Semua Ada Masanya

Tag

, , , , , , , , ,

Ada masanya kita dekat  dan saling curhat. ada masanya kita saling angkuh dan kemudian menjauh | @si_ucrit

“Semua ada masanya”. Kata salah seorang teman dekat saya yang tidak mau disebut namanya–tapi sebut saja dia Rani–ketika kami sedang duduk-duduk santai menikmati sore di sebuah restoran fastfood di Jalan A.P Pettarani.

Bukan tanpa alasan dia berkata seperti itu. Waktu itu, kami baru saja membicarakan berbagai hal ngalor-ngidul dan tiba-tiba obrolan kami saat itu adalah tentang orang-orang yang begitu cepatnya ‘berubah’ hanya karena alasan yang sepele.

Ada banyak hal yang berubah dalam kehidupan kita. Siang, malam. Kaya, miskin. Tua, muda. Sakit, sehat. Semua ada masanya.

Ada banyak orang yang datang dan pergi dalam kehidupan kita, dengan berbagai alasan. Beberapa mungkin tetap tinggal, tapi tidak sedikit juga yang tiba-tiba pergi.

Ada masanya kita dekat dengan seseorang. Misalnya seorang sahabat yang sangat dekat dengan kita tiba-tiba menjauh karena dia sudah punya pacar. Atau bahkan dia menjauh an kemudian pergi tanpa alasan. Jangan sedih, jangan kecewa. Pengalaman hidup akan mengajarkan kita bahwa hanya yang terbaik lah yang akan tetap tinggal. Pengalaman hidup juga akan mengajarkan kita bahwa semua ada masanya.

Hai, siapa namamu?

Tag

, , , , , , , , , , , ,

Sore ini cerah. Secerah hatiku saat ini. Kusambar tas pinggangku di samping rak buku. Di dalamnya sudah ada sketchbook ukuran A5 yang mulai robek di pangkalnya, sebuah pensil stabilo yang baru kuraut tadi malam, dan sebuah penghapus. Sebelum meninggalkan kamar, kupatut diri sekali lagi di depan cermin. Manis. Kata orang-orang yang kenal denganku. Aku tersenyum tipis sebelum beranjak dari kamar dan kemudian segera menyambar sepeda yang sudah terparkir manis di halaman.

Danau Unhas. Begitulah orang lokal menyebutnya. Di sinilah aku berada. Hampir setiap hari aku menghabiskan waktu sore di tempat ini, tentunya jika cuaca sedang cerah. Tempat ini seakan sudah menjadi ‘tempat nongkrong’ bagiku. Meskipun aku tidak terdaftar sebagai salah satu mahasiswi di kampus merah ini, tapi who cares? Tidak ada aturan tertulis maupun tidak tertulis yang berbunyi bahwa selain mahasiswa Universitas Hasanuddin dilarang nongkrong di tempat ini.

Kuparkir sepedaku di bawah pohon yang cukup rindang, tak jauh dari bangku panjang yang biasa kutempati. Sepertinya aku selalu beruntung, karena hampir setiap sore, bangku itu selalu kosong. Mungkin karena danau di sebelah kiri ini relatif sepi dibandingkan danau yang sebelah kanan itu. Di sana selalu ramai. Entah itu mahasiswa yang duduk-duduk sambil mengerjakan tugas kuliah, ada juga yang duduk melepas lelah seusai jogging sore, ada yang memotret, bahkan aku sering menyaksikan proses pembuatan film indie di sana.

Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling danau ini. Hanya ada dua pasang kekasih yang sedang bercanda tawa. Aku sedikit kecewa karena tidak menemukan apa yang kucari. Setelah menghela nafas panjang, mataku kembali berkeliling mengitari danau ini. Berharap dia ada di balik pohon itu, atau di balik rumpun mawar di ujung sana, atau di sudut mana saja. Tetapi hanya kecewa yang kudapat.

