Arsip Kategori: my dayz

The Power of Praying

A moment before I left the office yesterday, I found a friend of mine, Delvi, was sitting in her chair while closing her eyes with her fingers were meshed each other. She’s praying.

Me, with my oh-so-slengean- style was tempting her. I said “tawwa rajinmu berdo’a, Del”. She was just smiling–as far as I know her, she is a kind girl with thousand smile. Everytime I talk to her, even if I asked something that oh-not-so-important, she always respond me with a smile before she answered.

Right after Delvi smiling, Jessica, the girl sitting beside Delvi answered “Delvi itu rajin nah berdoa. Setiap datang dan mau pulang dia nda lupa berdoa”

And I felt something warm spread my heart.

After tidying up her stuff, She told me why she did so. She said, at the beginning–the first time she worked here–she got much problem. I assumed the problem she got is like what I got. And she thought a lot about it. Then she realized it was because she never pray.

I was surprised, it felt like someone SLAP me right on my cheek.

I did so. The first time I came here, I was just letting it flow.

Delvi is a Christian. But she is an obey one. She told me that after she did praying everyday, her God help her through it all.

Really, I was feeling like I’m slapped right on my cheek. The way she told me her experience made me realize that I’m now so so so so far away from Allah.

I thought a lot in my way home last night.

Iklan

Selling Happiness

Image

Some people sell happiness while they don’t taste any of it

May be it is too much when I say now I’m just like they boy in the picture. I currently work in an office who offers people to go for a vacation in domestic or even international destination while I DO NOT taste any of it.

And this is all I feel.

Wake up early morning, working in a routine from Monday till Saturday, handling people who want to reserve a hotel room, help them to make a passport, visa and other travel documents is really suck. And facing the traffic jam in my way–go and go home–make it suck even more.

All I want is SUNDAY.

But what happened in Sunday is so so so so far from the meaning of HOLIDAY.

Okay, let’s skip it..

I was feeling like I want to give up for this job. As the circle is totally new for me and I feel little bit hard to adapt here. Everything is totally different with my world. I got much problem to handle every single thing here. But still, I think I can learn everything here by doing step by step. Let me give you a simple analogy; A baby doesn’t run when he’s born, he need to crawl, walk, and then run.

However, the behind-the-scene why I can work here is surprising enough. The job ‘came’ to me me even when I didn’t expect it. Then I think, leaving this job is so so so BAD decision. This is what make me stay in this job.

And the caption of the picture; Some people sell happiness while they don’t taste any of it.

It is like what happened to me.

I sell the holiday package while I don’t taste any of it.

For this one year.

And then I think, think, and think that this is just a stepping stone for me to chase something higher, to chase something greater than before, more than I ever get. As my wishlist this year is to travel a lot–I ever read an article about why we should travel a lot when we are young–to hike mountain, to go somewhere new–the place I never visit before, to do something new I never knew before, meeting a lot of person I never met before.

I’m very grateful to have a lot of friends who always give me support when I was really really down.

A friend of mine told me when I came to him with a gloomy feeling just because I felt like I couldn’t stand it anymore, He–who always speak cryptical–said to me

Jangan bawa-bawa perasaan ke urusan pekerjaan

I was thinking a lot that night. Thinking why I was so easily to break.

And he was right, and so were my other friend. Just because someone was not being nice to me doesn’t mean she/he can stop me to struggle here.

That is why I still staying in this place. The place where I write this post.

Hikmah di Balik Skripsi

Ini dia tahap paling akhir dari menjadi mahasiswa tingkat akhir: SKRIPSI. Udah kebayang dong gimana ruwetnya proses yang satu ini? Mulai dari pengajuan judul, blablablabla sampai ritual kejar-kejaran sama DosPem (Dosen Pembimbing)

Yak, hari ini saya ujian skripsi, atau istilah yang dipake mahasiswa di Makassar adalah “Ujian Meja”. Saya juga nggak tau asal muasalnya istilah ini. Padahal kan semua ujian itu pake meja ye?

