Arsip Kategori: life

Dear, D

Dear, D. The one who had burn my spirit to write again.

It’s been a long time since the last time i wrote about you. I don’t really remember when did the first time I wrote about every single thing on you. I was so interested that a day without writing you is a meaningless day.

Today, I don’t want to write about how much i adore you. I don’t want to write about how fast my heart beats when you’re near. I don’t want to write every single thing I like about you that make me suffer when I didn’t see you even a day.

You are my best friend. You are special. You are incredible. Your sillyness, your laughter, your suggestion in every problem I told you, your sarcastic opinion when I’m doing something weird, those things will always be on my mind.

Now you’re apart. I don’t wanna count how many days you left this town. I don’t wanna count how far you are from me. I don’t wanna countdown when will we meet again as you promise.

One thing I’ve just known about you: that you like reading my post, and the best thing is knowing that you want me to keep writing. I said: “You were my inspiration, so how do you expect me to write again, when you’re not here anymore?”. And you said: “every single thing is an inspiration, with or without me here, you have to keep writing. It’s your passion”

I remember the day when you wanted me to write a script for you. I was so excited because I always dream about a day that I make a story and you make it a movie. And when you asked me to do that, I didn’t need time to say yes. You get me to make a psycho story–not kind of my genre–but it really challenge me. I did my best but oneday you throw the script I gave you. I thought ” what’s wrong? I did my best. I wrote every single thing you want me to write. But you, with your arrogance throw it all and you had me to re-write every part that you don’t like”. Okay then, you are a director and a scriptwriter should have do what the director want. But i didn’t feel hurt. I thought my writing was really far from what you want. Then I write again, repairing the bad part of it. Not for you, but for me, to prove that I can write like what you want, to challenge myself that I can write out of my comfort zone.

So this is a post special for you,  who always force me to write no matter happen. To write every single thing i feel: sadness, happiness, joy, sorrow. To write every single person who stay in my heart: lover, friends, family, and even strangers.

Thank you for being my inspiration. Thank you for keeping this friendship. Thank you for letting me know that how far we’re apart, it’s not a big deal to still keep in touch. Thank you for remind me that a writing lasts forever.

Iklan

25 already

Yeah, 25 already. 3 days ago was my birthday.Β I’m getting older, and (hoping) getting wiser in every step I take in life. Β And I’m so grateful. I got a great gift from Allah–my bachelor degree on August 29–while 4 years ago I got the same great gift in my birthday, accepted as a student of Universitas Muslim Indonesia. Never enough to say thanks to Allah SWT for the rest of my life.

The first congratulation greeting came from an ex-bf by text (but I think I shouldn’t copy the text here, right? ). And so many wishes came from friends in social and real life. And the most popular wish was “Hope you get married soon”. Amin for that wish, guys.

Yeah, 25 is a “warning age” for some women–if you know what I mean. I realize that I should have got married on 24 or 25 but you know, we can’t get EVERYTHING we want. We may met a wrong one (or may be many wrong ones ? ) before we meet the right one. But still, I believe that love will find a way.

A friend of mine, Wirda said 25 is totally lucky number for me. I don’t really understand what did she mean with the “lucky” in her wall post, but I really thankful for the wishes πŸ™‚

I made a little celebration in my birthday and graduation day at once, I invited some close friends to come to my home and having a lunch (but unfortunately it became a dinner -_- ). But still, I’m so grateful having close friends like them, even sometimes they are annoying πŸ˜€

IMG_7418The close friends

IMG_7430

IMG_7431My surprise birthday cake came from my two brothers and sister

IMG_7443The first cake goes to my brother

What makes that day so special? “He” was on the spot, sitting next to me, for the first time in 4 years our friendzoneship πŸ˜€

Thank you for my dearest fellas Kiki Pratiwi Ayu Lestari, S.S , Afni Hardina, S.S , Siti Badriyah, S.S for everything we have been through in our last 3 years. And thank you for Muh. Hamdi Shadiq, S.S for being the best couple for Kiki πŸ˜€

Thank you for Dedi Junaedi (S.Kom wannabe), knowing you is a surprise, and every single thing happened between us is another surprise in it.

My wishes, of course, may I can be better, and I do hope I get my dreamy job soon (FYI, I’m already become an unemployment, as I’m no more a student), getting married with the right one. And of course, make my family proud of who I am.

Late night, a text come to my inbox and it really touch my heart:

Umur mulai berkurang, tapi semoga kebaikan selalu bertambah

That was from Aris, my classmate when we were in Kindergaten πŸ™‚

Hikmah di Balik Skripsi

Ini dia tahap paling akhir dari menjadi mahasiswa tingkat akhir: SKRIPSI. Udah kebayang dong gimana ruwetnya proses yang satu ini? Mulai dari pengajuan judul, blablablabla sampai ritual kejar-kejaran sama DosPem (Dosen Pembimbing)

Yak, hari ini saya ujian skripsi, atau istilah yang dipake mahasiswa di Makassar adalah “Ujian Meja”. Saya juga nggak tau asal muasalnya istilah ini. Padahal kan semua ujian itu pake meja ye?

