Arsip Tag: menulis

My “me” Time

Being alone is just a simple way to let bored go | @si_ucrit

And here I am. Di sebuah tempat yang tdak bisa disebut dengan kafe di jalan A.P Pettarani, Makassar. Hanya ada segelintir orang di sini, memang tempat ini tidak terlalu ramai pengunjung pada siang hari seperti ini.

I’m alone, but I’m not lonely. Saya sedang bersama semua hal yang ada di pikiran saya–kuliah, kerjaan, keluarga, teman-teman, dia, dan banyak hal–yang sebenarnya ingin saya ungkapkan degan tulisan.

Sometimes, being alone makes me feel comfort. Seperti saat ini. Dengan sekotak pisang nugget rasa cokelat putih dan A thousand years nya Christina Perri yang entah sudah berapa kali ter-repeat dari laptop saya, saya seperti bisa berpikir tentang banyak hal.

Mungkin, bagi sebagin orang, sendirian itu tidak menyenangkan. Alasannya beragam. Mulai dari merasa asing di tengah keramaian, merasa canggung menjadi pusat perhatian banyak orang karena berjalan seorang diri, dan alasan-alasan lain yang beragam. Dalam kehidupan sehari-hari di tempat saya menetap sekarang, kondisi seperti ini diistilahkan dengan solkar atau solo karir. saya juga tidak tahu asal muasal istilah yang cukup happening ini, yang jelas, istilah ini sering sekali terlontar dari teman-teman yang melihat ada seseorang yang beraktivitas sendirian, meskipun kebanyakan konteksnya bercanda.

Bagi saya, pergi sendirian ke suatu tempat dan melakukan sesuatu sendirian itu seperti refreshing. Kadang-kadang saya merasa bosan pergi ke mana-mana berramai-ramai. Tapi bukan berarti teman-teman saya membosankan. Saya hanya merasa, terkadang butuh waktu untuk sendirian saja, seperti saat ini. Melakukan hal-hal yang saya suka, mendengarkan musik yang saya suka, menuliskan apa yang ada di benak saya–karena menulis itu menyembuhkan. Dan itu membuat saya nyaman untuk sementara–sebelum saya kembali ke rutinitas semula.

Tidak perlu menunggu hingga weekend tiba untuk melakukan hal ini. Karena ketika saya merasa penat dengan rutinitas yang ada, saya tahu harus bagaimana.

*tempat ini mengingatkan saya pada kafe milik seorang teman yang dulu sering saya singgahi ketika saya ingin sendirian. Saya rindu Hot Chocolate yang tidak terlalu panas, dan saya rindu dia.

Iklan

Tentang Dia yang juga Mencintaimu

Dia mungil
Bahkan lebih mungil dari aku
Dia manis dengan dua gigi gingsulnya
Dia selalu terlihat ceria
Dan dia juga mencintai kamu, sama seperti aku

Dia mulai suka menulis
Diam-diam aku menjadi “silent reader”nya
Yah, sama seperti aku, dia juga menulis tentang kamu
Tentang bagaimana kamu tetap terlihat manis di matanya ketika kamu baru bangun tidur
Tentang bagaimana dia diam-diam mengagumi kamu dari balik tirai jendela kamarnya

Aku tidak mengenalnya
Mungkin juga dia tidak mengenalku
Aku hanya beberapa kali bertemu dengannya ketika kamu datang padaku bersama dia–tanpa ada perkenalan

Tapi aku tahu dia kuat
Dia tegar
Bahkan ketika kamu memintanya untuk pergi
Dia pergi tanpa menoleh lagi
Dia tak ingin kamu melihat luka hatinya
Dia sedang berusaha menyembunyikan air matanya
Dia berusaha melupakan kamu, menghapus kamu dari hatinya
Seharusnya aku bisa belajar dari dia
Belajar untuk pergi dari hidupmu

Aku tahu dia kecewa
Dia bahkan terluka
Saat kamu bahkan tak ingin lagi mendengar namanya disebut oleh siapapun, termasuk olehku

Tapi dia baik-baik saja
Dia tak pernah merengek untuk bisa melihatmu lagi
Dia tetap ingat hari ulang tahunmu
Meskipun dia tidak bisa memberikan apa-apa untukmu
Dia tetap berdoa untuk kebaikanmu
Untuk setiap mimpi yang ingin kamu wujudkan
Untuk setiap kebahagiaan yang ingin kamu jemput
Dan dia tetap merindukan kamu, sama seperti aku

Dia tak ingin apa-apa lagi
Dia hanya ingin kamu memaafkannya