Arsip Tag: kado

Selamat Ulang Tahun, Kamu

“Yup, selesai!” Ucapku riang setelah menyelesaikan goresan sketsaku kali ini. sketsa wajah seorang sahabat yang kucinta dengan diam-diam tiga tahun belakangan.

Ini adalah pertama kalinya aku membuat sketsa wajah. Tapi aku cukup puas dengan hasil sketsa yang kubuat hanya dengan waktu semalaman ini.

Hari ini dia berulang tahun yang ke dua puluh tiga. Yang artinya, hari ini umur kami sama-sama dua puluh tiga. Dia tidak akan bisa lagi mengolokku dengan panggilan “orang tua” sampai tujuh bulan ke depan hanya karena aku terlahir lebih dulu dari dia.

Aku sudah menyiapkan kejutan spesial untuknya. Kubuatkan pancake kesukaannya dengan siraman madu di atasnya, tak lupa kutambahkan kalimat “selamat tambah tua” pada pinggiran piring.

Sejak tadi malam aku sudah tidak bisa tidur. Setengah mati aku menahan jemari untuk tidak mengirimkan sms ucapan selamat ulang tahun seperti tahun-tahun sebelumnya. Aku tahu, dia pasti sedang tertawa riang bersama teman-temannya yang selalu menghadiahkan surprise party tepat pada dini hari. Sebenarnya aku juga ingin berada di sana, di tengah teman-temannya yang mengetuk pintunya tengah malam, kemudian bersama-sama menyanyikan lagu “happy birthday”, lalu entah siapa yang memulai, mereka akan saling mengoleskan krim pada kue tart itu pada wajahnya sekenanya.

***

Aku berdiri di depan pagar kostnya dengan perasaan campur aduk. Bukan karena ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di sini, tapi aku juga sibuk membayangkan reaksinya jika tiba-tiba aku berdiri di depan pintu kamarnya. Ini akan menjadi surprise untuknya.

Aku mengenakan pakaian yang lain dari biasanya, eksklusif di hari ulang tahunnya. Rok pendek selutut warna khaki, tank top hitam yang dipadu dengan luaran brokat yang juga berwarna khaki, dan terakhir sepatu flat hitam. Tak lupa rambut ikal panjangku kuikat di samping membuat penampilanku yang biasanya berantakan menjadi agak manis sore ini.

Aku nekat membuka pagar itu dengan perasaan tak menentu. Aku sudah berniat dalam hati, akan mengungkapkan perasaanku padanya yang kupendam selama tiga tahun ini, tentang bagaimana dia ada di hatiku bukan sekedar sebagai sahabat, tetapi sebagai orang yang selalu kurindukan dalam hati. Apapun resikonya, aku seharusnya sudah siap.

Kuketuk sebanyak tiga kali pintu berwarna coklet itu. jantungku berdegub lebih cepat, jauh dari ukuran normal. Tak lama, pintu terbuka. Wajah orang yang amat kusayang ini muncul. Keningnya berkerut, ada rona kaget di sana.

“surprise..!!!” kataku riang dengan senyum termanis yang pernah kupunya. Sambil menyodorkan kotak berisi pancake kesukaannya.

Dia terlihat gugup ketika menerima kotak pemberianku, seperti sedang menyembunyikan sesuatu.

“boleh masuk? Aku pengen ngomong sesuatu sama kamu” lanjutku karena dia masih terpaku di ambang pintu.

“mmm.. eh..” dia terlihat semakin gugup.

“siapa, sayang..?” Tanya seorang wanita yang tiba-tiba saja bergelayut manja di lengannya.

Jantungku seakan berhenti berdetak. Apa-apaan ini? senyumku pun perlahan menghilang dan wajahku jadi ikut-ikutan tegang.

“ehm.. iya, boleh. Masuk aja, katanya mau ngomong sesuatu. Pasti penting, ya? jawabnya masih dalam keadaan gugup.

“ng.. nggak kok, nggak penting. Cuma mau bilang, selamat ulang tahun, kamu”. Kataku dengan senyum yang kupaksakan.

Aku bergegas pergi tanpa memberikan sketsa wajah yang kubuat untuknya, dengan membawa tiga titik Kristal bening di sudut mata.

Iklan

21

21stFirst of all, thanks to Allah I’m still alive, untuk kesempatan menjalani ibadah puasa di Bulan Ramadhan ini, and of course for greatest gift given to me, yaitu diterimanya saya di Fakultas Sastra yang kuidam-idamkan sejak 3 tahun silam, walaupun sekarang di Universitas Luar Negri a.k.a swasta yang gak mboys- mboys amat, dan ini yang paling bikin shock harus pake rok!! Dengan perjuangan yang tak kenal lelah, mulai dari waktu pendaftaran yang udah mepet banget, hari terakhir dan jam terakhir, loketnya udah mau tutup. Karena sebelumnya harus muter2 dulu nyari tempat cetak foto digital yang alamak sampe masuk2 gang deket Graha Pena, belom lagi dapat omelan siraman rohani sepanjang jalan dari my beloved broda selaku driver.. Hari H pelaksanaan Tes Tulis, masih telat lagi dan sempat keder juga liat soal matematika nya. Fortunately, 15 menit terakhir sebelum lembar jawaban dikumpulkan, betapa hebatnya diriku ternyata bisa menjawab semua soal matematika yang menjadi nightmare selama jaman sekolah dulu itu tentunya dengan menghitung kancing baju! Tapi toh, akhirnya lulus juga. hahahihihihuhuhuhehehehohoho… *joget2 kegirangan.

lagee dunkz…