Saya beneran nggak nyangka bisa ikutan ujian hari ini karena kemarin-kemarinnya udah hopeless banget secara tiap mau konsultasi selalu ada halangan. Mulai dari Dospem 1 yang lagi di Jakarta dan Dospem 2 yang… Ah, Sudahlah. Saking hopelessnya sampai-sampai saya bernadzar “kalau saya bisa ikut ujian tanggal 29 Agustus, saya bakal nraktir Afni dan Shyba karaokean di Diva (tapi 1 jam aja, yang 1 jamnya pake free pass πŸ˜€ ) dan juga bersihin lantai 2 rumah saya. Ini agak berat pemirsaaaa.

Dan Alhamdulillah, saya beneran bisa ikut ujian. Walaupun tanpa persiapan karena mental dan fisik udah keburu down akibat “kejar-kejaran sama Dospem”. Dan seperti biasa, yang terjadi menjelang ujian adalah perut tiba-tiba kontraksi. Mules iya, krucuk-krucuk karena belom sarapan iya, pengen boker juga iya. Akhirnya saya curhat via WhatsApp sama Dita, temen saya dari SMA. Katanya, pas dia dulu ujian skripsi, dia baca ayat kursi sambil bayangin wajah dosen pengujinya. Plus banyak-banyak baca Al-fatihah.

Saya pun percaya dan segera mencobanya. Dan ternyata it Works! Ujian saya berjalan lancar-selancarnya. Kayak sms-smsnya cowok yang lagi pedekate gitu. It floowwsss… Pertanyaan-pertanyaan penguji terjawab dengan lumayan lancar walaupun ada kesalahan grammar di sana-sini. Kagok juga sih karena udah lama nggak ngomong pake bahasa bule di depan umum. At least, saya sangat puas dengan ujian tadi, ketika tiba saatnya yudisium dan saya dapat nilai A untuk skripsi, dan LULUS DENGAN PUJIAN. Pokoknya, never enough to say Alhamdulillah for today.

Dan berhubung saya sempat pesimis bakalan dapat nilai A (karena untuk seminar proposal dulu saya cuma dapat nilai B), saya bernadzar lagi “Saya bakalan puasa selama 2 hari kalau saya dapat nilai A di ujian skripsi). Semoga bisa segera melaksanakannya πŸ™‚

Karena ini adalah pengalaman ujian skripsi yang pertama, so harus diabadikan dong.

IMG_7241Muka panik pas nunggu giliran diuji

IMG_7248Ketika diuji oleh penguji 1 yang sekaligus pembimbing 1

IMG_7290Foto bersama para Dosen Penguji setelah ujian

IMG_7319Muka sumringah abis yudisium

IMG_7304Bersama Highlight 09

Dan ternyata di balik semua keruwetan itu, ada satu hal yang saya rasakan, ada hikmah di balik semua itu, yaitu: SKRIPSI ITU BISA MENDEKATKAN YANG JAUH.

Maksudnya, yang selama ini kuliah gabungnya cuma sama teman yang itu-itu aja, sekarang semua itu nggak berlaku. Contohnya, baru-baru ini saya lagi stres gara-gara DosPem 1 saya lagi di Jakarta sedangkan ujian skrispi tinggal menghitung hari, dan di kampus saya ketemu sama teman yang DosPemnya adalah orang yang sama. Kami sama-sama galau. Sama-sama Risau. Dan saya masih butuh untuk masuk ke perpustakaan universitas untuk nyari referensi tambahan. Dan berhubung kartu perpustakaan saya udah kadaluarsa dari entah semester berapa, dan juga kartu yang belom diperpanjang masa aktifnya nggak bisa dipake masuk perpus, tiba-tiba sebuah ide cemerlang muncul di otak saya yang tiba-tiba canggih kalo lagi kepepet ini. Langsung aja saya main pinjem kartu perpustakaannya temen saya yang lugu ini. Dan dia dengan mudah meng-iya-kan.

Bukan itu saja, esok harinya, berhubung DosPem 1 tak kunjung tiba di Makassar, Beliau mengalihkan tugas konsultasi skripsi ke asistennya. Otak saya yang tadinya buntu dan pasrah kalau-kalau nggak bisa ikut ujian bulan ini tiba-tiba jadi fresh-se-fresh-fresh-nya. Pokoknya bakalan saya datangin di manapun rumahnya sang AsDos ini berada. Daaaannn, lagi-lagi saya mentok sama teman yang kartu perpusnya saya pinjam tadi. Kita janjian di kampus buat barengan ke rumahnya Asdos bo.. Dan berhubung dia nggak punya helm (penyakitnya mahasiswa yang nggak punya motor dan (biasanya) jomblo), saya rela bawain dia helm jauh-jau dari rumah. Dan tentu saja perjalanan ke sananya saya boncengin dia. Padahal nih, tiap harinya, boro-boro barengan, ngobrol aja jarang. Palingan say hai ba bi bu doang di kelas. Bukannya angkuh, tapi kayaknya saya terlalu asik dengan dunia maya -_-

Dan sesuatu yang bernama skripsi inilah yang menyatukan kami, menyadarkan kami untuk saling membantu ketika Dospem berada di negri antah-berantah atau ketika di-PHP-in sama Dospem.

