Arsip Tag: rindu

Seharusnya

Seharusnya tidak ada ragu untuk sekedar berkata “iya” atau “tidak”. Seharusnya tidak ada waktu yang kita ulur lebih lama. Seharusnya kita tidak perlu saling menunggu. Seharusnya tidak ada sekat yang membatasi kita untuk saling mengisi. Seharusnya tidak ada rindu yang berlalu dengan sia-sia. Seharusnya tidak ada tawa yang menjelma air mata. Seharusnya tidak ada celah untuk saling menyakiti meski dengan cara terhalus sekalipun. Seharusnya tidak ada sesal yang mengendap di sudut hati atas apa yang telah terlewati.

Seharusnya tidak ada kata “seharusnya”.

Yang Masih Membekas Untuk Kalian

Dear, My bestest

Rasanya baru kemarin sore saya mengenal kalian. Ketika tiba-tiba saya harus pindah sekolah, tinggal satu kos dengan kalian, beradaptasi dengan lingkungan baru saat itu.

Rasanya baru kemarin sore saya belajar bersama kalian, duduk-duduk di teras rumah kos kita sambil mencuri-curi pandang pada cowok manis anak tetangga depan rumah.

Rasanya baru kemarin sore saya berangkat ke sekolah bersama kalian, tentunya dengan keterburu-buruan karena saya selalu terlambat bangun dan mendapat giliran mandi paling akhir di antara kalian.

Rasanya baru kemarin kita pulang sekolah sama-sama, saling menunggu karena kita berada di kelas yang berbeda. Kemudian kita berlomba-lomba menebak kira-kira menu makanan apa yang dimasak oleh induk semang kita.

Rasanya baru kemarin sore kita merayakan kelulusan SMA kita, meninggalkan kebiasaan-kebiasaan labil kita pada masa itu, dan mulai merencanakan kelanjutan hidup jangka panjang kita.

Rasanya baru kemarin sore tetapi ternyata telah ada begitu banyak proses yang telah kita lalui dengan jalan kita masing-masing yang tentunya tak selalu mulus.. Menjalani hidup sebagai mahasiswa, hingga tahun lalu, saya sangat iri sekaligus termotivasi untuk segera meraih gelar Sarjana Sastra ketika melihat foto ini…

Dita Septy Wardana Kusumawati, S.Si

Dan kini, yang lebih menakjubkan adalah ketika gelar dua orang dari kalian sudah berubah menjadi seorang istri.. Benar-benar rasanya seperti baru mengenal kalian sejak kemarin sore. Dita, Devi, Nia. Betapa saya merindukan kebersamaan kita..

***

Beberapa hari lalu,  perasaan saya tiba-tiba dilingkupi rasa haru, ketika sebuah  foto masuk ke chatroom whatsapp saya, dan ternyata isinya ini..

Devi Agustina Kuswanti, Amd dan Suami

You look so beautiful Dev.. Meskipun tanpa make up pun kamu sudah cantik. Tapi kecantikanmu ini bertambah berkali kali lipat karena kamu terlihat sangat bahagia. Be a great wife, Dev.. Meskipun saya tidak bisa hadir di pernikahanmu karena jarak yang terbentang antara kita *halah*, tapi do’a saya selalu ada untuk kebaikanmu.

Pernikahanmu ini mengingatkan saya akan satu hal; kalian ingat kan ketika suatu sore kita berangan-angan membayangkan seperti apa suami kita di masa depan? Dan yang lebih menggelikan adalah ketika kita membayangkan bagaimana cara kita menyambut suami kita ketika pulang kerja. Jadi, bagaimana kamu meyambut suamimu ketika dia pulang kerja, Dev?