Perlahan kukeluarkan buku sketsaku dari dalam tas. Kubuka lembar demi lembar. di lembaran awal, buku sketsaku penuh dengan gambar pemandangan di danau ini dan beberapa tempat lain. Di beberapa lembar terakhir, masih saja pemandangan di danau ini–dan seorang lelaki. Lelaki yang sudah tiga hari ini menarik perhatianku. Lelaki yang sudah tiga hari ini memberikan warna yang lain pada sketsaku. Lelaki yang kala itu sedang serius membidik kupu-kupu dengan kamera DSLRnya. Lelaki yang diam-diam kunikmati senyumnya ketika dia puas melihat display hasil foto buruannya. Lelaki yang wajahnya kuabadikan dalam beberapa gambar sketsa. Lelaki yang mungkin saja telah memperindah duniaku.

Ada rindu. Ada rindu pada sosok lelaki yang bahkan tak pernah kulihat dari jarak dekat. Ada rindu pada sosok lelaki yang bahkan mungkin menyadari kehadiranku pun tidak. Tiba-tiba jemariku seperti tergerak untuk menggambar. Membuat siluet tubuhnya dengan latar danau ini.

Meski sketsaku kali ini tidak begitu memuaskan, seperti biasa kuakhiri sketsaku dengan mencantumkan nama dan tanggal. Citra, 12 Januari 2012. Tak ingin berlama-lama lagi, segera kukayuh sepedaku. Pulang.

***

Sore ini kembali kudatangi Danau Unhas. Kucoba melupakan kekecewaanku kemarin. Kuyakinkan hatiku bahwa dia hanya seorang lelaki yang kebetulan memilih Danau Unhas sebagai tempat hunting foto. Kucoba meyakinkan hati bahwa apa yang kurasakan ini hanya ketertarikan fisik semata. Tidak lebih.

Kuhampiri bangku kosong itu dengan perasaan lebih tenang. Tapi ketenangan itu ternyata hanya berlangsung sementara. Karena kudapati sebuah amplop berwarna kuning gading yang terlihat agak tebal dan bertuliskan : untuk gadis bersepeda ungu.

Deg!
Segera kubuka amplop tanpa nama pengirim itu. Dan isinya adalah berlembar-lembar foto diriku sejak empat hari yang lalu ketika berada di danau ini yang diambil secara diam-diam oleh lelaki jangkung itu–sepertinya. Kuakui dia lihai membidik sasaran. Saking lihainya sampai aku tidak menyadari bahwa akulah yang menjadi obyek.

Aku tersenyum tak henti-henti. Dengan mata, kucari sosok lelaki pencuri hati itu di sekeliling danau ini, tidak ada. Tak putus asa, pandanganku beralih ke danau di sebelah kanan, hasilnya sama. Nihil. Ah, biarlah, begini saja aku sudah bahagia. Setidaknya dia tahu bahwa aku ada. Dan ternyata dia memperhatikanku.

Sore ini aku tak ingin menggambar. Cukup membuka-buka ulang lembaran sketsa yang ada dia di dalamnya. Sambil mengingat saat-saat aku memperhatikannya selama tiga hari lalu.

Tiba-tiba sebuah suara berat menyadarkanku dari lamunan.
“aku memperhatikanmu secara diam-diam selama empat hari ini. Sebenarnya sejak hari itu aku ingin berkenalan. Tapi rasanya aku tak tega mengganggu kamu yang sedang menggambar…”
Jantungku berdetak semakin cepat. Jauh dari ukuran normal. Dia masih ada di belakangku dan akupun rasanya tak sanggup untuk sekedar berbalik menghadapnya.
Dia kemudian beranjak mendekatiku. Duduk di samping kananku. Menoleh ke arahku.
“Hai, siapa namamu?” tanyanya sambil tersenyum.
Aku hanya diam. Kutatap wajahnya untuk sekian detik sebelum akhirnya aku beranjak dari bangku itu, menuju sepedaku dengan buru-buru. Kutinggalkan dia dengan sederet pertanyaan dan sketchbookku yang tertinggal secara tak sengaja.

Biarlah, aku hanya belum ingin dia tahu bahwa aku bisu.

