Arsip Tag: perih

Kalah

Dan sekali lagi saya harus kalah.
Pada perasaan absurd yang ternyata tak mudah diterjemahkan oleh indera.

Dan sekali lagi saya harus kalah.
Pada situasi yang seakan tak berpihak pada saya, sama sekali.
Sekalipun saya begitu ingin lari. Kemudian sembunyi.

Lalu apa bedanya?
Menikmati kekalahan itu menyelinap perlahan dalam rasa pahit. Rasa sakit. Rasa nyeri tak berujung.

Dan adakah tempat untuk sembunyi?
Untuk sekedar menunjukkan pada orang-orang di luar sana bahwa saya baik-baik saja setelah ditinggalkan bersama luka yang masih menganga.

Our Official Break Up

breakupfinger

Ini adalah hari pertama our official break up [meskipun bukan our first break up]. Bisa dipastikan sepaket duka-lah yg akan setia menemani hari-hariku ke depan.

Kita telah berusaha untuk menyelamatkan hubungan yang sudah tak sehat ini, tapi kita gagal. So, what can we do? You’ve made a great decision between us. So what can I do? Hanya bisa menyesali kebodohan dalam tangis. Dengan diam-diam. Dalam diam. That’s it. But don’t worry, I’ll be okay. Meskipun semuanya tak akan lagi sama tanpamu.

Inilah saatnya menjadi dewasa. Dalam kata, dalam sikap. Tak ada lagi ruang untuk bermanja-manja. Semuanya akan sangat bebeda sekarang. This pain is so hard to bear, but I believe I can make it through.

Sekarang aku memang jatuh, dan aku sedang ingin menikmati perih ini. Perih yang kuciptakan sendiri. Tapi aku yakin ketika aku bangkit nanti, I’ll be stronger. More than I ever be.

Well, ternyata inilah jawaban atas do’a yang kupanjatkan di setiap sujud terakhirku sebulan belakangan. Keikhlasan untuk melepaskanmu sebagaimana keikhlasanmu melepaskanku. Walau berat untukmu, dan sangat berat untukku. Tapi yakinlah Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita.

Terimakasih, untuk menyayangiku tanpa batas, mencintaiku tanpa alasan.

PS : You Know I Love You Still.