P.S : Saya mewek pas nulis ini, jadi kalian juga harus mewek pas baca ini :p. Love ya all 🙂

Apa Kabar Dia

Apa kabar dia yang dulu kamu sebut sebagai “miracle”?
Dia yang begitu kamu sayangi
Hingga selalu kulihat binar bahagia itu di matamu ketika kamu berkisah tentangnya
Dia yang tak ada di hari ulang tahunmu yang ke dua puluh
Hingga kamu merasa hari itu tak lengkap meskipun orang-orang terdekatmu ada di sana

Apa kabar dia yang dulu selalu kamu sapa lewat telepon genggam?
Dia yang tak jarang uring-uringan ketika satu malam saja kamu tidak menghubunginya
Dia yang membuatmu rela menempuh jarak ratusan kilometer untuk berjumpa dengannya ketika musim libur

Apa kabar dia yang dulu menjadi inspirasimu ketika belajar photoshop dan coreldraw?
Dia yang kamu utak-atik fotonya dengan berbagai efek yang telah kamu kuasai hingga membuatnya terlihat lebih menarik di matamu
Dia yang foto-fotonya kamu simpan pada sebuah album khusus pada akun jejaring sosialmu

Apa kabar dia yang dulu kamu puja dengan sejuta kata?
Yang setia kamu tunggu meski pada akhirnya jaraklah yang menjadi kambing hitam atas perpisahan kalian
Tapi dia juga yang sedikit banyak telah membakar semangatmu untuk meraih mimpi-mimpi yang mulai kamu rangkai

Lalu apa kabarmu?
Masihkah kamu menyimpan dia di hatimu?

Makassar, in the middle of April

Tentang Dia yang juga Mencintaimu

Dia mungil
Bahkan lebih mungil dari aku
Dia manis dengan dua gigi gingsulnya
Dia selalu terlihat ceria
Dan dia juga mencintai kamu, sama seperti aku

Dia mulai suka menulis
Diam-diam aku menjadi “silent reader”nya
Yah, sama seperti aku, dia juga menulis tentang kamu
Tentang bagaimana kamu tetap terlihat manis di matanya ketika kamu baru bangun tidur
Tentang bagaimana dia diam-diam mengagumi kamu dari balik tirai jendela kamarnya

Aku tidak mengenalnya
Mungkin juga dia tidak mengenalku
Aku hanya beberapa kali bertemu dengannya ketika kamu datang padaku bersama dia–tanpa ada perkenalan

Tapi aku tahu dia kuat
Dia tegar
Bahkan ketika kamu memintanya untuk pergi
Dia pergi tanpa menoleh lagi
Dia tak ingin kamu melihat luka hatinya
Dia sedang berusaha menyembunyikan air matanya
Dia berusaha melupakan kamu, menghapus kamu dari hatinya
Seharusnya aku bisa belajar dari dia
Belajar untuk pergi dari hidupmu

Aku tahu dia kecewa
Dia bahkan terluka
Saat kamu bahkan tak ingin lagi mendengar namanya disebut oleh siapapun, termasuk olehku

Tapi dia baik-baik saja
Dia tak pernah merengek untuk bisa melihatmu lagi
Dia tetap ingat hari ulang tahunmu
Meskipun dia tidak bisa memberikan apa-apa untukmu
Dia tetap berdoa untuk kebaikanmu
Untuk setiap mimpi yang ingin kamu wujudkan
Untuk setiap kebahagiaan yang ingin kamu jemput
Dan dia tetap merindukan kamu, sama seperti aku

Dia tak ingin apa-apa lagi
Dia hanya ingin kamu memaafkannya

Hai, siapa namamu?

Sore ini cerah. Secerah hatiku saat ini. Kusambar tas pinggangku di samping rak buku. Di dalamnya sudah ada sketchbook ukuran A5 yang mulai robek di pangkalnya, sebuah pensil stabilo yang baru kuraut tadi malam, dan sebuah penghapus. Sebelum meninggalkan kamar, kupatut diri sekali lagi di depan cermin. Manis. Kata orang-orang yang kenal denganku. Aku tersenyum tipis sebelum beranjak dari kamar dan kemudian segera menyambar sepeda yang sudah terparkir manis di halaman.