So, guys.. remember all the day we spent in our last four years, and remember this day, when we fight to get this Bachelor Degree.

Oke, satu tahap sudah terlewati. Mulai besok saya sudah menjadi ‘pengangguran’ walaupun belum resmi. Then, are you ready for the next annoying question : “MAU KERJA DI MANA?” ?

KKN (Kuliah Kerja Nyantai) – 4

Yak, postingan ini adalah lanjutan dari postingan yang kemarin-kemarin (Part 1, 2 dan 3), dan ini adalah bagian terakhir dari kisah KKN saya yang mengharu biru. *halah*

***

Hari berganti hari, kami masih menjalani rutinitas KKN seperti biasa. Datang, duduk, ngerjain sesuatu yang nggak penting-penting amat, ngegosip, nyicil ngerjain skripsi, nyicil ngetik laporan KKN juga, ngetwit (as always), stalking, main line pop, nyuri-nyuri pandang ke Mas Bos (yang ternyata lama-lama diliat dia nggak cupu-cupu amat kok).

Generally, nothing’s different. Cuma yang bikin agak berbeda, jam ngantor kami yang dibikin “spesial”. Jadi kita ngantornya bukan jam 8 pagi, karena itu udah terlalu mainstream. Kita ngantornya setelah jam makan siang dong. Of course hal itu adalah sebuah anugerah bagi saya yang paling susah bagun pagi ini πŸ˜€

Tentu saja ide ini disponsori oleh Mas Bos yang ternyata baik hati itu. Saking baik hatinya, kita dikasi tugas khusus juga: ngasi private lesson ke 3 orang mahasiswa yang menurut Mas Bos bahasa inggrisnya paling kacau. Private lessonnya seminggu sekali dan dimulai jam 4 sore, setelah mereka selesai mengikuti semua kegiatan akademiknya. Artinya lembur lagi pemirsaaaa.

Waktu itu sih saya iya-iyain aja biar gampang. Secara nggak ada satupun proker kita yang disetujui sama Mas Bos. Yah, he’s kind of a perfectionist one, satu per satu proker ditolak dengan alasan ini-itu. Dan si Shyba sempat ngomel-ngomel nggak jelas gara-gara saya dengan gampangnya meng-iya-kan tugas khusus ini.

Dan hari demi hari terlewati dengan mo-no-ton. Tapi saya jadi tau bahwa sebenarnya Mas Bos ini tenyata orangnya ngocol juga, Cuma mungkin dia jaim aja sama kita-kita secara posisinya dia di situ sebagai “atasan temporer” kita, atau mungkin juga karena kita orang baru dan baru kenal jadinya ngocolnya dia ke kita nggak maksimal :D. Dan gara-gara one day saya sama si Afni pas lagi di ruangan heboh berdua ngomongin twitter, akhirnya si Mas Bos nimbrung dan minta difollow. Huahahaha. Harus hati-hati kalo ngetwit nomention lagi. Dan sejak saat itu tab mention dipenuhi oleh akunnya. Kayaknya dia ta’bangka twitter. Huahahaha *oops*

Minggu terakhir KKN, kita kenal sama seorang OB di situ. Masih muda dan anak kuliahan juga. Dan ternyata dia ngocolnya sebelas dua belas sama Mas Bos. Heran deh, kenapa hal-hal yang menyenangkan baru terasa ketika periode KKN udah mau abis. Rasanya tuh kayak lagi nonton film Bollywood. Tawurannya udah mau selesai, Inspektur Vijay nya baru datang. Zzzzzzzzz.

***

Empat puluh hari terlewati (minus hari sabtu-minggu karena libur, minus juga bolos-bolosnya kita πŸ˜€ ). Empat puluh hari yang bikin nyesek pada awalnya, tapi mengesankan di akhir. Terima kasih untuk Om Bos, Pak Bos dan Mas Bos yang bersedia “menampung” kami yang labil ini, terima kasih untuk traktiran-traktiran makan siangnya di kantin, terima kasih untuk nilai yang sangat memuaskan yang diberikan kepada kami, terima kasih untuk semuanya πŸ™‚

KKN (Kuliah Kerja Nyantai) – 3

Hari Ke tiga dan seterusnya sampai sekitar seminggu lebih kami masih dilanda kebetean luaaarrr biasa. Di lubuk hati yang terdalam pun mulai muncul sebuah penyesalan kenapa akhirnya kami KKN di sini. Tapi yah mau gimana lagi, nasi sudah terlanjur menjadi bubur, tinggal ditambahin ayam, bawang goreng, sambel sama kerupuk aja, jadi deh bubur ayam.

