Arsip Kategori: inikah cinta??

Seeing You from a Distance

Pouring rain outside. I saw slippery sidewalk behind the foggy window in a corner of a fast food restaurant near my college. I do enjoyed this moment–seeing vehicle moved slowly while listening to some romantic love songs through my white earphone.

I was having my hot chocolate and crispy french fries when I saw you came through the main entrance to the smoking-area. You’re still like the last time I saw you. Did you know what’s going on my heart? Ya, it beats fast. It feels like there’s a butterfly in my stomach. The feeling’s always like this, it’s just the same since I saw you for the very first time. And seeing you accidentally in this unexpected time and place is under my control.

You were sucking your mild cigarette when a beautiful tall and long hair girl came to you.

I was just fine.

I just felt like the world was tumbling down in font of me.

I was just alright.

I just felt something hurt inside my heart.

Jealous?

YES!

But who am I to be jealous? You were never mine and we had nothing to be fight. We had nothing to be proud. We had nothing to be remember…

When I always found my self hoping can see you accidentally in any places, since then I didn’t. When I always found myself hoping can see you with no distance, since then I didn’t.

Because I learned that some things are better to be seen from a distance.

Iklan

Who Am I

Who am I to miss you when you’re apart? Who am I to make you stay with me even just a while? Who am I to love you? Who am I to have a goodnight kiss every night? Who am I to chase you? Who am I to have your “good morning, dear” text every morning? Who am I to miss your hug? Who am I to stare at your warm eyes? Who am I to miss your cute smile? Who am I to give a kiss on your cheek? Who am I to stand by you on your special day? Who am I to become your priority? Who am I to be jealous when you’re with her?

Tentang Dia yang juga Mencintaimu

Dia mungil
Bahkan lebih mungil dari aku
Dia manis dengan dua gigi gingsulnya
Dia selalu terlihat ceria
Dan dia juga mencintai kamu, sama seperti aku

Dia mulai suka menulis
Diam-diam aku menjadi “silent reader”nya
Yah, sama seperti aku, dia juga menulis tentang kamu
Tentang bagaimana kamu tetap terlihat manis di matanya ketika kamu baru bangun tidur
Tentang bagaimana dia diam-diam mengagumi kamu dari balik tirai jendela kamarnya

Aku tidak mengenalnya
Mungkin juga dia tidak mengenalku
Aku hanya beberapa kali bertemu dengannya ketika kamu datang padaku bersama dia–tanpa ada perkenalan

Tapi aku tahu dia kuat
Dia tegar
Bahkan ketika kamu memintanya untuk pergi
Dia pergi tanpa menoleh lagi
Dia tak ingin kamu melihat luka hatinya
Dia sedang berusaha menyembunyikan air matanya
Dia berusaha melupakan kamu, menghapus kamu dari hatinya
Seharusnya aku bisa belajar dari dia
Belajar untuk pergi dari hidupmu

Aku tahu dia kecewa
Dia bahkan terluka
Saat kamu bahkan tak ingin lagi mendengar namanya disebut oleh siapapun, termasuk olehku

Tapi dia baik-baik saja
Dia tak pernah merengek untuk bisa melihatmu lagi
Dia tetap ingat hari ulang tahunmu
Meskipun dia tidak bisa memberikan apa-apa untukmu
Dia tetap berdoa untuk kebaikanmu
Untuk setiap mimpi yang ingin kamu wujudkan
Untuk setiap kebahagiaan yang ingin kamu jemput
Dan dia tetap merindukan kamu, sama seperti aku

Dia tak ingin apa-apa lagi
Dia hanya ingin kamu memaafkannya

Hai, siapa namamu?

Sore ini cerah. Secerah hatiku saat ini. Kusambar tas pinggangku di samping rak buku. Di dalamnya sudah ada sketchbook ukuran A5 yang mulai robek di pangkalnya, sebuah pensil stabilo yang baru kuraut tadi malam, dan sebuah penghapus. Sebelum meninggalkan kamar, kupatut diri sekali lagi di depan cermin. Manis. Kata orang-orang yang kenal denganku. Aku tersenyum tipis sebelum beranjak dari kamar dan kemudian segera menyambar sepeda yang sudah terparkir manis di halaman.

