Arsip Tag: foto

Yang Tak Terhapus

Seorang teman bercerita bahwa hubungannya dengan pacar terbarunya baru saja berakhir. Saya tidak terlalu heran mendengar kabar itu lantaran track recordnya dalam hal putus nyambung cukup tinggi. Tetapi kemudian seorang teman yang lain bertanya:

“Serius? Sama yang baru-baru itu kan?”
“iya” jawabnya singkat
“Terus? Gimana tuh foto sama postingan-postingan tentang dia di blogmu?”
“Gampang, tinggal dihapus aja kan”. Jawabnya enteng.

Ya ya ya. Memang suatu hal yang sangat mudah menghapus jejak-jejak hubungan dengan mantan kekasih di social media–foto-foto, tulisan, status update–dengan sekali klik. Tapi sadarkah, bahwa ada hal yang tak kan terhapus begitu saja, entah itu pahit ataupun manis.

Adalah kenangan.

Apa Kabar Dia

Apa kabar dia yang dulu kamu sebut sebagai “miracle”?
Dia yang begitu kamu sayangi
Hingga selalu kulihat binar bahagia itu di matamu ketika kamu berkisah tentangnya
Dia yang tak ada di hari ulang tahunmu yang ke dua puluh
Hingga kamu merasa hari itu tak lengkap meskipun orang-orang terdekatmu ada di sana

Apa kabar dia yang dulu selalu kamu sapa lewat telepon genggam?
Dia yang tak jarang uring-uringan ketika satu malam saja kamu tidak menghubunginya
Dia yang membuatmu rela menempuh jarak ratusan kilometer untuk berjumpa dengannya ketika musim libur

Apa kabar dia yang dulu menjadi inspirasimu ketika belajar photoshop dan coreldraw?
Dia yang kamu utak-atik fotonya dengan berbagai efek yang telah kamu kuasai hingga membuatnya terlihat lebih menarik di matamu
Dia yang foto-fotonya kamu simpan pada sebuah album khusus pada akun jejaring sosialmu

Apa kabar dia yang dulu kamu puja dengan sejuta kata?
Yang setia kamu tunggu meski pada akhirnya jaraklah yang menjadi kambing hitam atas perpisahan kalian
Tapi dia juga yang sedikit banyak telah membakar semangatmu untuk meraih mimpi-mimpi yang mulai kamu rangkai

Lalu apa kabarmu?
Masihkah kamu menyimpan dia di hatimu?

Makassar, in the middle of April

Hai, siapa namamu?

Sore ini cerah. Secerah hatiku saat ini. Kusambar tas pinggangku di samping rak buku. Di dalamnya sudah ada sketchbook ukuran A5 yang mulai robek di pangkalnya, sebuah pensil stabilo yang baru kuraut tadi malam, dan sebuah penghapus. Sebelum meninggalkan kamar, kupatut diri sekali lagi di depan cermin. Manis. Kata orang-orang yang kenal denganku. Aku tersenyum tipis sebelum beranjak dari kamar dan kemudian segera menyambar sepeda yang sudah terparkir manis di halaman.

Danau Unhas. Begitulah orang lokal menyebutnya. Di sinilah aku berada. Hampir setiap hari aku menghabiskan waktu sore di tempat ini, tentunya jika cuaca sedang cerah. Tempat ini seakan sudah menjadi ‘tempat nongkrong’ bagiku. Meskipun aku tidak terdaftar sebagai salah satu mahasiswi di kampus merah ini, tapi who cares? Tidak ada aturan tertulis maupun tidak tertulis yang berbunyi bahwa selain mahasiswa Universitas Hasanuddin dilarang nongkrong di tempat ini.

Kuparkir sepedaku di bawah pohon yang cukup rindang, tak jauh dari bangku panjang yang biasa kutempati. Sepertinya aku selalu beruntung, karena hampir setiap sore, bangku itu selalu kosong. Mungkin karena danau di sebelah kiri ini relatif sepi dibandingkan danau yang sebelah kanan itu. Di sana selalu ramai. Entah itu mahasiswa yang duduk-duduk sambil mengerjakan tugas kuliah, ada juga yang duduk melepas lelah seusai jogging sore, ada yang memotret, bahkan aku sering menyaksikan proses pembuatan film indie di sana.

Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling danau ini. Hanya ada dua pasang kekasih yang sedang bercanda tawa. Aku sedikit kecewa karena tidak menemukan apa yang kucari. Setelah menghela nafas panjang, mataku kembali berkeliling mengitari danau ini. Berharap dia ada di balik pohon itu, atau di balik rumpun mawar di ujung sana, atau di sudut mana saja. Tetapi hanya kecewa yang kudapat.

Perlahan kukeluarkan buku sketsaku dari dalam tas. Kubuka lembar demi lembar. di lembaran awal, buku sketsaku penuh dengan gambar pemandangan di danau ini dan beberapa tempat lain. Di beberapa lembar terakhir, masih saja pemandangan di danau ini–dan seorang lelaki. Lelaki yang sudah tiga hari ini menarik perhatianku. Lelaki yang sudah tiga hari ini memberikan warna yang lain pada sketsaku. Lelaki yang kala itu sedang serius membidik kupu-kupu dengan kamera DSLRnya. Lelaki yang diam-diam kunikmati senyumnya ketika dia puas melihat display hasil foto buruannya. Lelaki yang wajahnya kuabadikan dalam beberapa gambar sketsa. Lelaki yang mungkin saja telah memperindah duniaku.

Ada rindu. Ada rindu pada sosok lelaki yang bahkan tak pernah kulihat dari jarak dekat. Ada rindu pada sosok lelaki yang bahkan mungkin menyadari kehadiranku pun tidak. Tiba-tiba jemariku seperti tergerak untuk menggambar. Membuat siluet tubuhnya dengan latar danau ini.

Meski sketsaku kali ini tidak begitu memuaskan, seperti biasa kuakhiri sketsaku dengan mencantumkan nama dan tanggal. Citra, 12 Januari 2012. Tak ingin berlama-lama lagi, segera kukayuh sepedaku. Pulang.

***

Sore ini kembali kudatangi Danau Unhas. Kucoba melupakan kekecewaanku kemarin. Kuyakinkan hatiku bahwa dia hanya seorang lelaki yang kebetulan memilih Danau Unhas sebagai tempat hunting foto. Kucoba meyakinkan hati bahwa apa yang kurasakan ini hanya ketertarikan fisik semata. Tidak lebih.

Kuhampiri bangku kosong itu dengan perasaan lebih tenang. Tapi ketenangan itu ternyata hanya berlangsung sementara. Karena kudapati sebuah amplop berwarna kuning gading yang terlihat agak tebal dan bertuliskan : untuk gadis bersepeda ungu.

Deg!
Segera kubuka amplop tanpa nama pengirim itu. Dan isinya adalah berlembar-lembar foto diriku sejak empat hari yang lalu ketika berada di danau ini yang diambil secara diam-diam oleh lelaki jangkung itu–sepertinya. Kuakui dia lihai membidik sasaran. Saking lihainya sampai aku tidak menyadari bahwa akulah yang menjadi obyek.

Aku tersenyum tak henti-henti. Dengan mata, kucari sosok lelaki pencuri hati itu di sekeliling danau ini, tidak ada. Tak putus asa, pandanganku beralih ke danau di sebelah kanan, hasilnya sama. Nihil. Ah, biarlah, begini saja aku sudah bahagia. Setidaknya dia tahu bahwa aku ada. Dan ternyata dia memperhatikanku.

Sore ini aku tak ingin menggambar. Cukup membuka-buka ulang lembaran sketsa yang ada dia di dalamnya. Sambil mengingat saat-saat aku memperhatikannya selama tiga hari lalu.

Tiba-tiba sebuah suara berat menyadarkanku dari lamunan.
“aku memperhatikanmu secara diam-diam selama empat hari ini. Sebenarnya sejak hari itu aku ingin berkenalan. Tapi rasanya aku tak tega mengganggu kamu yang sedang menggambar…”
Jantungku berdetak semakin cepat. Jauh dari ukuran normal. Dia masih ada di belakangku dan akupun rasanya tak sanggup untuk sekedar berbalik menghadapnya.
Dia kemudian beranjak mendekatiku. Duduk di samping kananku. Menoleh ke arahku.
“Hai, siapa namamu?” tanyanya sambil tersenyum.
Aku hanya diam. Kutatap wajahnya untuk sekian detik sebelum akhirnya aku beranjak dari bangku itu, menuju sepedaku dengan buru-buru. Kutinggalkan dia dengan sederet pertanyaan dan sketchbookku yang tertinggal secara tak sengaja.

Biarlah, aku hanya belum ingin dia tahu bahwa aku bisu.