Om bos jarang datang ke kantor, kalaupun datang, palingan cuma sebentar trus pergi lagi. Pak Bos sehari-hari asik berkutat di depan laptopnya dan sayup-sayup terdengar dari dalam tempat nongkrong kami (baca: lab) playlist lagu-lagu jadul yang itu-itu saja berulang-ulang.

Hari entah ke berapa tepatnya hari Jumat, kami dapat instruksi dari Mas Bos lewat temannya yang berkantor di Gedung Kepegawaian untuk meng-handle ekskul yang diadakan setiap jumat sore. Sempat keder juga karena yang bakalan dihadapi ini mahasiswa juga, tapi nekat-nekat aja lah mengingat saya pernah beberapa kali mengahandle english meeting club discussion. Yasudahlah, dijalani saja walaupun itu artinya kami bertiga harus lembur sampai menjelang maghrib. Dari pada cuma ongkang-ongkang kaki seharian kan?

Dan alhamdulillah ekskul sore itu berjalan lancar walaupun saya harus menghandle satu kelas sendirian sementara dua teman saya itu berkonspirasi untuk menghandle satu kelas berdua.

Hari-hari berikutnya kami mulai pindah tempat nongkrong ke ruangannya para Bos. Nyesek banget tau nongkrong di lab yang nggak ada hiburan sama sekali dan diawasi CCTV. Tapi seruangan sama Pak Bos juga bukan ide yang cemerlang banget. Masa iya ada gitu tinggal seruangan selama jam kantor tapi interaksinya dikiiiiitttt banget πŸ˜₯

***

Hari Kedatangan Mas Bos

Kalau nggak salah waktu itu hari senin. Dan kayaknya hari itu saya terlambat (lagi) masuk kantor. Afni dan Shyba udah nongkrong duluan di lab. Mereka langsung bisik-bisik ngabarin kalau Mas Bos (yang selama ini kami nanti-nantikan dan harap-harapkan untuk bisa mengubah nasib kami yang membosankan di lab ini) udah masuk kator. Cuma waktu itu dia lagi ke luar ruangan jadi pas saya masuk saya nggak ketemu.

Saya makin penasaran dong kayak apa wujudnya si Mas Bos ini. Nggak lama, dia masuk ruangan dan langsung duduk anteng mantengin laptop di kursinya (kita bertiga ngintip-ngintip dari jendela). Ternyata dia beneran masih muda, umurnya sekitaran… mungkin belom kepala 3. Pake kacamata (tipe cowok gue banget πŸ˜‰ ), agak putih, badannya proporsional, dari jarak pandang saya waktu itu sih mukanya biasa aja dan model rambutnya agak cupu *oops, sori bos πŸ˜€ *

Kami bertiga udah menggantungkan harapan sama dia bahwa dia bisa ngubah nasib kami yang cukup suram selama seiminggu lebih di lab ini. Etapi kok sampe siang menjelang sore dia kagak nyamperin juga? Nggak ada acara kenalan pula! Walaupun kemarinnya saya sama dia sempet kenalan and ngobrol basa-basi di Line, tapi kan kurang afdol kalo nggak kenalan langsung.

Fix, hari itu kami kecewa sama Mas Bos, ternyata quote “the more you hope, the more you’ll get hurt” yang bertebaran di dunia maya itu benar adanya. Kami ngarep kehadiran Mas Bos bakal ngasih pencerahan di hari-hari kami yang suram itu cuma harapan semata. Saking kecewanya sampai-sampai waktu itu saya ngetwit nomention yang isinya gini:

Ada atau tidak adanya kamu itu sama!

Untungnya waktu itu kita belum saling follow di twitter.

Tapi ternyata hari-hari berikutnya mulai berbeda. Pepatah yang sudah kita kenal dari jaman SD “tak kenal maka tak sayang” itu ternyata benar adanya.

*bersambung ke part 4*

KKN (Kuliah Kerja Nyantai) – 2

Hari pertama KKN

Hari pertama KKN diiringi dengan perasaan dumba-dumba nggak karuan. Gimana enggak, ini pengalaman KKN pertama dalam hidup. Belum apa-apa udah kebayang bosnya ganteng baik nggak ya? Suasananya nyaman nggak ya? Trus ntar kita disuruh ngapain aja ya?

Pagi-pagi jam setengah 8-an kita udah nyampe lokasi. Dan berhubung waktu itu hari senin, kita sempat ‘menyaksikan’ upacara bendera segala.

Oke, skip. Itu nggak penting-penting amat buat diceritakan.

