Arsip Tag: flash fiction

Biru, Jatuh Hati

“C’mon, Rey..” rajuknya setengah memaksaku bangun di minggu pagi yang cerah ini.

“Apaan sih, Nes.. Loe tau nggak sih ini masih jam delapan pagi dan hari minggu pula!” jawabku kesal dan memberikan penekanan pada kata “hari minggu”

“Iya trus kenapa kalo hari minggu? Kan minggu lalu lo udah janji mau nemenin gue ke Pangandaran

“Iya tapi kan nggak harus hari ini juga..”

“emang kenapa kalo hari ini?” tanyanya cuek dan nggak mau tahu.

“gue masih ngantuk banget, cape juga. Just so you know aja ya, sehari semalem gue nemenin Nina belanja ke Mall lengkap dengan nyalon dan segala macamnya”

“Ya siapa suruh pacaran sama shopaholic macam Nina gitu”

“Trus menurut lo, gue harus pacaran sama pantaiholic macam Lo gitu?” aku balik bertanya.

“Harusnya sih gitu.. hahaha” ujarnya percaya diri. “Udah ah, mandi gih. Lima menit lo nggak selesai mandi juga, gue dobrak tuh pintu kamar mandi” dia memaksa sambil melemparkan handuk tepat di muka ku.

“iya..iya nenek lampir” kataku sambil menyeret kakiku ke kamar mandi.

***

Pantai Pangandaran hari ini terlihat ramai. Aku duduk bersila pada batang pohon yang tumbang, memandang jauh ke laut biru. Ines menghilang entah ke mana, dia memang selalu lincah dalam banyak hal. Kucoba menikmati birunya laut yang dipadu dengan gumpalan awan putih yang membentuk kombinasi sempurna. Dan di tempat ini, sunset dan sunrise bisa terlihat di posisi yang sama.

Sebenarnya aku kurang nyaman pergi ke tempat seramai ini. kalau bukan karena sahabatku yang kalo udah ada maunya harus diturutin ini, pasti sekarang aku masih tergolek pasrah di tempat tidur akibat keliling Mall dengan Nina pacarku yang… Ah, tunggu. kenapa selalu ada perbedaan ketika sedang bersama Nina dan ketika bersama Ines?

Bersama Nina semuanya terasa monoton. membosankan. dari satu mall ke mall yang lain. dari satu butik ke butik yang lain. tapi dengan Ines, semuanya terasa berwarna, penuh kejutan. Kadang dia tiba-tiba dia membangunkanku dengan rengekan khasnya yang awalnya membuatku jengkel tapi ternyata dia membayarnya dengan rhapsody yang tak pernah kudapat dari Nina selama satu setengah tahun hubungan kami.

Seperti pagi ini, rengekan khas Ines membuatku tak bisa menolak. Karena aku tahu, akan ada kejutan yang dia berikan padaku di sini. Di pantai pangandaran ini. Dan benar saja, ketika anganku sibuk membandingkan sifat dua gadis ini, tiba-tiba Ines mengejutkanku.

“Rey!!! Bengong sih? Ngelamun jorok lu pasti!

“bawel lu” jawabku jutek.

“Ke sana yuk Rey” katanya sambil menunjuk ke satu arah dimana ada orang ramai berkerumun.

“males ah, ramai gitu di sana” jawabku ogah-ogahan

“Ayolah, Rey..” See? dia mulai melancarkan jurus rengek andalannya.

Dan sekali lagi, betapa aku tak bisa menolak permintaan sahabatku sejak SMP ini. Dan memang, Ines selalu punya cara untuk memeberiku kejutan.

“taraaaaaa… loe pasti suka ini, Rey” katanya bangga sambil tersenyum manis. Ternyata hari ini ada Pangandaran Kite Festival dan Ines sengaja memaksaku untuk melihatnya.

“wow.. this is great, Nes.. Loe tau banget dari dulu gue suka main layang-layang..”

“sengaja, sekalian nostalgia masa kecil kita. And you know what? Gue udah daftarin nama loe buat ikut festival dan gue juga udah bikinin loe layangannya. hebat kan gue? haha” ujarnya percaya diri

“Really? I love this much, Nes..”

Dan entah kenekatan dari mana  kemudian kukecup ringan pipinya. seketika wajahnya bersemu merah. sepertinya aku jatuh cinta pada sahabatku ini. Ah,bukan. bukan lagi sepertinya. tapi memang, aku telah lama jatuh hati padanya. jauh sebelum aku mengenal Nina. Bahkan jauh sebelum aku tahu apa itu cinta.

