Arsip Kategori: puisi amatir

Satu Malam Lagi Bersamanya

Teringat masa kecilku

Hampir setiap malam di ruang tamu

Ayah berdansa bersama ibu

Dan kemudian berdansa denganku

 

Dia akan mengangkat tubuhku kemudian diajaknya aku berputar-putar

Hingga aku tertidur dalam gendongannya

Dalam tidurku bisa kurasakan betapa kokoh lengannya ketika menggendongku meniti tangga satu per satu menuju kamarku di lantai dua

 

Aku yang masih sangat polos waktu itu

Aku yang merasa sangat dicintai kala itu

 

Tuhan, jika aku punya satu kesempatan lagi dalam hidupku

Maka tak akan kusiakan kesempatan itu

Aku hanya ingin mengulang kenangan bersama ayah

Ketika kami berdansa di malam yang hampir mencapai puncak

Maka aku akan memilih satu lagu yang tak kan pernah berakhir

Ya, aku tak ingin tarian ini berakhir

Sungguh tak ingin

 

Tuhan, tidak kah kau lihat air mata ibuku?

Air mata kerinduan

Air mata kehilangan

Air mata pilu

Tangisan pilu yang tak sengaja kudengar dari balik pintu itu

Betapa dia ingin satu-satunya orang yang dicintainya kembali

Betapa dia ingin berdansa dengan ayah kembali

 

Seketika itu pula aku berdoa Berdoa pada-Mu

Berdoa untuknya, melebihi doa untuk diriku sendiri

 

Inilah yang selalu kuimpikan, Tuhan

Dalam setiap lelap tidurku

Kuinginkan satu malam lagi bersamanya

Berdansa kembali dengan ayah di tuang tamu itu

Hanya satu malam lagi bersamanya

Dengan lagu yang tak kan pernah berakhir

Dengan tarian yang tak akan pernah berakhir

 

*ditulis untuk #11projects11days di @nulisbuku, walaupun tidak masuk karena terlambat ngirimnya

Sepanjang Musim

Aku mencintaimu di musim durian
aku juga mencintaimu di musim kedondong
aku mencintaimu di musim mangga
aku lebih mencintaimu di musim semangka
aku mencintaimu di musim rambutan
aku juga mencintaimu di musim kelengkeng
aku mencintaimu di musim jambu air
aku juga mencintaimu di musim kawin
aku bahkan mencintaimu di musim cerai
pokoknya aku mencintaimu
di setiap musim yang ada di Indonesia

Ketika..

Ketika kaki kita menjejak lantai yang sama
ketika sendal jepit kita melangkah pada jalan yang sama
ketika kita duduk pada satu kursi yang sama, menatap layar monitor yang sama
Ketika kita duduk di jok motor yang sama, mengarungi jalan raya yang sama
ketika kita menghirup oksigen yang sama
ketika pandangan kita tertuju pada satu titik yang sama
Ketika kita menikmati ombak dan angin di pantai yang sama
ketika telingaku mendengar tawamu di sela2 ceritamu
ketika jarak kita hanya 5 jengkal saja
ketika itu pula aku merasa cukup
cukup berada pada jarak seperti ini
cukup mengagumimu seperti ini
cukup karena aku hanya berani mencintaimu dengan cara diam-diam seperti ini..