Kami bertiga langsung menuju lokasi yang akan menjadi “tempat gahul” kita selama 40 hari ke depan. Tepatnya di Unit Bahasa. Gedung ini terdiri dari 2 ruangan. Ruangan pertama, “tempat nongkrongnya” para bos di sini. FYI, ada 3 orang yang menempati ruangan ini. Sebut saja Pak Bos, Om Bos, dan Mas Bos. Ruangan kedua adalah murni laboratorium bahasa yang dilengkapi dengan CCTV mamen!

Hari pertama kami cuma ketemu sama Pak Bos dan Om Bos. Awalnya saya mengira kepala unitnya di sini Pak Bos, tapi saya salah besar pemirsa. Justru kepala unitnya adalah Om Bos yang gayanya justru nggak bossy dan gahul juga bo.. Beliau ngantornya pake moge!

Trus apa kabarnya Mas Bos? Setelah nanya basa-basi kesana kemari, ternyata Mas Bos lagi Diklat di Jakarta. Eerrrr.

Sebenarnya saya penasaran juga sih kayak apa tampangnya Mas Bos ini. Menurut kesaksian Afni dan Shyba yang udah pernah ketemu sekali sama dia, katanya sih dia masih muda dan lumayan ganteng. Macaciiiiihhhh…?

Dan ketika saya sempat lihat fotonya yang terpampang di meja kerjanya, ternyata mukanya BIASA AJA. Pada awalnya loh ya. Pada awalnya.

Oke, cukup untuk perkenalan Trio Bos ini.

Hari pertama KKN ternyata sangat membosankan. Nggak ada seorangpun di antara kami yang bawa laptop waktu itu. Hidup terasa hambar kayak sambel terasi nggak pake terasi. Kami cuma nongkrong di lab and did nothing. Nothing yang berhubungan dengan kerjaan kantor tentunya. Kalo ngerjain hal-hal yang lain sih udah. Contohnya, ngegosip, curhat-curhat nggak jelas, telponan sama pacar (waktu itu masih jadi korban LDR), main line pop sampe poge malah.

Sampe akhirnya kita ngelakuin random thing like this..

1370574415714

Hari ke dua KKN.

Rumor yang beredar di kalangan mahasiswa tingkat akhir bahwa peserta KKN Profesi itu kerjanya cuma disuruh-suruh bikin kopi itu cuma isapan jempol belaka pemirsa. Di kantor ini, setiap pagi kopi sudah tersedia di meja Pak Bos sebelum kami datang. Bahkan, di mejanya Mas Bos yang jelas-jelas orangnya lagi di Jakarta aja setiap pagi ada segelas teh hangat dan air putih.

Hari ke dua kami masih ongkang-ongkang kaki karena kita belum bikin program apapun. Bedanya, saya mulai berinisiatif unruk bawa laptop biar bisa nyambi nyicil ngerjain laporan. Tapi yang terjadi malah itu laptop kita pake nonton drama korea dan dipake Shyba buat main Onet. Zzzzzz

*Bersambung*

KKN (Kuliah Kerja Nyantai)

Akhirnya bulan februari kemareeen saya memasuki tahap yang cukup sakral bagi mahasiswa tingkat agak akhir, yaitu KKN. Di jurusan saya cuma ada 2 jenis KKN, yaitu KKN Reguler dan KKN Profesi. Pasti udah pada tau dong ya bedanya kedua jenis KKN ini?

Sebenarnya, di lubuk hati saya yang terdalam, saya mendambakan mengikuti KKN reguler saja. Nggak tahu kenapa, saya cuma INGIN. Pingin aja merasakan 40 hari tinggal di kampungnya orang. Pingin merasakan suasana baru, suasana pedesaan (padahal dari desa juga sih sebenarnya). Biar berasa lagi main di “Jika Aku Menjadi”Β  gitu deh.. #KemudianDitendang

Jadi ketika teman-teman seangkatan lagi galau mau ambil KKN yang mana, saya dengan mantab bilang sama mereka bahwa saya mau ambil KKN Reguler aja.. Walaupun ketiga teman dekat saya memilih KKN Profesi dan pastinya ngompor-ngomporin saya buat milih KKN Profesi juga.

Dan selama masa penuh kegalauan itu, bisik-bisik yang santer terdengar di telinga saya kurang lebih kayak gini:

Yang Pro KKN Profesi bilang gini:

Pilih KKN Profesi ma ko do’, enakki, di kantor-kantor. Sapa tau baguski kinerja ta bisa itu nanti kerja di situ nah. nah bisa jki pilih sendiri instansi yang mau dimasuki. Bisa jki PP tiap hari.

Ih bodo’nya kau mau KKN Reguler. Weeh pikirko itu, jauhko dari rumah, jauhko dari orang tuamu, jauhko dari mall. Belum lagi tinggalko di rumahnya orang, belum tentu cocokko sama yang punya rumah. Soal makan lagi nah, kah carewetko soal makanan. Lidahmu lidah Jawa, bukan lidah Makassar. Bokermu lagi, barang boker di sungai ko nanti. Cidda’ko!