Siput Oh Siput

Tag

, , , ,

Ini bukan tentang hewan yang ke mana-mana membawa serta rumahnya. Bukan juga tentang jaringan lambat yang orang-orang menyebutnya sebagai jaringan siput. Tapi ini tentang seorang cowok, yang beberapa bulan belakangan sering kuperhatikan gerak-geriknya. Seorang cowok yang kemudian [dari seorang teman yang juga naksir sama dia] saya ketahui bernama M. Rivaldhi Agano. Pada saat itu dia berstatus mahasiswa fakultas ekonomi jurusan akuntansi tahun 2009.

Lelaki bertubuh tinggi, tegap, berkulit putih dan berwajah agak ke-korea-an itu selalu memarkirkan yamaha vixion merahnya di parkiran fakultas sastra karena parkiran fakultas ekonomi yang selalu penuh. Karena kebiasaan saya yang hampir setiap hari setelah kuliah selalu duduk-duduk terlebih dahulu di parkiran, hampir setiap hari saya melihatnya meski hanya sekilas, dua kilas dan tiga kilas. Tapi itu cukup membuat mata saya ‘fresh’ karena di fakultas sastra sendiri, di mata saya tidak ada sosok lelaki yang ‘good-looking’. Parahnya, ternyata bukan cuma saya sendiri yang ‘naksir’ sama dia, tapi ada beberapa teman dekat saya yang juga mengaguminya. Maka tradisi nongkrong di parkiran menunggu dia pulang pun setiap hari kami lakukan. What a freak.. :)

Cowok yang tergolong pemalu ini pun sepertinya tahu gelagat kami yang sengaja menunggu dia pulang. Maka setiap dia melihat kami nongkrong di parkiran, dia sepertinya sengaja berlama-lama ngobrol dengan teman-temannya dan tidak segera mengambil motornya. Itu membuat kami semakin geregetan.

Pernah suatu hari saya sengaja memindahkan motor saya untuk parkir di samping motornya yang kebetulan kosong. Kemudian iseng saya tulis di akun twitter saya, isinya begini : “meskipun raga kita tak berdekatan, setidaknya motor kita parkir berdekatan”

Beberapa bulan lalu salah seorang teman saya nekat mengirimkan friend request di akun facebooknya. Ya berkat dia juga kami jadi tahu info-info terbaru tentang dia. Dan berita duka yang terakhir kami dengar adalah : dia pindah kampus. Hmm, kini tak ada lagi ‘pemandangan indah’ di parkiran.

Tapi naksir hanyalah sebatas naksir. Tidak ada niatan mengejarnya sebagai pacar. Karena dia terlalu high quality untuk kami yang ordinary, bisa-bisa banyak yang nikung :)

*ditulis dalam rangka meramaikan hashtag #cumanaksirunite

Losing You

Tag

, , , ,

i miss the old us

Semua orang berpotensi untuk berubah, bahkan orang terdekat sekalipun. Entah itu perubahan positif maupun negatif. Dan ‘berubah’nya kamu kali ini benar-benar membuat saya shock. Bagaimana tidak, kita baru saja ber’temu kangen’ selama kurang lebih 60 menit via telepon, membicarakan apa-apa yang terjadi selama beberapa tahun perpisahan kita, menceritakan bahwa selama ini kamu masih menyimpan foto-foto kita berdua di laptopmu–dan itu membuat saya terharu, betapa jarak dan waktu tidak membuat persahabatan kita lekang–seperti juga saya yang masih menyimpan foto berdua kita dalam sebuah bingkai yang terpajang di kamar tidurku.

Kemudian beberapa hari setelahnya kamu tiba-tiba berubah. kamu seperti menjelma menjadi orang lain, orang yang sama sekali tidak saya kenal. panggilan dan pesan singkat saya mulai terabaikan–tanpa saya tahu sedikitpun alasannya.

Apapun alasan kamu menghindari saya, saya hanya ingin kamu tahu bahwa saya merasa kehilangan. Saya sudah kehilangan kamu selama beberapa tahun. Dan sekarang, di saat saya menemukan kamu kembali, di saat saya ingin kembali berbagi cerita bersama kamu, saya kembali kehilangan. Dan kali ini sangat menyakitkan.