Saya beneran nggak nyangka bisa ikutan ujian hari ini karena kemarin-kemarinnya udah hopeless banget secara tiap mau konsultasi selalu ada halangan. Mulai dari Dospem 1 yang lagi di Jakarta dan Dospem 2 yang… Ah, Sudahlah. Saking hopelessnya sampai-sampai saya bernadzar “kalau saya bisa ikut ujian tanggal 29 Agustus, saya bakal nraktir Afni dan Shyba karaokean di Diva (tapi 1 jam aja, yang 1 jamnya pake free pass 😀 ) dan juga bersihin lantai 2 rumah saya. Ini agak berat pemirsaaaa.

Dan Alhamdulillah, saya beneran bisa ikut ujian. Walaupun tanpa persiapan karena mental dan fisik udah keburu down akibat “kejar-kejaran sama Dospem”. Dan seperti biasa, yang terjadi menjelang ujian adalah perut tiba-tiba kontraksi. Mules iya, krucuk-krucuk karena belom sarapan iya, pengen boker juga iya. Akhirnya saya curhat via WhatsApp sama Dita, temen saya dari SMA. Katanya, pas dia dulu ujian skripsi, dia baca ayat kursi sambil bayangin wajah dosen pengujinya. Plus banyak-banyak baca Al-fatihah.

Saya pun percaya dan segera mencobanya. Dan ternyata it Works! Ujian saya berjalan lancar-selancarnya. Kayak sms-smsnya cowok yang lagi pedekate gitu. It floowwsss… Pertanyaan-pertanyaan penguji terjawab dengan lumayan lancar walaupun ada kesalahan grammar di sana-sini. Kagok juga sih karena udah lama nggak ngomong pake bahasa bule di depan umum. At least, saya sangat puas dengan ujian tadi, ketika tiba saatnya yudisium dan saya dapat nilai A untuk skripsi, dan LULUS DENGAN PUJIAN. Pokoknya, never enough to say Alhamdulillah for today.

Dan berhubung saya sempat pesimis bakalan dapat nilai A (karena untuk seminar proposal dulu saya cuma dapat nilai B), saya bernadzar lagi “Saya bakalan puasa selama 2 hari kalau saya dapat nilai A di ujian skripsi). Semoga bisa segera melaksanakannya 🙂

Karena ini adalah pengalaman ujian skripsi yang pertama, so harus diabadikan dong.

IMG_7241Muka panik pas nunggu giliran diuji

IMG_7248Ketika diuji oleh penguji 1 yang sekaligus pembimbing 1

IMG_7290Foto bersama para Dosen Penguji setelah ujian

IMG_7319Muka sumringah abis yudisium

IMG_7304Bersama Highlight 09

Dan ternyata di balik semua keruwetan itu, ada satu hal yang saya rasakan, ada hikmah di balik semua itu, yaitu: SKRIPSI ITU BISA MENDEKATKAN YANG JAUH.

Maksudnya, yang selama ini kuliah gabungnya cuma sama teman yang itu-itu aja, sekarang semua itu nggak berlaku. Contohnya, baru-baru ini saya lagi stres gara-gara DosPem 1 saya lagi di Jakarta sedangkan ujian skrispi tinggal menghitung hari, dan di kampus saya ketemu sama teman yang DosPemnya adalah orang yang sama. Kami sama-sama galau. Sama-sama Risau. Dan saya masih butuh untuk masuk ke perpustakaan universitas untuk nyari referensi tambahan. Dan berhubung kartu perpustakaan saya udah kadaluarsa dari entah semester berapa, dan juga kartu yang belom diperpanjang masa aktifnya nggak bisa dipake masuk perpus, tiba-tiba sebuah ide cemerlang muncul di otak saya yang tiba-tiba canggih kalo lagi kepepet ini. Langsung aja saya main pinjem kartu perpustakaannya temen saya yang lugu ini. Dan dia dengan mudah meng-iya-kan.

