong. Of course hal itu adalah sebuah anugerah bagi saya yang paling susah bagun pagi ini 😀

Tentu saja ide ini disponsori oleh Mas Bos yang ternyata baik hati itu. Saking baik hatinya, kita dikasi tugas khusus juga: ngasi private lesson ke 3 orang mahasiswa yang menurut Mas Bos bahasa inggrisnya paling kacau. Private lessonnya seminggu sekali dan dimulai jam 4 sore, setelah mereka selesai mengikuti semua kegiatan akademiknya. Artinya lembur lagi pemirsaaaa.

Waktu itu sih saya iya-iyain aja biar gampang. Secara nggak ada satupun proker kita yang disetujui sama Mas Bos. Yah, he’s kind of a perfectionist one, satu per satu proker ditolak dengan alasan ini-itu. Dan si Shyba sempat ngomel-ngomel nggak jelas gara-gara saya dengan gampangnya meng-iya-kan tugas khusus ini.

Dan hari demi hari terlewati dengan mo-no-ton. Tapi saya jadi tau bahwa sebenarnya Mas Bos ini tenyata orangnya ngocol juga, Cuma mungkin dia jaim aja sama kita-kita secara posisinya dia di situ sebagai “atasan temporer” kita, atau mungkin juga karena kita orang baru dan baru kenal jadinya ngocolnya dia ke kita nggak maksimal :D. Dan gara-gara one day saya sama si Afni pas lagi di ruangan heboh berdua ngomongin twitter, akhirnya si Mas Bos nimbrung dan minta difollow. Huahahaha. Harus hati-hati kalo ngetwit nomention lagi. Dan sejak saat itu tab mention dipenuhi oleh akunnya. Kayaknya dia ta’bangka twitter. Huahahaha *oops*

Minggu terakhir KKN, kita kenal sama seorang OB di situ. Masih muda dan anak kuliahan juga. Dan ternyata dia ngocolnya sebelas dua belas sama Mas Bos. Heran deh, kenapa hal-hal yang menyenangkan baru terasa ketika periode KKN udah mau abis. Rasanya tuh kayak lagi nonton film Bollywood. Tawurannya udah mau selesai, Inspektur Vijay nya baru datang. Zzzzzzzzz.

***

Empat puluh hari terlewati (minus hari sabtu-minggu karena libur, minus juga bolos-bolosnya kita 😀 ). Empat puluh hari yang bikin nyesek pada awalnya, tapi mengesankan di akhir. Terima kasih untuk Om Bos, Pak Bos dan Mas Bos yang bersedia “menampung” kami yang labil ini, terima kasih untuk traktiran-traktiran makan siangnya di kantin, terima kasih untuk nilai yang sangat memuaskan yang diberikan kepada kami, terima kasih untuk semuanya 🙂