Dan apapun alasan kamu menghindari saya, setidaknya bicara jujur tentang hal yang membuat kamu tidak nyaman akan kehadiran saya akan terkesan lebih manusiawi dibandingkan dengan diam dan terus menghindar. Setidaknya, ketika saya benar-benar harus kehilangan kamu, saya tahu dimana letak kesalahan saya.

Kamu, jika suatu saat kamu membaca tulisan ini, saya ingin kamu tahu bahwa saya merindukan kamu, merindukan kebersamaan kita di masa lalu, merindukan hal-hal yang selalu kita bagi bersama. I miss how close we used to be. Saya ingin membagi kebahagiaan saya dengan kamu. Saya ingin kamu tahu, bahwa gadis yang dulu selalu kamu jaga ini, sekarang telah memutuskan untuk melabuhkan pilihan pada satu hati. Bahwa gadis yang dulu pernah menangis di bahu kamu ini, kini telah menemukan bahu untuk bersandar.

Kamu, jika suatu saat kamu membaca tulisan ini, sesakit apapun hal yang saya rasakan sekarang, saya ingin kamu tahu bahwa selalu terbersit sebait doa untuk kebaikan kamu.

Many people come and go in my life. But there’s always a special space in my heart with you in it, and no one can replace. You, my best friend ever.

#Goodbye November

Tag

, ,

November 2009

Jika aku harus memilih satu kata untuk mendeskripsikan kamu, maka aku akan mengucapkan satu kata : hitam. Bukan karena warna kulitmu hitam, tapi entahlah, sepertinya hanya hitamlah warna yang kamu ijinkan untuk menempel pada tubuhmu. Setidaknya, itulah kesan pertama yang aku tangkap dari awal perkenalan kita–yang ternyata tetap berlanjut hingga beberapa lama.

Kamu keren. Kamu memang keren dan selalu keren, dengan kaos hitam dan tas pinggang yang juga berwarna hitam yang selalu kamu pakai kemanapun–ke kampus, ke rumahku tengah malam kala itu, ke tempat kita biasa makan malam—selama kamu merasa nyaman dengan itu.

November 2010

Kamu keren, ketika kudapati kamu sedang merokok di balkon kamarmu, membelakangi jalan raya dan tak mempedulikan aktifitas di bawah sana. Kamu hanya berkonsentrasi pada sebatang rokok mild yang kamu hisap perlahan–dan dalam. Seakan tak peduli bahwa benda mungil itu telah menggerogoti setiap rongga parumu perlahan..

Aku sedikit bersyukur kala itu kamu berdiri membelakangi jalan raya yang lengang karena saat itu malam memang sudah hampir mencapai puncaknya. Sebab kalau tidak, kamu pasti akan mengenali aku–yang sedang memperhatikan setiap gesture-mu dari seberang jalan itu.

November 2011

Ini adalah november ketiga sejak perkenalan kita. Dan kamu terlihat semakin keren–ketika sedang serius membidik pemandangan di pantai favorit kita dengan kamera DSLR yang tergantung di lehermu. Menambah aura maskulin–yang kamu tak tahu—semakin membuatku merasa nyaman berada di dekatmu.

Kamu keren ketika mengerlingkan sebelah matamu sebagai pengganti “see you” setelah kuucapkan “thanks” ketika turun dari boncengan motormu setiap kamu mengantarku pulang. Semua hal-hal sederhana itu seolah menjadi penting dan berkesan karena bukan hanya ada ‘aku’ atau ‘kamu’ sebagai subjek, tapi ‘kita’.

Namun November kali ini adalah November yang berbeda dari dua November sebelumnya. Bagaimana tidak. Aku yang dengan segala kebodohanku telah mengubah November yang seharusnya indah ini menjadi November yang teramat sakit, seperti halnya aku telah mengubah persahabatan kita yang seharusnya indah dan baik-baik saja menjadi hancur seperti ini hanya karena sebuah perasaan sentimentil dan absurd—yang disebut cinta.