Bukan itu saja, esok harinya, berhubung DosPem 1 tak kunjung tiba di Makassar, Beliau mengalihkan tugas konsultasi skripsi ke asistennya. Otak saya yang tadinya buntu dan pasrah kalau-kalau nggak bisa ikut ujian bulan ini tiba-tiba jadi fresh-se-fresh-fresh-nya. Pokoknya bakalan saya datangin di manapun rumahnya sang AsDos ini berada. Daaaannn, lagi-lagi saya mentok sama teman yang kartu perpusnya saya pinjam tadi. Kita janjian di kampus buat barengan ke rumahnya Asdos bo.. Dan berhubung dia nggak punya helm (penyakitnya mahasiswa yang nggak punya motor dan (biasanya) jomblo), saya rela bawain dia helm jauh-jau dari rumah. Dan tentu saja perjalanan ke sananya saya boncengin dia. Padahal nih, tiap harinya, boro-boro barengan, ngobrol aja jarang. Palingan say hai ba bi bu doang di kelas. Bukannya angkuh, tapi kayaknya saya terlalu asik dengan dunia maya -_-

Dan sesuatu yang bernama skripsi inilah yang menyatukan kami, menyadarkan kami untuk saling membantu ketika Dospem berada di negri antah-berantah atau ketika di-PHP-in sama Dospem.

So, guys.. remember all the day we spent in our last four years, and remember this day, when we fight to get this Bachelor Degree.

Oke, satu tahap sudah terlewati. Mulai besok saya sudah menjadi ‘pengangguran’ walaupun belum resmi. Then, are you ready for the next annoying question : “MAU KERJA DI MANA?” ?

KKN (Kuliah Kerja Nyantai) – 4

Yak, postingan ini adalah lanjutan dari postingan yang kemarin-kemarin (Part 1, 2 dan 3), dan ini adalah bagian terakhir dari kisah KKN saya yang mengharu biru. *halah*

***

Hari berganti hari, kami masih menjalani rutinitas KKN seperti biasa. Datang, duduk, ngerjain sesuatu yang nggak penting-penting amat, ngegosip, nyicil ngerjain skripsi, nyicil ngetik laporan KKN juga, ngetwit (as always), stalking, main line pop, nyuri-nyuri pandang ke Mas Bos (yang ternyata lama-lama diliat dia nggak cupu-cupu amat kok).

Generally, nothing’s different. Cuma yang bikin agak berbeda, jam ngantor kami yang dibikin “spesial”. Jadi kita ngantornya bukan jam 8 pagi, karena itu udah terlalu mainstream. Kita ngantornya setelah jam makan siang dong. Of course hal itu adalah sebuah anugerah bagi saya yang paling susah bagun pagi ini 😀

Tentu saja ide ini disponsori oleh Mas Bos yang ternyata baik hati itu. Saking baik hatinya, kita dikasi tugas khusus juga: ngasi private lesson ke 3 orang mahasiswa yang menurut Mas Bos bahasa inggrisnya paling kacau. Private lessonnya seminggu sekali dan dimulai jam 4 sore, setelah mereka selesai mengikuti semua kegiatan akademiknya. Artinya lembur lagi pemirsaaaa.

Waktu itu sih saya iya-iyain aja biar gampang. Secara nggak ada satupun proker kita yang disetujui sama Mas Bos. Yah, he’s kind of a perfectionist one, satu per satu proker ditolak dengan alasan ini-itu. Dan si Shyba sempat ngomel-ngomel nggak jelas gara-gara saya dengan gampangnya meng-iya-kan tugas khusus ini.

Dan hari demi hari terlewati dengan mo-no-ton. Tapi saya jadi tau bahwa sebenarnya Mas Bos ini tenyata orangnya ngocol juga, Cuma mungkin dia jaim aja sama kita-kita secara posisinya dia di situ sebagai “atasan temporer” kita, atau mungkin juga karena kita orang baru dan baru kenal jadinya ngocolnya dia ke kita nggak maksimal :D. Dan gara-gara one day saya sama si Afni pas lagi di ruangan heboh berdua ngomongin twitter, akhirnya si Mas Bos nimbrung dan minta difollow. Huahahaha. Harus hati-hati kalo ngetwit nomention lagi. Dan sejak saat itu tab mention dipenuhi oleh akunnya. Kayaknya dia ta’bangka twitter. Huahahaha *oops*

Minggu terakhir KKN, kita kenal sama seorang OB di situ. Masih muda dan anak kuliahan juga. Dan ternyata dia ngocolnya sebelas dua belas sama Mas Bos. Heran deh, kenapa hal-hal yang menyenangkan baru terasa ketika periode KKN udah mau abis. Rasanya tuh kayak lagi nonton film Bollywood. Tawurannya udah mau selesai, Inspektur Vijay nya baru datang. Zzzzzzzzz.