Danau Unhas. Begitulah orang lokal menyebutnya. Di sinilah aku berada. Hampir setiap hari aku menghabiskan waktu sore di tempat ini, tentunya jika cuaca sedang cerah. Tempat ini seakan sudah menjadi ‘tempat nongkrong’ bagiku. Meskipun aku tidak terdaftar sebagai salah satu mahasiswi di kampus merah ini, tapi who cares? Tidak ada aturan tertulis maupun tidak tertulis yang berbunyi bahwa selain mahasiswa Universitas Hasanuddin dilarang nongkrong di tempat ini.

Kuparkir sepedaku di bawah pohon yang cukup rindang, tak jauh dari bangku panjang yang biasa kutempati. Sepertinya aku selalu beruntung, karena hampir setiap sore, bangku itu selalu kosong. Mungkin karena danau di sebelah kiri ini relatif sepi dibandingkan danau yang sebelah kanan itu. Di sana selalu ramai. Entah itu mahasiswa yang duduk-duduk sambil mengerjakan tugas kuliah, ada juga yang duduk melepas lelah seusai jogging sore, ada yang memotret, bahkan aku sering menyaksikan proses pembuatan film indie di sana.

Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling danau ini. Hanya ada dua pasang kekasih yang sedang bercanda tawa. Aku sedikit kecewa karena tidak menemukan apa yang kucari. Setelah menghela nafas panjang, mataku kembali berkeliling mengitari danau ini. Berharap dia ada di balik pohon itu, atau di balik rumpun mawar di ujung sana, atau di sudut mana saja. Tetapi hanya kecewa yang kudapat.

Perlahan kukeluarkan buku sketsaku dari dalam tas. Kubuka lembar demi lembar. di lembaran awal, buku sketsaku penuh dengan gambar pemandangan di danau ini dan beberapa tempat lain. Di beberapa lembar terakhir, masih saja pemandangan di danau ini–dan seorang lelaki. Lelaki yang sudah tiga hari ini menarik perhatianku. Lelaki yang sudah tiga hari ini memberikan warna yang lain pada sketsaku. Lelaki yang kala itu sedang serius membidik kupu-kupu dengan kamera DSLRnya. Lelaki yang diam-diam kunikmati senyumnya ketika dia puas melihat display hasil foto buruannya. Lelaki yang wajahnya kuabadikan dalam beberapa gambar sketsa. Lelaki yang mungkin saja telah memperindah duniaku.

Ada rindu. Ada rindu pada sosok lelaki yang bahkan tak pernah kulihat dari jarak dekat. Ada rindu pada sosok lelaki yang bahkan mungkin menyadari kehadiranku pun tidak. Tiba-tiba jemariku seperti tergerak untuk menggambar. Membuat siluet tubuhnya dengan latar danau ini.

Meski sketsaku kali ini tidak begitu memuaskan, seperti biasa kuakhiri sketsaku dengan mencantumkan nama dan tanggal. Citra, 12 Januari 2012. Tak ingin berlama-lama lagi, segera kukayuh sepedaku. Pulang.

***

Sore ini kembali kudatangi Danau Unhas. Kucoba melupakan kekecewaanku kemarin. Kuyakinkan hatiku bahwa dia hanya seorang lelaki yang kebetulan memilih Danau Unhas sebagai tempat hunting foto. Kucoba meyakinkan hati bahwa apa yang kurasakan ini hanya ketertarikan fisik semata. Tidak lebih.

Kuhampiri bangku kosong itu dengan perasaan lebih tenang. Tapi ketenangan itu ternyata hanya berlangsung sementara. Karena kudapati sebuah amplop berwarna kuning gading yang terlihat agak tebal dan bertuliskan : untuk gadis bersepeda ungu.