Yang Pro KKN Reguler bilang gini:

Kata senior-senior yang KKN Profesi dulu sih, mereka kerjanya cuma disuruh-suruh bikin kopi, bersih-bersih, disuruh fotokopi, bikin ini itu.. Mendingan KKN Reguler deh, kita bisa mengaplikasikan ilmu yang kita dapat di kampus ke masyarakat. Kita bisa bangun dan memajukan desa.

Dan saya pun mulai terjangkit kegalauan.

Kata-kata teman-teman saya itu ada benarnya juga sih di beberapa bagian. Khususnya di bagian “makan dan boker”.

Setelah beberapa lama mengalami perdebatan batin yang cukup hebat dan juga konsultasi dengan keluarga., juga dengan pertimbangan agar bisa lulus duluan karena waktu penyelenggaraan KKN Profesi lebih duluan daripada KKN Reguler, akhirnya saya memilih KKN Profesi.

Berhubung saya pendatang dan kurang punya kenalan di instansi-instansi, maka saya menyerahkan sepenuhnya urusan KKN Profesi ini pada sahabat saya yang unyu, Afni. Kantor apapun yang akan menjadi lokasi KKN nya secara otomatis akan menjadi lokasi KKN saya juga. Pokoknya kemanapun kakinya melangkah, di situlah saya mengekor. Saya pasrah aja pokoknya. Dan selain saya, ada sahabat saya satu lagi, Shyba. Nantinya kita bertiga bakal ditempatkan satu lokasi. Ya, kami memang sering kemana-mana bertiga. Udah body hampir sama mungilnya, kemana-mana barengan, semakin lengket lah julukan trio tubies itu 😐

Dan pilihan lokasi kami jatuh pada sebuah sekolah teknik penerbangan gitu deh.. Itupun karena ada tetangganya si Afni yang kenal sama orang dalam. Mungkin agak nggak nyambung ya secara jurusan saya itu sastra inggris, lah kok KKN nya di sekolah teknik penerbangan. Tapi ternyata masih nyambung loh pemirsa! Mereka kan nantinya berkomunikasi pake bahasa inggris. Dan di sana kami ditempatkan di laboratorium bahasa. Sounds great enough sih, pada awalnya.

Pada awalnya, nah! Pada awalnya!

Tapi kayaknya segini dulu postingan saya yang cukup panjang ini. Hari-hari yang kami jalani selama masa KKN *tsaaahh* akan segera hadir di postingan berikutnya.

Twenty-Something

*This is a very late post…

Sebenarnya pengen ngepost ini dari pas hari H, tapi karena kesibukan saya yang bejibun hingga membuat postingan ini harus ditulis setahap demi setahap. udah kayak skripsi aja gitu.

Jadi gini, tanggal 31 Agustus kemarin (kemarinnya orang jawa) saya ulang tahun. Seiring dengan perkembangan informasi dan teknologi yang semakin canggih, maka seantero dunia maya pun tahu bahwa hari ini saya berulang tahun yang ke ummm dua puluh empat.

Dan berbagai ucapan selamat ulang tahun dengan berbagai versi pun memenuhi wall fesbuk dan tab mention saya. Ini dia, JRENG JREEEEENGGG

Versi minimalis

HB = Hari burung (?)

Oke skip..

Versi Ter-cepat

Dari sahabat saya @kikilingling

Ini dia ucapan selamat ulang tahun tercepat dari salah satu sahabat saya, tepatnya pukul 00.02 WITA. Lengkap dengan kata “sayang” using that f*cking alay autotext -_-

Bukan cuma twit sih, dia juga ngirim ucapan yang sama via sms dan whatsapp. Harusnya sih nggak usah banyak-banyak, yang penting kan kadonya.

Next…

Versi ter-talekang

Dari @dinna_hardina

Tweet dari @dinna_hardina yang sudah saya retweet

Hell-to-the-ooooo a.k.a hellooo… Udah ngedit foto dengan sangat tidak manusiawi seperti itu masih berani minta traktiran? Hih!

Dari @kikilingling (lagi)

Ya selain dia merupakan pengirim tercepat, ucapannya juga cukup “talekang”. Entah kenapa dia bangga sekali menyebut angka dua puluh empat itu -_-

Dari adik saya @bizwud

Ucapannya itu loh, kenapa harus FRIENDZONE? FRIENDZONE? FRIENDZONE?

Tapi semuanya sudah terlambat, Dek. Aku terjatuhh dan tak bisa bangkit laagiiii, aku tenggeeelam dalam lautaaaan lukaaaa FRIENDZONEEEE

Tapi kemudian saya berpikir, mungkinkah ucapannya yang cukup talekang itu karena pas dia ulang tahun, saya nulis ini?