***

Empat puluh hari terlewati (minus hari sabtu-minggu karena libur, minus juga bolos-bolosnya kita 😀 ). Empat puluh hari yang bikin nyesek pada awalnya, tapi mengesankan di akhir. Terima kasih untuk Om Bos, Pak Bos dan Mas Bos yang bersedia “menampung” kami yang labil ini, terima kasih untuk traktiran-traktiran makan siangnya di kantin, terima kasih untuk nilai yang sangat memuaskan yang diberikan kepada kami, terima kasih untuk semuanya 🙂

KKN (Kuliah Kerja Nyantai) – 3

Hari Ke tiga dan seterusnya sampai sekitar seminggu lebih kami masih dilanda kebetean luaaarrr biasa. Di lubuk hati yang terdalam pun mulai muncul sebuah penyesalan kenapa akhirnya kami KKN di sini. Tapi yah mau gimana lagi, nasi sudah terlanjur menjadi bubur, tinggal ditambahin ayam, bawang goreng, sambel sama kerupuk aja, jadi deh bubur ayam.

Om bos jarang datang ke kantor, kalaupun datang, palingan cuma sebentar trus pergi lagi. Pak Bos sehari-hari asik berkutat di depan laptopnya dan sayup-sayup terdengar dari dalam tempat nongkrong kami (baca: lab) playlist lagu-lagu jadul yang itu-itu saja berulang-ulang.

Hari entah ke berapa tepatnya hari Jumat, kami dapat instruksi dari Mas Bos lewat temannya yang berkantor di Gedung Kepegawaian untuk meng-handle ekskul yang diadakan setiap jumat sore. Sempat keder juga karena yang bakalan dihadapi ini mahasiswa juga, tapi nekat-nekat aja lah mengingat saya pernah beberapa kali mengahandle english meeting club discussion. Yasudahlah, dijalani saja walaupun itu artinya kami bertiga harus lembur sampai menjelang maghrib. Dari pada cuma ongkang-ongkang kaki seharian kan?

Dan alhamdulillah ekskul sore itu berjalan lancar walaupun saya harus menghandle satu kelas sendirian sementara dua teman saya itu berkonspirasi untuk menghandle satu kelas berdua.

Hari-hari berikutnya kami mulai pindah tempat nongkrong ke ruangannya para Bos. Nyesek banget tau nongkrong di lab yang nggak ada hiburan sama sekali dan diawasi CCTV. Tapi seruangan sama Pak Bos juga bukan ide yang cemerlang banget. Masa iya ada gitu tinggal seruangan selama jam kantor tapi interaksinya dikiiiiitttt banget 😥

***

Hari Kedatangan Mas Bos

Kalau nggak salah waktu itu hari senin. Dan kayaknya hari itu saya terlambat (lagi) masuk kantor. Afni dan Shyba udah nongkrong duluan di lab. Mereka langsung bisik-bisik ngabarin kalau Mas Bos (yang selama ini kami nanti-nantikan dan harap-harapkan untuk bisa mengubah nasib kami yang membosankan di lab ini) udah masuk kator. Cuma waktu itu dia lagi ke luar ruangan jadi pas saya masuk saya nggak ketemu.

Saya makin penasaran dong kayak apa wujudnya si Mas Bos ini. Nggak lama, dia masuk ruangan dan langsung duduk anteng mantengin laptop di kursinya (kita bertiga ngintip-ngintip dari jendela). Ternyata dia beneran masih muda, umurnya sekitaran… mungkin belom kepala 3. Pake kacamata (tipe cowok gue banget 😉 ), agak putih, badannya proporsional, dari jarak pandang saya waktu itu sih mukanya biasa aja dan model rambutnya agak cupu *oops, sori bos 😀 *

Kami bertiga udah menggantungkan harapan sama dia bahwa dia bisa ngubah nasib kami yang cukup suram selama seiminggu lebih di lab ini. Etapi kok sampe siang menjelang sore dia kagak nyamperin juga? Nggak ada acara kenalan pula! Walaupun kemarinnya saya sama dia sempet kenalan and ngobrol basa-basi di Line, tapi kan kurang afdol kalo nggak kenalan langsung.