Pagi terakhir di bulan November ini, apa yang sedang kamu pikirkan? Ketika kamu bersandar di jendela kamarmu tanpa memakai baju–dengan muka kusut khas baru bangun itu. Apakah kamu sedang bersyukur atas setiap udara yang masih bisa kamu hirup sampai detik ini? Atau kamu sedang teringat akan mimpi buruk–atau bahkan mimpi indah–yang kamu alami semalaman tadi? Ataukah kamu sedang memikirkan apa yang tak sengaja terucap dari mulutku sepekan lalu?

“Aku sayang sama kamu. Bukan sekedar sebagai sahabat, tapi sebagai perempuan yang mencintai laki-laki. Salahkah?” Kalimat yang tak seharusnya kuucapkan, yang meskipun membuatku merasa lega tetapi ada imbas yang ternyata di luar dugaan.

Berkali-kali aku merutuki diri sendiri yang begitu bodohnya telah mengungkapkan padamu dengan gamblang bahwa aku memiliki rasa. Berkali-kali aku merutuki diri sendiri yang entah kenapa tak seperti dua November sebelumnya—yang bisa menahan cemburu yang menggerogoti kalbu ketika kamu bercerita tentang betapa bahagianya kamu ketika dia memeluk mesra pinggangmu dalam perjalanan kalian.

Aku pun menyadari, dengan diammu itu berarti bahwa aku telah kehilangan kamu, kehilangan november-november yang penuh kenangan tentang kita. Tiga November yang hancur hanya karena satu hari saja di November tahun ini. Dan kurasa, tak akan ada November-november berikutnya yang akan kita habiskan dengan menikmati hujan sambil berteduh di kedai kopi yang buka dua puluh empat jam itu.

Akhirnya, harus kurelakn kamu pergi—seperti perginya bulan November tahun ini.

Goodbye november. Goodbye, You.

Satu Malam Lagi Bersamanya

Tag

, , , , , ,

Teringat masa kecilku

Hampir setiap malam di ruang tamu

Ayah berdansa bersama ibu

Dan kemudian berdansa denganku

 

Dia akan mengangkat tubuhku kemudian diajaknya aku berputar-putar

Hingga aku tertidur dalam gendongannya

Dalam tidurku bisa kurasakan betapa kokoh lengannya ketika menggendongku meniti tangga satu per satu menuju kamarku di lantai dua

 

Aku yang masih sangat polos waktu itu

Aku yang merasa sangat dicintai kala itu

 

Tuhan, jika aku punya satu kesempatan lagi dalam hidupku

Maka tak akan kusiakan kesempatan itu

Aku hanya ingin mengulang kenangan bersama ayah

Ketika kami berdansa di malam yang hampir mencapai puncak

Maka aku akan memilih satu lagu yang tak kan pernah berakhir

Ya, aku tak ingin tarian ini berakhir

Sungguh tak ingin

 

Tuhan, tidak kah kau lihat air mata ibuku?

Air mata kerinduan

Air mata kehilangan

Air mata pilu

Tangisan pilu yang tak sengaja kudengar dari balik pintu itu

Betapa dia ingin satu-satunya orang yang dicintainya kembali

Betapa dia ingin berdansa dengan ayah kembali

 

Seketika itu pula aku berdoa Berdoa pada-Mu

Berdoa untuknya, melebihi doa untuk diriku sendiri

 

Inilah yang selalu kuimpikan, Tuhan

Dalam setiap lelap tidurku

Kuinginkan satu malam lagi bersamanya

Berdansa kembali dengan ayah di tuang tamu itu

Hanya satu malam lagi bersamanya

Dengan lagu yang tak kan pernah berakhir

Dengan tarian yang tak akan pernah berakhir

 

*ditulis untuk #11projects11days di @nulisbuku, walaupun tidak masuk karena terlambat ngirimnya

Tentang Rasa Syukur

Tag

, , , ,

“Kamu menuntut sesorang menjadi apa yang kamu mau, tapi kamu memaksa dia untuk menerima kamu apa adanya. It’s just not fair at all” | seorang mantan

Dalam sebuah tete a tete via telepon, seorang mantan kekasih saya berkata seperti itu. Kalimat itu seolah menampol saya. Membuat saya sadar betapa saya begitu egois dalam banyak hal.