Dari adik saya juga @Ristiea

Yah doakan saja ya, Dek, semoga ada cowok ganteng, setia, cerdas, baik hati, tidak sombong, sabar dan penyayang serta tidak makan sabun yang nantinya khilaf jatuh cinta pada kakakmu ini πŸ˜€

Dari @iyunkvenus si belalang tempur

Menurut ngana? Ngana aja yang bisa ultah? Tapi kadonya menarik juga.. asal nggak brengsek aja :p

Next…

Versi ter-Jodoh

Versi ter-muuaachh di hati

Dari kak Wirda

Β  yang ternyata ada sedkit typo dan akhirnya direvisi

Thanks a lot kakak.. Even we’ve never meet each other, but I know you really care.. Udah gak terhitung seberapa sering saya curhat “nyampah” ya..

***

Little Surprise Party

Awalnya saya pikir hari itu akan menjadi biasa-biasa saja, just like my last years. Tapi kedatangan teman-teman saya menjadikan hari itu menjadi tidak biasa-biasa saja. Yah walaupun tetep aja sih tanpa kehadiran seorang kekasih #kode plus #curhatabis.

Jadi tiba-tiba si @kikilingling ini nongol di pintu kamar saya yang kebetulan nggak saya tutup dan saat itu saya lagi tengkurap-tengkurap unyu sambil stalking-stalking hore. Tau-tau ada suara ketawa-ketawa ngikik dengan volume suaranya yang abnornal untuk ukuran seorang wanita itu. Plus ada bau-bau asap gitu yang ternyata cek per cek bau itu berasal dari lilin di atas kue ultah ‘mini’ yang dia bawa buat saya.

Inilah muka saya pas baru bangun. Ternyata tetap manis. Cuman banyak yang belom nyadar aja..

Masih pake baju bobo, rambut awut-awutan dan muka bantal. Tapi tetep pede kok.

Nggak lama kemudian @dinna_hardina datang. Ternyata mereka sudah bersekongkol untuk melakukan hal ini padaku.

Ini versi saya udah mandi loh.. Gak ada bedanya sih mandi ataupun enggak, tetep aja di-friendzone-in. #SelipanCurhat

@dinna_hardina yang ngeksis pake kado dari @kikilingling

Dan inilah dia kue “mini” itu

Kado dari kiki

Deg-deg an pas buka ini en ngarep banget isinya hape :p

JENG JEENGG… Sekotak Beng-beng?

Oh bukan.. ternyata… baju!

Wait.. ini si kiki lagi mabok kali ya pas beli? Masa iya tulisannya “I’m just a girl who loves his boy”. Maksud loooee.. MAHO?

Thank you anyway for the gift, sweety πŸ™‚

Wishing

Tentunya saya berharap dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik di usia saya yang ke dua puluh empat ini. Karena kalo saya berharap tambah tinggi juga nggak mungkin..

Dan berhubung bulan ini juga saya sudah masuk di semester tujuh, saya juga berharap di semester ini TIDAK ADA KULIAH PAGI. Yah kalaupun ada, saya berharap saya bisa bangun pagi, meninggalkan kebiasaan saya yang bangun cuma matiin alarm terus lanjut tidur lagi dan ujung-ujungnya telat bahkan bolos kuliah pagi..

Dan berhubung usia saya sudah tergolong pantas menikah, namun sampai saat ini ternyata saya sudah beberapa kali ‘salah memilih pasangan’, jadi harapan saya adalah saya segera bertemu dengan jodoh saya entah itu terjadi di kala hujan lebat, kemudian saya berteduh di emperan toko, kemudian datanglah seorang cowok menawari saya untuk sepayung berdua dengannya.. dan besoknya saya jadian.. Atau di sebuah toko buku, ketika saya akan mengambil sebuah buku ternyata ada tangan lain yang juga akan mengambil buku itu, kemudian saya berpaling padanya, menatapnya dengan jengkel tapi ternyata ketika mata kami beradu, ternyata dia adalah… jeeng jeeenggg…. FERNANDO JOSE??

Ah sudahlah, sepertinya saya terlalu banyak nonton FTV.

Yang Masih Membekas Untuk Kalian

Dear, My bestest

Rasanya baru kemarin sore saya mengenal kalian. Ketika tiba-tiba saya harus pindah sekolah, tinggal satu kos dengan kalian, beradaptasi dengan lingkungan baru saat itu.

Rasanya baru kemarin sore saya belajar bersama kalian, duduk-duduk di teras rumah kos kita sambil mencuri-curi pandang pada cowok manis anak tetangga depan rumah.

Rasanya baru kemarin sore saya berangkat ke sekolah bersama kalian, tentunya dengan keterburu-buruan karena saya selalu terlambat bangun dan mendapat giliran mandi paling akhir di antara kalian.