Fix, hari itu kami kecewa sama Mas Bos, ternyata quote “the more you hope, the more you’ll get hurt” yang bertebaran di dunia maya itu benar adanya. Kami ngarep kehadiran Mas Bos bakal ngasih pencerahan di hari-hari kami yang suram itu cuma harapan semata. Saking kecewanya sampai-sampai waktu itu saya ngetwit nomention yang isinya gini:

Ada atau tidak adanya kamu itu sama!

Untungnya waktu itu kita belum saling follow di twitter.

Tapi ternyata hari-hari berikutnya mulai berbeda. Pepatah yang sudah kita kenal dari jaman SD “tak kenal maka tak sayang” itu ternyata benar adanya.

*bersambung ke part 4*

KKN (Kuliah Kerja Nyantai) – 2

Hari pertama KKN

Hari pertama KKN diiringi dengan perasaan dumba-dumba nggak karuan. Gimana enggak, ini pengalaman KKN pertama dalam hidup. Belum apa-apa udah kebayang bosnya ganteng baik nggak ya? Suasananya nyaman nggak ya? Trus ntar kita disuruh ngapain aja ya?

Pagi-pagi jam setengah 8-an kita udah nyampe lokasi. Dan berhubung waktu itu hari senin, kita sempat ‘menyaksikan’ upacara bendera segala.

Oke, skip. Itu nggak penting-penting amat buat diceritakan.

Kami bertiga langsung menuju lokasi yang akan menjadi “tempat gahul” kita selama 40 hari ke depan. Tepatnya di Unit Bahasa. Gedung ini terdiri dari 2 ruangan. Ruangan pertama, “tempat nongkrongnya” para bos di sini. FYI, ada 3 orang yang menempati ruangan ini. Sebut saja Pak Bos, Om Bos, dan Mas Bos. Ruangan kedua adalah murni laboratorium bahasa yang dilengkapi dengan CCTV mamen!

Hari pertama kami cuma ketemu sama Pak Bos dan Om Bos. Awalnya saya mengira kepala unitnya di sini Pak Bos, tapi saya salah besar pemirsa. Justru kepala unitnya adalah Om Bos yang gayanya justru nggak bossy dan gahul juga bo.. Beliau ngantornya pake moge!

Trus apa kabarnya Mas Bos? Setelah nanya basa-basi kesana kemari, ternyata Mas Bos lagi Diklat di Jakarta. Eerrrr.

Sebenarnya saya penasaran juga sih kayak apa tampangnya Mas Bos ini. Menurut kesaksian Afni dan Shyba yang udah pernah ketemu sekali sama dia, katanya sih dia masih muda dan lumayan ganteng. Macaciiiiihhhh…?

Dan ketika saya sempat lihat fotonya yang terpampang di meja kerjanya, ternyata mukanya BIASA AJA. Pada awalnya loh ya. Pada awalnya.

Oke, cukup untuk perkenalan Trio Bos ini.

Hari pertama KKN ternyata sangat membosankan. Nggak ada seorangpun di antara kami yang bawa laptop waktu itu. Hidup terasa hambar kayak sambel terasi nggak pake terasi. Kami cuma nongkrong di lab and did nothing. Nothing yang berhubungan dengan kerjaan kantor tentunya. Kalo ngerjain hal-hal yang lain sih udah. Contohnya, ngegosip, curhat-curhat nggak jelas, telponan sama pacar (waktu itu masih jadi korban LDR), main line pop sampe poge malah.

Sampe akhirnya kita ngelakuin random thing like this..

1370574415714

Hari ke dua KKN.

Rumor yang beredar di kalangan mahasiswa tingkat akhir bahwa peserta KKN Profesi itu kerjanya cuma disuruh-suruh bikin kopi itu cuma isapan jempol belaka pemirsa. Di kantor ini, setiap pagi kopi sudah tersedia di meja Pak Bos sebelum kami datang. Bahkan, di mejanya Mas Bos yang jelas-jelas orangnya lagi di Jakarta aja setiap pagi ada segelas teh hangat dan air putih.