Saya terlalu asik dengan keegoisan saya hingga saya tidak peduli apakah orang-orang yang pernah singgah dalam hati saya merasa nyaman akan keberadaan saya. Yang saya pikirkan hanyalah, saya menginginkan sosok yang sempurna di mata saya. Tanpa memikirkan apakah dia nyaman dengan saya atau tidak.

Yang selalu saya katakan adalah

“Inilah aku apa adanya. Kalo kamu sayang sama aku, pasti kamu bisa nerima aku apa adanya.”

Sounds familiar?

Di sinilah letak ketidakseimbangan itu. Saya meminta seseorang menerima saya apa adanya, tapi saya tidak bisa menerima dia apa adanya. Mungkin inilah penyebab kisah cinta saya dengan berbagai tipe manusia gampang sekali kandas. Tidak ada take and give. Yang ada hanyalah saya terus menerus menerima, tanpa berusaha memberi. Yang ada hanyalah saya terus menerus ingin dimengerti, tanpa pernah mau mengerti. Mungkin ini juga penyebab sampai sekarang saya masih belum menemukan seorang tambatan hati.

Saya sadar, bahwa ada banyak hal yang harus berubah dalam diri saya. Apalagi yang menyangkut soal hati. Saya tidak mungkin terus menerus bersikap seperti anak SMP yang masih ingin mencoba bagaimana rasanya menjalin hubungan dengan si A dan seminggu kemudian dengan si B, mengingat usia saya yang sudah dua puluh sekian, usia gadis yang -di kampung halaman saya- sudah pantas menikah.

Kemudian saya mulai meraba dan kemudian menyadari, bahwa ternyata selama ini saya kurang bersyukur. Saya kurang bersyukur atas apa yang saya miliki. Hingga ketika saya menjalin hubungan dengan seseorang, setiap hal kecil yang kurang saya suka, selalu menjadi nilai minus di mata saya. Padahal, semua orang pasti tahu akan pepatah “tak ada gading yang tak retak” maupun “nobody’s perfect”.

Lalu pada suatu malam yang lain, suatu perbincangan lewat udara dengan mantan kekasih saya. Di tengah pembicaraan kami, dia bercerita, bahwa dia pernah membaca sebuah buku yang isinya kira-kira begini :

Ada seorang guru dan seorang murid yang sedang menempuh perjalanan bersama-sama. Si murid meminta kepada gurunya: “Guru, ajarkan aku tentang kehidupan.”

Kemudian Sang Guru tersenyum dan berkata : “Jika kamu ingin tau apa itu hidup, berjalanlah lurus melewati jalan ini. Tetapi sepanjang kamu berjalan, jangan pernah kamu menoleh ke belakang, dan bawakan aku setangkai bunga yang menurutmu paling indah dan paling menarik hatimu. Aku akan menunggumu di sana.” Jawab sang guru sambil menunjuk sebuah gubuk yang terletak beberapa kilometer dari tempat mereka berpijak.

Kemudian murid itu pun berjalan dan mengikuti instruksi yang diberikan gurunya.

Tetapi sesampainya di tempat gurunya menunggu, Sang guru kaget dan bertanya: “Kenapa tidak ada satu bunga pun yang kau bawakan untukku? Apakah sepanjang perjalananmu tadi, tidak ada bunga yang menarik hatimu?”

Kemudian murid itu menjawab : “Sebenarnya ada. Ada banyak bunga yang indah, bahkan menarik hatiku. Tetapi setiap saya hampir memetiknya, saya mengurungkannya karena saya berharap  akan menemukan bunga yang lebih indah lagi di langkah saya selanjutnya. Sampai akhirnya saya sampai di gubuk ini dan tidak membawa setangkai bungapun..”