Danau Unhas. Begitulah orang lokal menyebutnya. Di sinilah aku berada. Hampir setiap hari aku menghabiskan waktu sore di tempat ini, tentunya jika cuaca sedang cerah. Tempat ini seakan sudah menjadi ‘tempat nongkrong’ bagiku. Meskipun aku tidak terdaftar sebagai salah satu mahasiswi di kampus merah ini, tapi who cares? Tidak ada aturan tertulis maupun tidak tertulis yang berbunyi bahwa selain mahasiswa Universitas Hasanuddin dilarang nongkrong di tempat ini.

Kuparkir sepedaku di bawah pohon yang cukup rindang, tak jauh dari bangku panjang yang biasa kutempati. Sepertinya aku selalu beruntung, karena hampir setiap sore, bangku itu selalu kosong. Mungkin karena danau di sebelah kiri ini relatif sepi dibandingkan danau yang sebelah kanan itu. Di sana selalu ramai. Entah itu mahasiswa yang duduk-duduk sambil mengerjakan tugas kuliah, ada juga yang duduk melepas lelah seusai jogging sore, ada yang memotret, bahkan aku sering menyaksikan proses pembuatan film indie di sana.

Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling danau ini. Hanya ada dua pasang kekasih yang sedang bercanda tawa. Aku sedikit kecewa karena tidak menemukan apa yang kucari. Setelah menghela nafas panjang, mataku kembali berkeliling mengitari danau ini. Berharap dia ada di balik pohon itu, atau di balik rumpun mawar di ujung sana, atau di sudut mana saja. Tetapi hanya kecewa yang kudapat.

Perlahan kukeluarkan buku sketsaku dari dalam tas. Kubuka lembar demi lembar. di lembaran awal, buku sketsaku penuh dengan gambar pemandangan di danau ini dan beberapa tempat lain. Di beberapa lembar terakhir, masih saja pemandangan di danau ini–dan seorang lelaki. Lelaki yang sudah tiga hari ini menarik perhatianku. Lelaki yang sudah tiga hari ini memberikan warna yang lain pada sketsaku. Lelaki yang kala itu sedang serius membidik kupu-kupu dengan kamera DSLRnya. Lelaki yang diam-diam kunikmati senyumnya ketika dia puas melihat display hasil foto buruannya. Lelaki yang wajahnya kuabadikan dalam beberapa gambar sketsa. Lelaki yang mungkin saja telah memperindah duniaku.

Ada rindu. Ada rindu pada sosok lelaki yang bahkan tak pernah kulihat dari jarak dekat. Ada rindu pada sosok lelaki yang bahkan mungkin menyadari kehadiranku pun tidak. Tiba-tiba jemariku seperti tergerak untuk menggambar. Membuat siluet tubuhnya dengan latar danau ini.

Meski sketsaku kali ini tidak begitu memuaskan, seperti biasa kuakhiri sketsaku dengan mencantumkan nama dan tanggal. Citra, 12 Januari 2012. Tak ingin berlama-lama lagi, segera kukayuh sepedaku. Pulang.

***

Sore ini kembali kudatangi Danau Unhas. Kucoba melupakan kekecewaanku kemarin. Kuyakinkan hatiku bahwa dia hanya seorang lelaki yang kebetulan memilih Danau Unhas sebagai tempat hunting foto. Kucoba meyakinkan hati bahwa apa yang kurasakan ini hanya ketertarikan fisik semata. Tidak lebih.

Kuhampiri bangku kosong itu dengan perasaan lebih tenang. Tapi ketenangan itu ternyata hanya berlangsung sementara. Karena kudapati sebuah amplop berwarna kuning gading yang terlihat agak tebal dan bertuliskan : untuk gadis bersepeda ungu.

Deg!
Segera kubuka amplop tanpa nama pengirim itu. Dan isinya adalah berlembar-lembar foto diriku sejak empat hari yang lalu ketika berada di danau ini yang diambil secara diam-diam oleh lelaki jangkung itu–sepertinya. Kuakui dia lihai membidik sasaran. Saking lihainya sampai aku tidak menyadari bahwa akulah yang menjadi obyek.