Hari ke dua kami masih ongkang-ongkang kaki karena kita belum bikin program apapun. Bedanya, saya mulai berinisiatif unruk bawa laptop biar bisa nyambi nyicil ngerjain laporan. Tapi yang terjadi malah itu laptop kita pake nonton drama korea dan dipake Shyba buat main Onet. Zzzzzz

*Bersambung*

KKN (Kuliah Kerja Nyantai)

Akhirnya bulan februari kemareeen saya memasuki tahap yang cukup sakral bagi mahasiswa tingkat agak akhir, yaitu KKN. Di jurusan saya cuma ada 2 jenis KKN, yaitu KKN Reguler dan KKN Profesi. Pasti udah pada tau dong ya bedanya kedua jenis KKN ini?

Sebenarnya, di lubuk hati saya yang terdalam, saya mendambakan mengikuti KKN reguler saja. Nggak tahu kenapa, saya cuma INGIN. Pingin aja merasakan 40 hari tinggal di kampungnya orang. Pingin merasakan suasana baru, suasana pedesaan (padahal dari desa juga sih sebenarnya). Biar berasa lagi main di “Jika Aku Menjadi”  gitu deh.. #KemudianDitendang

Jadi ketika teman-teman seangkatan lagi galau mau ambil KKN yang mana, saya dengan mantab bilang sama mereka bahwa saya mau ambil KKN Reguler aja.. Walaupun ketiga teman dekat saya memilih KKN Profesi dan pastinya ngompor-ngomporin saya buat milih KKN Profesi juga.

Dan selama masa penuh kegalauan itu, bisik-bisik yang santer terdengar di telinga saya kurang lebih kayak gini:

Yang Pro KKN Profesi bilang gini:

Pilih KKN Profesi ma ko do’, enakki, di kantor-kantor. Sapa tau baguski kinerja ta bisa itu nanti kerja di situ nah. nah bisa jki pilih sendiri instansi yang mau dimasuki. Bisa jki PP tiap hari.

Ih bodo’nya kau mau KKN Reguler. Weeh pikirko itu, jauhko dari rumah, jauhko dari orang tuamu, jauhko dari mall. Belum lagi tinggalko di rumahnya orang, belum tentu cocokko sama yang punya rumah. Soal makan lagi nah, kah carewetko soal makanan. Lidahmu lidah Jawa, bukan lidah Makassar. Bokermu lagi, barang boker di sungai ko nanti. Cidda’ko!

Yang Pro KKN Reguler bilang gini:

Kata senior-senior yang KKN Profesi dulu sih, mereka kerjanya cuma disuruh-suruh bikin kopi, bersih-bersih, disuruh fotokopi, bikin ini itu.. Mendingan KKN Reguler deh, kita bisa mengaplikasikan ilmu yang kita dapat di kampus ke masyarakat. Kita bisa bangun dan memajukan desa.

Dan saya pun mulai terjangkit kegalauan.

Kata-kata teman-teman saya itu ada benarnya juga sih di beberapa bagian. Khususnya di bagian “makan dan boker”.

Setelah beberapa lama mengalami perdebatan batin yang cukup hebat dan juga konsultasi dengan keluarga., juga dengan pertimbangan agar bisa lulus duluan karena waktu penyelenggaraan KKN Profesi lebih duluan daripada KKN Reguler, akhirnya saya memilih KKN Profesi.

Berhubung saya pendatang dan kurang punya kenalan di instansi-instansi, maka saya menyerahkan sepenuhnya urusan KKN Profesi ini pada sahabat saya yang unyu, Afni. Kantor apapun yang akan menjadi lokasi KKN nya secara otomatis akan menjadi lokasi KKN saya juga. Pokoknya kemanapun kakinya melangkah, di situlah saya mengekor. Saya pasrah aja pokoknya. Dan selain saya, ada sahabat saya satu lagi, Shyba. Nantinya kita bertiga bakal ditempatkan satu lokasi. Ya, kami memang sering kemana-mana bertiga. Udah body hampir sama mungilnya, kemana-mana barengan, semakin lengket lah julukan trio tubies itu 😐

Dan pilihan lokasi kami jatuh pada sebuah sekolah teknik penerbangan gitu deh.. Itupun karena ada tetangganya si Afni yang kenal sama orang dalam. Mungkin agak nggak nyambung ya secara jurusan saya itu sastra inggris, lah kok KKN nya di sekolah teknik penerbangan. Tapi ternyata masih nyambung loh pemirsa! Mereka kan nantinya berkomunikasi pake bahasa inggris. Dan di sana kami ditempatkan di laboratorium bahasa. Sounds great enough sih, pada awalnya.