Deg!
Segera kubuka amplop tanpa nama pengirim itu. Dan isinya adalah berlembar-lembar foto diriku sejak empat hari yang lalu ketika berada di danau ini yang diambil secara diam-diam oleh lelaki jangkung itu–sepertinya. Kuakui dia lihai membidik sasaran. Saking lihainya sampai aku tidak menyadari bahwa akulah yang menjadi obyek.

Aku tersenyum tak henti-henti. Dengan mata, kucari sosok lelaki pencuri hati itu di sekeliling danau ini, tidak ada. Tak putus asa, pandanganku beralih ke danau di sebelah kanan, hasilnya sama. Nihil. Ah, biarlah, begini saja aku sudah bahagia. Setidaknya dia tahu bahwa aku ada. Dan ternyata dia memperhatikanku.

Sore ini aku tak ingin menggambar. Cukup membuka-buka ulang lembaran sketsa yang ada dia di dalamnya. Sambil mengingat saat-saat aku memperhatikannya selama tiga hari lalu.

Tiba-tiba sebuah suara berat menyadarkanku dari lamunan.
“aku memperhatikanmu secara diam-diam selama empat hari ini. Sebenarnya sejak hari itu aku ingin berkenalan. Tapi rasanya aku tak tega mengganggu kamu yang sedang menggambar…”
Jantungku berdetak semakin cepat. Jauh dari ukuran normal. Dia masih ada di belakangku dan akupun rasanya tak sanggup untuk sekedar berbalik menghadapnya.
Dia kemudian beranjak mendekatiku. Duduk di samping kananku. Menoleh ke arahku.
“Hai, siapa namamu?” tanyanya sambil tersenyum.
Aku hanya diam. Kutatap wajahnya untuk sekian detik sebelum akhirnya aku beranjak dari bangku itu, menuju sepedaku dengan buru-buru. Kutinggalkan dia dengan sederet pertanyaan dan sketchbookku yang tertinggal secara tak sengaja.

Biarlah, aku hanya belum ingin dia tahu bahwa aku bisu.

Losing You

i miss the old us

Semua orang berpotensi untuk berubah, bahkan orang terdekat sekalipun. Entah itu perubahan positif maupun negatif. Dan ‘berubah’nya kamu kali ini benar-benar membuat saya shock. Bagaimana tidak, kita baru saja ber’temu kangen’ selama kurang lebih 60 menit via telepon, membicarakan apa-apa yang terjadi selama beberapa tahun perpisahan kita, menceritakan bahwa selama ini kamu masih menyimpan foto-foto kita berdua di laptopmu–dan itu membuat saya terharu, betapa jarak dan waktu tidak membuat persahabatan kita lekang–seperti juga saya yang masih menyimpan foto berdua kita dalam sebuah bingkai yang terpajang di kamar tidurku.

Kemudian beberapa hari setelahnya kamu tiba-tiba berubah. kamu seperti menjelma menjadi orang lain, orang yang sama sekali tidak saya kenal. panggilan dan pesan singkat saya mulai terabaikan–tanpa saya tahu sedikitpun alasannya.

Apapun alasan kamu menghindari saya, saya hanya ingin kamu tahu bahwa saya merasa kehilangan. Saya sudah kehilangan kamu selama beberapa tahun. Dan sekarang, di saat saya menemukan kamu kembali, di saat saya ingin kembali berbagi cerita bersama kamu, saya kembali kehilangan. Dan kali ini sangat menyakitkan.

Dan apapun alasan kamu menghindari saya, setidaknya bicara jujur tentang hal yang membuat kamu tidak nyaman akan kehadiran saya akan terkesan lebih manusiawi dibandingkan dengan diam dan terus menghindar. Setidaknya, ketika saya benar-benar harus kehilangan kamu, saya tahu dimana letak kesalahan saya.