Aku tersenyum tak henti-henti. Dengan mata, kucari sosok lelaki pencuri hati itu di sekeliling danau ini, tidak ada. Tak putus asa, pandanganku beralih ke danau di sebelah kanan, hasilnya sama. Nihil. Ah, biarlah, begini saja aku sudah bahagia. Setidaknya dia tahu bahwa aku ada. Dan ternyata dia memperhatikanku.

Sore ini aku tak ingin menggambar. Cukup membuka-buka ulang lembaran sketsa yang ada dia di dalamnya. Sambil mengingat saat-saat aku memperhatikannya selama tiga hari lalu.

Tiba-tiba sebuah suara berat menyadarkanku dari lamunan.
“aku memperhatikanmu secara diam-diam selama empat hari ini. Sebenarnya sejak hari itu aku ingin berkenalan. Tapi rasanya aku tak tega mengganggu kamu yang sedang menggambar…”
Jantungku berdetak semakin cepat. Jauh dari ukuran normal. Dia masih ada di belakangku dan akupun rasanya tak sanggup untuk sekedar berbalik menghadapnya.
Dia kemudian beranjak mendekatiku. Duduk di samping kananku. Menoleh ke arahku.
“Hai, siapa namamu?” tanyanya sambil tersenyum.
Aku hanya diam. Kutatap wajahnya untuk sekian detik sebelum akhirnya aku beranjak dari bangku itu, menuju sepedaku dengan buru-buru. Kutinggalkan dia dengan sederet pertanyaan dan sketchbookku yang tertinggal secara tak sengaja.

Biarlah, aku hanya belum ingin dia tahu bahwa aku bisu.

Simple Things

simple love

Simple Goodbye can make us cry. Simple Joke can make us laugh. Simple Care can make us fall in love | @TheLoveStories

Cinta itu sederhana. Sesederhana perkenalan kita. Sesederhana pertemuan demi pertemuan kita.
Kamu tahu, betapa hal yang meskipun sangat sederhana darimu bisa sangat berarti untukku. Setiap senyum yang kamu tebarkan disaat kamu membuka kaca helm standar mu. Setiap trik ‘sulap koin’ yang kamu pamerkan ketika kita bosan menunggu sesuatu. Setiap kerling matamu di akhir kalimat yang sengaja kamu gantung untuk membuatku penasaran. Setiap pesan singkatmu yang meskipun isinya cuma “ok” namun membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menghapusnya. Setiap ejekan-ejekanmu yang kemudian kubalas dengan cubitan mesra di pinggangmu. Setiap gelak tawa yang kamu hadirkan di antara senyap yang kadang menyelinap..

Ternyata jatuh cinta padamu hanya sesederhana itu.

Unspoken Words

Duduk termenung di bawah kerlip bintang yang terhampar di langit makassar. Kuacuhkan dingin yang menyelinap ke pori-pori. Dari balkon rumahku, hingar bingar kendaraan sepanjang tamalanrea raya terdengar. Kulirik layar ponselku. 22.55 wita.
“Kamu pasti datang”. Ucapku lirih menyemangati diri.
Meski dua jam kumenunggu namun tak ada tanda-tanda kedatanganmu. Satu hal yang membuatku bertahan adalah sms terakhirmu “tunggu aku” yang kubaca sekali lagi. Masih ada seutas harap disana..

23.15 wita.