Pada awalnya, nah! Pada awalnya!

Tapi kayaknya segini dulu postingan saya yang cukup panjang ini. Hari-hari yang kami jalani selama masa KKN *tsaaahh* akan segera hadir di postingan berikutnya.

Kenapa Saya Jarang Ngeblog?

It’s been sooooo long since the last time I wrote on this page. *Fyuh*

So much story I wanna share, tapi nggak tau harus mulai dari mana. Terlalu banyak hal terlewatkan tanpa diabadikan ke dalam tulisan.

Kenapa saya jarang ngeblog?

Kenapa ya? Saya juga bingung kenapa. Kalau dibilang nggak ada waktu, rasanya enggak juga. We have 24 hours a day. Rasanya nggak sulit untuk meluangkan waktu barang sejam untuk menulis (walaupun harus mengurangi waktu tidur yang cuma beberapa jam 😐 )

Kalau dibilang nggak kebagian jatah make laptop, enggak juga. Kan ada hape yang udah dipasangin aplikasi yang bisa ngeblog kapanpun dan di manapun.

Nah, kalau dibilang nggak ada koneksi buat upload postingan, enggak juga. Tiap hari selama 24 jam non-stop saya dapat akses internet gratisan dari tetangga sebelah yang koneksinya lumayan kenceeeeng buat streaming sama donlot-donlot, apalagi cuma buat ngepost tulisan, it’s not a big deal.

Nah, kayaknya satu-satunya alasan saya jarang ngeblog itu karena MALAS (dan agak-agak sibuk sih). Penyakitnya orang indonesia kebanyakan sih ya. Yah walaupun malasnya saya beralasan sih *halah, teteup aja pembelaan*

Jadi bulan Februari lalu saya mulai sibuk KKN. Tapi saya ngambil KKN Profesi. Nah sambil KKN saya juga sibuk bikin proposal skripsi, berlanjut dengan seminar skripsinya juga. Terus ya gitu deh, setelah selesai KKN selama 40 hari dilanjut dengan bikin laporan KKN yang ribetnya kebangetan. Belum beres semua, saya masih harus ngurus surat ijin penelitian segala macam. But it didn’t take a long time. Nggak sampe seminggu, pertengahan Mei lalu saya udah terbang ke…. JOGJA!

Cerita tentang KKN Profesi dan mbolang penelitian di Jogja akan segera hadir di postingan berikutnya. Bersabarlah! Bersabarlah! *ya kali ada yang nyasar baca blog ini*

Yang Masih Membekas Untuk Kalian

Dear, My bestest

Rasanya baru kemarin sore saya mengenal kalian. Ketika tiba-tiba saya harus pindah sekolah, tinggal satu kos dengan kalian, beradaptasi dengan lingkungan baru saat itu.

Rasanya baru kemarin sore saya belajar bersama kalian, duduk-duduk di teras rumah kos kita sambil mencuri-curi pandang pada cowok manis anak tetangga depan rumah.

Rasanya baru kemarin sore saya berangkat ke sekolah bersama kalian, tentunya dengan keterburu-buruan karena saya selalu terlambat bangun dan mendapat giliran mandi paling akhir di antara kalian.

Rasanya baru kemarin kita pulang sekolah sama-sama, saling menunggu karena kita berada di kelas yang berbeda. Kemudian kita berlomba-lomba menebak kira-kira menu makanan apa yang dimasak oleh induk semang kita.

Rasanya baru kemarin sore kita merayakan kelulusan SMA kita, meninggalkan kebiasaan-kebiasaan labil kita pada masa itu, dan mulai merencanakan kelanjutan hidup jangka panjang kita.