Kamu, jika suatu saat kamu membaca tulisan ini, saya ingin kamu tahu bahwa saya merindukan kamu, merindukan kebersamaan kita di masa lalu, merindukan hal-hal yang selalu kita bagi bersama. I miss how close we used to be. Saya ingin membagi kebahagiaan saya dengan kamu. Saya ingin kamu tahu, bahwa gadis yang dulu selalu kamu jaga ini, sekarang telah memutuskan untuk melabuhkan pilihan pada satu hati. Bahwa gadis yang dulu pernah menangis di bahu kamu ini, kini telah menemukan bahu untuk bersandar.

Kamu, jika suatu saat kamu membaca tulisan ini, sesakit apapun hal yang saya rasakan sekarang, saya ingin kamu tahu bahwa selalu terbersit sebait doa untuk kebaikan kamu.

Many people come and go in my life. But there’s always a special space in my heart with you in it, and no one can replace. You, my best friend ever.

Satu Malam Lagi Bersamanya

Teringat masa kecilku

Hampir setiap malam di ruang tamu

Ayah berdansa bersama ibu

Dan kemudian berdansa denganku

 

Dia akan mengangkat tubuhku kemudian diajaknya aku berputar-putar

Hingga aku tertidur dalam gendongannya

Dalam tidurku bisa kurasakan betapa kokoh lengannya ketika menggendongku meniti tangga satu per satu menuju kamarku di lantai dua

 

Aku yang masih sangat polos waktu itu

Aku yang merasa sangat dicintai kala itu

 

Tuhan, jika aku punya satu kesempatan lagi dalam hidupku

Maka tak akan kusiakan kesempatan itu

Aku hanya ingin mengulang kenangan bersama ayah

Ketika kami berdansa di malam yang hampir mencapai puncak

Maka aku akan memilih satu lagu yang tak kan pernah berakhir

Ya, aku tak ingin tarian ini berakhir

Sungguh tak ingin

 

Tuhan, tidak kah kau lihat air mata ibuku?

Air mata kerinduan

Air mata kehilangan

Air mata pilu

Tangisan pilu yang tak sengaja kudengar dari balik pintu itu

Betapa dia ingin satu-satunya orang yang dicintainya kembali

Betapa dia ingin berdansa dengan ayah kembali

 

Seketika itu pula aku berdoa Berdoa pada-Mu

Berdoa untuknya, melebihi doa untuk diriku sendiri

 

Inilah yang selalu kuimpikan, Tuhan

Dalam setiap lelap tidurku

Kuinginkan satu malam lagi bersamanya

Berdansa kembali dengan ayah di tuang tamu itu

Hanya satu malam lagi bersamanya

Dengan lagu yang tak kan pernah berakhir

Dengan tarian yang tak akan pernah berakhir

 

*ditulis untuk #11projects11days di @nulisbuku, walaupun tidak masuk karena terlambat ngirimnya

kangen.

Berawal dari facebook barumu, rindu itu datang dengan tiba-tiba

Berawal dari ketidaksengajaan, kutemukan akun barumu. Seketika rindu itu membuncah, seperti gelembung-gelembung sabun yang ditiup sekelompok anak di masa kecil. Gelembung itu terus bertebaran di atas kepalaku.

Satu per satu terbayang kejadian yang dulu pernah kita alami. Satu per satu terngiang ucapanmu yang ditangkap indera pendengarku. Satu per satu kenangan akan kebersamaan kita di masa lalu mulai memenuhi memoriku. Satu per satu, seperti flashback sebuah film layar lebar.

Jika sudah didera rindu seperti ini, tak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Mengirimkan sebuah pesan singkat yang berisikan “aku kangen” mungkin adalah sebuah ide buruk dan harus segera disingkirkan dari otak, mengingat hubungan kita yang semakin memburuk beberapa bulan belakangan.

Kangen– yang kata orang adalah sebuah manifestasi dari rasa kehilangan. Meskipun sebelum kehilangan pun, aku selalu kangen.

Kangen.
Hanya itu yang ingin kukatakan padamu saat ini.

Kangen.
Hanya itu yang kurasakan saat ini.

Semoga kamu sedang tidak kangen padaku karena kangen itu menyiksa. Seperti ini.