Layang-layang kami beradu Di cakrawala Pangandaran. milikku berbentuk elang dan layang-layang Ines berbentuk capung–hewan favoritnya. dan dua-duanya berwarna biru. Sebiru laut pangandaran. Sebiru cintaku yang tak pernah berani kuungkapkan pada Ines sejak sekian lama.

Selamat Ulang Tahun, Kamu

“Yup, selesai!” Ucapku riang setelah menyelesaikan goresan sketsaku kali ini. sketsa wajah seorang sahabat yang kucinta dengan diam-diam tiga tahun belakangan.

Ini adalah pertama kalinya aku membuat sketsa wajah. Tapi aku cukup puas dengan hasil sketsa yang kubuat hanya dengan waktu semalaman ini.

Hari ini dia berulang tahun yang ke dua puluh tiga. Yang artinya, hari ini umur kami sama-sama dua puluh tiga. Dia tidak akan bisa lagi mengolokku dengan panggilan “orang tua” sampai tujuh bulan ke depan hanya karena aku terlahir lebih dulu dari dia.

Aku sudah menyiapkan kejutan spesial untuknya. Kubuatkan pancake kesukaannya dengan siraman madu di atasnya, tak lupa kutambahkan kalimat “selamat tambah tua” pada pinggiran piring.

Sejak tadi malam aku sudah tidak bisa tidur. Setengah mati aku menahan jemari untuk tidak mengirimkan sms ucapan selamat ulang tahun seperti tahun-tahun sebelumnya. Aku tahu, dia pasti sedang tertawa riang bersama teman-temannya yang selalu menghadiahkan surprise party tepat pada dini hari. Sebenarnya aku juga ingin berada di sana, di tengah teman-temannya yang mengetuk pintunya tengah malam, kemudian bersama-sama menyanyikan lagu “happy birthday”, lalu entah siapa yang memulai, mereka akan saling mengoleskan krim pada kue tart itu pada wajahnya sekenanya.

***

Aku berdiri di depan pagar kostnya dengan perasaan campur aduk. Bukan karena ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di sini, tapi aku juga sibuk membayangkan reaksinya jika tiba-tiba aku berdiri di depan pintu kamarnya. Ini akan menjadi surprise untuknya.

Aku mengenakan pakaian yang lain dari biasanya, eksklusif di hari ulang tahunnya. Rok pendek selutut warna khaki, tank top hitam yang dipadu dengan luaran brokat yang juga berwarna khaki, dan terakhir sepatu flat hitam. Tak lupa rambut ikal panjangku kuikat di samping membuat penampilanku yang biasanya berantakan menjadi agak manis sore ini.

Aku nekat membuka pagar itu dengan perasaan tak menentu. Aku sudah berniat dalam hati, akan mengungkapkan perasaanku padanya yang kupendam selama tiga tahun ini, tentang bagaimana dia ada di hatiku bukan sekedar sebagai sahabat, tetapi sebagai orang yang selalu kurindukan dalam hati. Apapun resikonya, aku seharusnya sudah siap.

Kuketuk sebanyak tiga kali pintu berwarna coklet itu. jantungku berdegub lebih cepat, jauh dari ukuran normal. Tak lama, pintu terbuka. Wajah orang yang amat kusayang ini muncul. Keningnya berkerut, ada rona kaget di sana.

“surprise..!!!” kataku riang dengan senyum termanis yang pernah kupunya. Sambil menyodorkan kotak berisi pancake kesukaannya.

Dia terlihat gugup ketika menerima kotak pemberianku, seperti sedang menyembunyikan sesuatu.

“boleh masuk? Aku pengen ngomong sesuatu sama kamu” lanjutku karena dia masih terpaku di ambang pintu.

“mmm.. eh..” dia terlihat semakin gugup.

“siapa, sayang..?” Tanya seorang wanita yang tiba-tiba saja bergelayut manja di lengannya.

Jantungku seakan berhenti berdetak. Apa-apaan ini? senyumku pun perlahan menghilang dan wajahku jadi ikut-ikutan tegang.

“ehm.. iya, boleh. Masuk aja, katanya mau ngomong sesuatu. Pasti penting, ya? jawabnya masih dalam keadaan gugup.

“ng.. nggak kok, nggak penting. Cuma mau bilang, selamat ulang tahun, kamu”. Kataku dengan senyum yang kupaksakan.

Aku bergegas pergi tanpa memberikan sketsa wajah yang kubuat untuknya, dengan membawa tiga titik Kristal bening di sudut mata.