Setelah dia menyelesaikan ceritanya, seketika ulu hati saya seakan tertohok. Betapa saya selama ini telah menjadi orang yang tidak bersyukur atas apa yang saya miliki.

Tuhan itu adil. Setiap orang pasti memliki kekurangan dan kelebihan. Tentang bagaimana cara kita menyikapi setiap kekurangan yang ada pada pasangan kita, itu tergantung dari diri kita. Jika kita tidak bisa memiliki apa yang kita inginkan, kenapa kita tidak berusaha bersyukur atas apa yang telah kita dapatkan?

“We come to love not by finding a perfect person, but by learning to see an imperfect person perfectly” | unknown

Simple Things

Tag

, , ,

simple love

Simple Goodbye can make us cry. Simple Joke can make us laugh. Simple Care can make us fall in love | @TheLoveStories

Cinta itu sederhana. Sesederhana perkenalan kita. Sesederhana pertemuan demi pertemuan kita.
Kamu tahu, betapa hal yang meskipun sangat sederhana darimu bisa sangat berarti untukku. Setiap senyum yang kamu tebarkan disaat kamu membuka kaca helm standar mu. Setiap trik ‘sulap koin’ yang kamu pamerkan ketika kita bosan menunggu sesuatu. Setiap kerling matamu di akhir kalimat yang sengaja kamu gantung untuk membuatku penasaran. Setiap pesan singkatmu yang meskipun isinya cuma “ok” namun membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menghapusnya. Setiap ejekan-ejekanmu yang kemudian kubalas dengan cubitan mesra di pinggangmu. Setiap gelak tawa yang kamu hadirkan di antara senyap yang kadang menyelinap..

Ternyata jatuh cinta padamu hanya sesederhana itu.

kangen.

Tag

,

Berawal dari facebook barumu, rindu itu datang dengan tiba-tiba

Berawal dari ketidaksengajaan, kutemukan akun barumu. Seketika rindu itu membuncah, seperti gelembung-gelembung sabun yang ditiup sekelompok anak di masa kecil. Gelembung itu terus bertebaran di atas kepalaku.

Satu per satu terbayang kejadian yang dulu pernah kita alami. Satu per satu terngiang ucapanmu yang ditangkap indera pendengarku. Satu per satu kenangan akan kebersamaan kita di masa lalu mulai memenuhi memoriku. Satu per satu, seperti flashback sebuah film layar lebar.

Jika sudah didera rindu seperti ini, tak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Mengirimkan sebuah pesan singkat yang berisikan “aku kangen” mungkin adalah sebuah ide buruk dan harus segera disingkirkan dari otak, mengingat hubungan kita yang semakin memburuk beberapa bulan belakangan.

Kangen– yang kata orang adalah sebuah manifestasi dari rasa kehilangan. Meskipun sebelum kehilangan pun, aku selalu kangen.

Kangen.
Hanya itu yang ingin kukatakan padamu saat ini.

Kangen.
Hanya itu yang kurasakan saat ini.

Semoga kamu sedang tidak kangen padaku karena kangen itu menyiksa. Seperti ini.

#kamu

berawal dari main hashtag #kamu di twitter…

#kamu  itu inspirasi tanpa batas di setiap puisi amatirku

#kamu adalah nasabah dalam tabungan rinduku

#kamu itu salah satu kepingan puzzle hidupku

#kamu adalah pemeran utama dalam setiap imajiku

#kamu itu selalu tak terduga

#kamu adalah sesuatu yang sangat jauh hingga tak tersentuh

#kamu itu siluet di setiap senja yang kunikmati di jendela kamarku

#kamu itu seseorang yang nantinya akan kuhadiahi doorprize dari tabungan rinduku

#kamu itu seperti jerawat, tiba-tiba datang tapi gak ilang2

#kamu itu selalu membuatku ingin boker setiap kali melihatmu

#kamu itu.. siapa kamu? siapa aku? kamu dimana? aku dimana??

*ternyata amnesia*

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.