Rasanya baru kemarin kita pulang sekolah sama-sama, saling menunggu karena kita berada di kelas yang berbeda. Kemudian kita berlomba-lomba menebak kira-kira menu makanan apa yang dimasak oleh induk semang kita.

Rasanya baru kemarin sore kita merayakan kelulusan SMA kita, meninggalkan kebiasaan-kebiasaan labil kita pada masa itu, dan mulai merencanakan kelanjutan hidup jangka panjang kita.

Rasanya baru kemarin sore tetapi ternyata telah ada begitu banyak proses yang telah kita lalui dengan jalan kita masing-masing yang tentunya tak selalu mulus.. Menjalani hidup sebagai mahasiswa, hingga tahun lalu, saya sangat iri sekaligus termotivasi untuk segera meraih gelar Sarjana Sastra ketika melihat foto ini…

Dita Septy Wardana Kusumawati, S.Si

Dan kini, yang lebih menakjubkan adalah ketika gelar dua orang dari kalian sudah berubah menjadi seorang istri.. Benar-benar rasanya seperti baru mengenal kalian sejak kemarin sore. Dita, Devi, Nia. Betapa saya merindukan kebersamaan kita..

***

Beberapa hari lalu,Β  perasaan saya tiba-tiba dilingkupi rasa haru, ketika sebuahΒ  foto masuk ke chatroom whatsapp saya, dan ternyata isinya ini..

Devi Agustina Kuswanti, Amd dan Suami

You look so beautiful Dev.. Meskipun tanpa make up pun kamu sudah cantik. Tapi kecantikanmu ini bertambah berkali kali lipat karena kamu terlihat sangat bahagia. Be a great wife, Dev.. Meskipun saya tidak bisa hadir di pernikahanmu karena jarak yang terbentang antara kita *halah*, tapi do’a saya selalu ada untuk kebaikanmu.

Pernikahanmu ini mengingatkan saya akan satu hal; kalian ingat kan ketika suatu sore kita berangan-angan membayangkan seperti apa suami kita di masa depan? Dan yang lebih menggelikan adalah ketika kita membayangkan bagaimana cara kita menyambut suami kita ketika pulang kerja. Jadi, bagaimana kamu meyambut suamimu ketika dia pulang kerja, Dev?

P.S : Saya mewek pas nulis ini, jadi kalian juga harus mewek pas baca ini :p. Love ya all πŸ™‚

My “me” Time

Being alone is just a simple way to let bored go | @si_ucrit

And here I am. Di sebuah tempat yang tdak bisa disebut dengan kafe di jalan A.P Pettarani, Makassar. Hanya ada segelintir orang di sini, memang tempat ini tidak terlalu ramai pengunjung pada siang hari seperti ini.

I’m alone, but I’m not lonely. Saya sedang bersama semua hal yang ada di pikiran saya–kuliah, kerjaan, keluarga, teman-teman, dia, dan banyak hal–yang sebenarnya ingin saya ungkapkan degan tulisan.

Sometimes, being alone makes me feel comfort. Seperti saat ini. Dengan sekotak pisang nugget rasa cokelat putih dan A thousand years nya Christina Perri yang entah sudah berapa kali ter-repeat dari laptop saya, saya seperti bisa berpikir tentang banyak hal.

Mungkin, bagi sebagin orang, sendirian itu tidak menyenangkan. Alasannya beragam. Mulai dari merasa asing di tengah keramaian, merasa canggung menjadi pusat perhatian banyak orang karena berjalan seorang diri, dan alasan-alasan lain yang beragam. Dalam kehidupan sehari-hari di tempat saya menetap sekarang, kondisi seperti ini diistilahkan dengan solkar atau solo karir. saya juga tidak tahu asal muasal istilah yang cukup happening ini, yang jelas, istilah ini sering sekali terlontar dari teman-teman yang melihat ada seseorang yang beraktivitas sendirian, meskipun kebanyakan konteksnya bercanda.

Bagi saya, pergi sendirian ke suatu tempat dan melakukan sesuatu sendirian itu seperti refreshing. Kadang-kadang saya merasa bosan pergi ke mana-mana berramai-ramai. Tapi bukan berarti teman-teman saya membosankan. Saya hanya merasa, terkadang butuh waktu untuk sendirian saja, seperti saat ini. Melakukan hal-hal yang saya suka, mendengarkan musik yang saya suka, menuliskan apa yang ada di benak saya–karena menulis itu menyembuhkan. Dan itu membuat saya nyaman untuk sementara–sebelum saya kembali ke rutinitas semula.

Tidak perlu menunggu hingga weekend tiba untuk melakukan hal ini. Karena ketika saya merasa penat dengan rutinitas yang ada, saya tahu harus bagaimana.

*tempat ini mengingatkan saya pada kafe milik seorang teman yang dulu sering saya singgahi ketika saya ingin sendirian. Saya rindu Hot Chocolate yang tidak terlalu panas, dan saya rindu dia.