Rasanya baru kemarin sore tetapi ternyata telah ada begitu banyak proses yang telah kita lalui dengan jalan kita masing-masing yang tentunya tak selalu mulus.. Menjalani hidup sebagai mahasiswa, hingga tahun lalu, saya sangat iri sekaligus termotivasi untuk segera meraih gelar Sarjana Sastra ketika melihat foto ini…

Dita Septy Wardana Kusumawati, S.Si

Dan kini, yang lebih menakjubkan adalah ketika gelar dua orang dari kalian sudah berubah menjadi seorang istri.. Benar-benar rasanya seperti baru mengenal kalian sejak kemarin sore. Dita, Devi, Nia. Betapa saya merindukan kebersamaan kita..

***

Beberapa hari lalu,  perasaan saya tiba-tiba dilingkupi rasa haru, ketika sebuah  foto masuk ke chatroom whatsapp saya, dan ternyata isinya ini..

Devi Agustina Kuswanti, Amd dan Suami

You look so beautiful Dev.. Meskipun tanpa make up pun kamu sudah cantik. Tapi kecantikanmu ini bertambah berkali kali lipat karena kamu terlihat sangat bahagia. Be a great wife, Dev.. Meskipun saya tidak bisa hadir di pernikahanmu karena jarak yang terbentang antara kita *halah*, tapi do’a saya selalu ada untuk kebaikanmu.

Pernikahanmu ini mengingatkan saya akan satu hal; kalian ingat kan ketika suatu sore kita berangan-angan membayangkan seperti apa suami kita di masa depan? Dan yang lebih menggelikan adalah ketika kita membayangkan bagaimana cara kita menyambut suami kita ketika pulang kerja. Jadi, bagaimana kamu meyambut suamimu ketika dia pulang kerja, Dev?

P.S : Saya mewek pas nulis ini, jadi kalian juga harus mewek pas baca ini :p. Love ya all 🙂

My “me” Time

Being alone is just a simple way to let bored go | @si_ucrit

And here I am. Di sebuah tempat yang tdak bisa disebut dengan kafe di jalan A.P Pettarani, Makassar. Hanya ada segelintir orang di sini, memang tempat ini tidak terlalu ramai pengunjung pada siang hari seperti ini.

I’m alone, but I’m not lonely. Saya sedang bersama semua hal yang ada di pikiran saya–kuliah, kerjaan, keluarga, teman-teman, dia, dan banyak hal–yang sebenarnya ingin saya ungkapkan degan tulisan.

Sometimes, being alone makes me feel comfort. Seperti saat ini. Dengan sekotak pisang nugget rasa cokelat putih dan A thousand years nya Christina Perri yang entah sudah berapa kali ter-repeat dari laptop saya, saya seperti bisa berpikir tentang banyak hal.

Mungkin, bagi sebagin orang, sendirian itu tidak menyenangkan. Alasannya beragam. Mulai dari merasa asing di tengah keramaian, merasa canggung menjadi pusat perhatian banyak orang karena berjalan seorang diri, dan alasan-alasan lain yang beragam. Dalam kehidupan sehari-hari di tempat saya menetap sekarang, kondisi seperti ini diistilahkan dengan solkar atau solo karir. saya juga tidak tahu asal muasal istilah yang cukup happening ini, yang jelas, istilah ini sering sekali terlontar dari teman-teman yang melihat ada seseorang yang beraktivitas sendirian, meskipun kebanyakan konteksnya bercanda.

Bagi saya, pergi sendirian ke suatu tempat dan melakukan sesuatu sendirian itu seperti refreshing. Kadang-kadang saya merasa bosan pergi ke mana-mana berramai-ramai. Tapi bukan berarti teman-teman saya membosankan. Saya hanya merasa, terkadang butuh waktu untuk sendirian saja, seperti saat ini. Melakukan hal-hal yang saya suka, mendengarkan musik yang saya suka, menuliskan apa yang ada di benak saya–karena menulis itu menyembuhkan. Dan itu membuat saya nyaman untuk sementara–sebelum saya kembali ke rutinitas semula.

Tidak perlu menunggu hingga weekend tiba untuk melakukan hal ini. Karena ketika saya merasa penat dengan rutinitas yang ada, saya tahu harus bagaimana.

*tempat ini mengingatkan saya pada kafe milik seorang teman yang dulu sering saya singgahi ketika saya ingin sendirian. Saya rindu Hot Chocolate yang tidak terlalu panas, dan saya rindu dia.