Deru suara motormu yang sangat kukenal terdengar. Ah, akhirnya kamu datang. Aku tersenyum lega. Masih di balkon rumahku, kudengar tapak-tapak sendal jepitmu meniti tangga, dan samar-samar kudengar perbincanganmu dengan abangku yang mengantarkanmu ke lantai dua. Maaf, sengaja aku tak menyambutmu di depan pintu. Aku terlalu sibuk menenangkan diri, berusaha sebisa mungkin mengembalikan detak jantung ke ukuran normal. Tapi rasanya aku tak punya cukup waktu untuk itu. Karena tiba-tiba kamu sudah berdiri di hadapanku, dengan senyum khas yang selalu kurindukan.
“Kamu makin gemuk aja”. Itu sapaan pertamamu.
Aku bahkan tak bisa lagi mengingat kapan tepatnya terakhir kali kita bertatap muka.
“Kamu..”. Terlalu banyak yang ingin kuungkap, namun hanya kata itu yang terucap.
“Akhirnya kamu datang juga..” lanjutku singkat.
“Maaf membuatmu menunggu, tiba2 aku harus kerumah pacarku”.

Duerr!
Kenapa tiba2 ada guntur di tengah langit yang cerah begini? Dan anehnya guntur itu hanya menghantam kepalaku. Aku menghela napas panjang. Gelisah mulai menjalari kalbuku.
“it’s okay.. I know you so well. . Itu kalimat yang keluar dari mulutku. Hanya tak ingin kamu menangkap adanya semburat luka di sana.

Lalu demi melihat senyum yang menghias wajahmu, mendengar kamu memanggilku dengan panggilan ‘dodol’ seperti dulu, semua berubah menjadi cerita suka cita. Tak henti kuterkikik geli melihat ekspresimu berusaha menghabiskan puding produk gagal buatanku.

Aku dan kamu. Di bawah kerlip bintang dan hingar bingar kota makassar. Diam2 aku mencatat satu lagi kenangan indah yang tercipta bersamamu. Meskipun selalu ada pertanyaan yang mengganjal di sudut hati. Atas nama apakah kedekatan kita selama ini?

dan..
“Aku sayang kamu”
hampir saja kalimat keramat itu terucap dari mulutku ketika kulepas kepergianmu di pelataran parkir rumahku, tengah malam kala itu

 

Makassar, 1 juli 2011

Ketika..

Ketika kaki kita menjejak lantai yang sama
ketika sendal jepit kita melangkah pada jalan yang sama
ketika kita duduk pada satu kursi yang sama, menatap layar monitor yang sama
Ketika kita duduk di jok motor yang sama, mengarungi jalan raya yang sama
ketika kita menghirup oksigen yang sama
ketika pandangan kita tertuju pada satu titik yang sama
Ketika kita menikmati ombak dan angin di pantai yang sama
ketika telingaku mendengar tawamu di sela2 ceritamu
ketika jarak kita hanya 5 jengkal saja
ketika itu pula aku merasa cukup
cukup berada pada jarak seperti ini
cukup mengagumimu seperti ini
cukup karena aku hanya berani mencintaimu dengan cara diam-diam seperti ini..

Our Official Break Up

breakupfinger

Ini adalah hari pertama our official break up [meskipun bukan our first break up]. Bisa dipastikan sepaket duka-lah yg akan setia menemani hari-hariku ke depan.

Kita telah berusaha untuk menyelamatkan hubungan yang sudah tak sehat ini, tapi kita gagal. So, what can we do? You’ve made a great decision between us. So what can I do? Hanya bisa menyesali kebodohan dalam tangis. Dengan diam-diam. Dalam diam. That’s it. But don’t worry, I’ll be okay. Meskipun semuanya tak akan lagi sama tanpamu.

Inilah saatnya menjadi dewasa. Dalam kata, dalam sikap. Tak ada lagi ruang untuk bermanja-manja. Semuanya akan sangat bebeda sekarang. This pain is so hard to bear, but I believe I can make it through.

Sekarang aku memang jatuh, dan aku sedang ingin menikmati perih ini. Perih yang kuciptakan sendiri. Tapi aku yakin ketika aku bangkit nanti, I’ll be stronger. More than I ever be.

Well, ternyata inilah jawaban atas do’a yang kupanjatkan di setiap sujud terakhirku sebulan belakangan. Keikhlasan untuk melepaskanmu sebagaimana keikhlasanmu melepaskanku. Walau berat untukmu, dan sangat berat untukku. Tapi yakinlah Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita.

Terimakasih, untuk menyayangiku tanpa batas, mencintaiku tanpa alasan.

PS : You Know I Love You Still.