Arsip Tag: sekolah

KKN (Kuliah Kerja Nyantai)

Akhirnya bulan februari kemareeen saya memasuki tahap yang cukup sakral bagi mahasiswa tingkat agak akhir, yaitu KKN. Di jurusan saya cuma ada 2 jenis KKN, yaitu KKN Reguler dan KKN Profesi. Pasti udah pada tau dong ya bedanya kedua jenis KKN ini?

Sebenarnya, di lubuk hati saya yang terdalam, saya mendambakan mengikuti KKN reguler saja. Nggak tahu kenapa, saya cuma INGIN. Pingin aja merasakan 40 hari tinggal di kampungnya orang. Pingin merasakan suasana baru, suasana pedesaan (padahal dari desa juga sih sebenarnya). Biar berasa lagi main di “Jika Aku Menjadi”  gitu deh.. #KemudianDitendang

Jadi ketika teman-teman seangkatan lagi galau mau ambil KKN yang mana, saya dengan mantab bilang sama mereka bahwa saya mau ambil KKN Reguler aja.. Walaupun ketiga teman dekat saya memilih KKN Profesi dan pastinya ngompor-ngomporin saya buat milih KKN Profesi juga.

Dan selama masa penuh kegalauan itu, bisik-bisik yang santer terdengar di telinga saya kurang lebih kayak gini:

Yang Pro KKN Profesi bilang gini:

Pilih KKN Profesi ma ko do’, enakki, di kantor-kantor. Sapa tau baguski kinerja ta bisa itu nanti kerja di situ nah. nah bisa jki pilih sendiri instansi yang mau dimasuki. Bisa jki PP tiap hari.

Ih bodo’nya kau mau KKN Reguler. Weeh pikirko itu, jauhko dari rumah, jauhko dari orang tuamu, jauhko dari mall. Belum lagi tinggalko di rumahnya orang, belum tentu cocokko sama yang punya rumah. Soal makan lagi nah, kah carewetko soal makanan. Lidahmu lidah Jawa, bukan lidah Makassar. Bokermu lagi, barang boker di sungai ko nanti. Cidda’ko!

Yang Pro KKN Reguler bilang gini:

Kata senior-senior yang KKN Profesi dulu sih, mereka kerjanya cuma disuruh-suruh bikin kopi, bersih-bersih, disuruh fotokopi, bikin ini itu.. Mendingan KKN Reguler deh, kita bisa mengaplikasikan ilmu yang kita dapat di kampus ke masyarakat. Kita bisa bangun dan memajukan desa.

Dan saya pun mulai terjangkit kegalauan.

Kata-kata teman-teman saya itu ada benarnya juga sih di beberapa bagian. Khususnya di bagian “makan dan boker”.

Setelah beberapa lama mengalami perdebatan batin yang cukup hebat dan juga konsultasi dengan keluarga., juga dengan pertimbangan agar bisa lulus duluan karena waktu penyelenggaraan KKN Profesi lebih duluan daripada KKN Reguler, akhirnya saya memilih KKN Profesi.

Berhubung saya pendatang dan kurang punya kenalan di instansi-instansi, maka saya menyerahkan sepenuhnya urusan KKN Profesi ini pada sahabat saya yang unyu, Afni. Kantor apapun yang akan menjadi lokasi KKN nya secara otomatis akan menjadi lokasi KKN saya juga. Pokoknya kemanapun kakinya melangkah, di situlah saya mengekor. Saya pasrah aja pokoknya. Dan selain saya, ada sahabat saya satu lagi, Shyba. Nantinya kita bertiga bakal ditempatkan satu lokasi. Ya, kami memang sering kemana-mana bertiga. Udah body hampir sama mungilnya, kemana-mana barengan, semakin lengket lah julukan trio tubies itu 😐

Dan pilihan lokasi kami jatuh pada sebuah sekolah teknik penerbangan gitu deh.. Itupun karena ada tetangganya si Afni yang kenal sama orang dalam. Mungkin agak nggak nyambung ya secara jurusan saya itu sastra inggris, lah kok KKN nya di sekolah teknik penerbangan. Tapi ternyata masih nyambung loh pemirsa! Mereka kan nantinya berkomunikasi pake bahasa inggris. Dan di sana kami ditempatkan di laboratorium bahasa. Sounds great enough sih, pada awalnya.

Pada awalnya, nah! Pada awalnya!

Tapi kayaknya segini dulu postingan saya yang cukup panjang ini. Hari-hari yang kami jalani selama masa KKN *tsaaahh* akan segera hadir di postingan berikutnya.